Friday, 17 April 2026
above article banner area

Beban Bagi Seorang Pemimpin

Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin. Keinginan itu muncul karena banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin. Selain itu, banyak hal pula yang  bisa dinikmati.  Menjadi seorang pemimpin bisa mengaktualisasikan cita-cita, pandangan, dan bahkan juga idiologisnya. Lebih dari itu, pemimpin bisa mempengaruhi  masyarakat yang sedang dipimpinnya, dan  juga mendapatkan banyak keuntungan, seperti kehormatan, prestise, fasilitas dan  lainnya.

  Namun  hal yang seringkali terlupakan, bahwa setiap pemimpin sebenarnya selalu dituntut tanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Seorang pemimpin  tidak saja harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, melainkan kebutuhan mereka yang dipimpinnya. Oleh karena itu sukses bagi seorang pemimpin, manakala ia berhasil memenuhi aspirasi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.   Dengan pandangan seperti itu, menjadi pemimpin selalu tidak mudah. Pemimpin akan dituntut oleh banyak orang dan sebisa-bisa harus dipenuhi. Beban itu menjadi lebih berat lagi  tatkala memimpin masyarakat terbuka atau demokratis seperti sekarang ini. Seorang pemimpin dihadapkan oleh kontrak atau janji yang  harus dipenuhi, sekalipun  tidak selalu mudah dilakukan.   Oleh karena itu menjadi pemimpin,  bagi  siapapun selalu dihadapkan pada beban yang amat berat dan beresiko. Apalagi pemimpin dalam skala besar, seperti pemimpin bangsa. Seringkali  orang mengkritik atas kinerja pemimpinnya. Tentu boleh saja hal itu dilakukan, tetapi semua harus tahu, bahwa tidak semua tuntutan itu bisa dipenuhi dengan mudah.    Pemimpin masyarakat terbuka dan demokratis tidak boleh melakukan sesuatu semaunya sendiri. Artinya, pemimpin pun dibatasi oleh norma, aturan, etika,  agar tidak menganggu atau justru merugikan bagi orang lain. Tidak sebagaimana pemimpin otoriter, pemimpin demokratis dibatasi oleh ketentuan, peraturan, dan bahkan  undang-undang  yang harus ditegakkan. Akhirnya, pemimpin bukan penguasa segala-galanya.   Selain itu, pemimpin bukan saja bertugas  sebagai pengambil keputusan  strategis, tetapi juga tauladan bagi mereka yang dipimpinnya. Menjadi tauladan bukan pekerjaan mudah. Padahal salah salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin ada pada katauladanan itu.      Oleh karena itu, tugas pemimpin yang utama dan pertama adalah memperbaiki dirinya sendiri. Jika ia sudah menjadi orang yang amanah, adil, jujur, dan sanggup mencintai semua, ——-artinya sudah berhasil memperbaiki dirinya sendiri, maka pemimpin itu telah  berhasil menjadi tauladan, dan akhirnya kepemimpinannya akan berhasil pula.   Beban itu memang berat, tetapi jika sifat itu berhasil disandang maka keberhasilan  lain  akan mengikutinya. Itulah sebabnya, Rasulullah sebagai seorang Nabi,  yang juga  sebagai  pemimpin umat, pada dirinya dikaruniai oleh Allah sifat-sifat mulia, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Dengan begitu,  betapapun beratnya beban itu,  maka bisa ditunaikan, hingga kepemimpinannya berhasil gemilang. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *