Terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, saya pernah mendapatkan rumusan kalimat yang sedemikian bagus. Kalimat itu berbunyi sebagai berikut. Jika kamu ingin membangun bangsamu, maka bangunlah pendidikanmu. Jika kamu ingin membangun pendidikanmu, maka awal yang kamu tempuh seharusnya adalah muliakanlah para guru-gurumu. Dalam pendidikan guru memang memiliki peran strategis. Guru harus bekerja keras untuk mengembangkan ilmunya, agar apa yang disampaikan pada murid-muridnya selalu mengikuti perkembangan zaman. Guru harus selalu menjadi tauladan bagi para murid-muridnya. Guru juga harus memberikan bimbingan, pengawasan, dan juga mengontrol para siswanya. Kehidupan guru harus total diabdikan untuk pendidikan. Sehari-hari mereka bekerja, agar para siswanya tidak sebatas lulus ujian, melainkan menjadi anak yang benar-benar baik dan pintar. Tugas itu sesungguhnya tidak ringan. Guru harus memberikan perhatian sepenuhnya terhadap tanggung jawab itu. Keberhasilan para siswa biasanya juga disandarkan pada para guru. Jika terdapat misalnya, para siswa tidak lulus ujian, atau di suatu sekolah banyak anak-anak yang berperilaku menyimpang, maka kesalahan itu akan dialamatkan kepada para gurunya. Sementara itu jika kita lihat imbalan atau kesejahteraan para guru, selama ini masih belum terlalu berlebih-lebihan. Guru masih diidentikkan dengan pegawai yang berimbalan rendah. Sehingga, muncul semacam pameo bahwa jika ada guru kaya, maka justru dianggap kurang pantas. Ada anggapan yang kurang tepat, bahwa guru semestinya berpenampilan sederhana, karena gajinya yang kurang mencukupi itu. Seolah-olah guru memang seharusnya berpenampilan sederhana itu, padahal guru, dengan posisinya itu, mestinya lebih diimuliakan. Lebih menyedihkan lagi, kadang guru kalah jika dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan di pedesaan, banyak guru yang secara ekonomis kalah dibanding dengan para pekerja di luar negeri, sekalipun pekerja itu hanya sebatas sebagai tenaga kasar. Selain lebih kaya, pekerja di luar negeri, juga lebih kaya informasi, sehingga lebih bergengsi di mata masyarakat. Akibatnya kemudian guru juga menjadi kalah berpengaruh dibanding mereka yang bekerja di luar negeri. Akhir-akhir ini memang ada upaya pemerintah untuk menaikkan kesejahteraan guru, ditempuh melalui sertifikasi, dan selanjutnya diberikan tambahan tunjangan. Hanya kebijakan tersebut tidak bisa dilakukan secara serentak. Hal itu disebabkan, program tersebut harus menjangkau sekian besar jumlah guru, sehingga memerlukan waktu beberapa tahun. Kebijakan ini, dengan persoalan itu, di lapangan ternyata juga melahirkan suasana ketidak-adilan, antara mereka yang sudah mendapatkan giliran disertifikasi dengan mereka yang belum. Beban hidup guru dengan imbalan yang tidak terlalu tinggi, memang tampak berat. Lebih-lebih adalah guru yang berstatus honorer. Mereka selain bergaji rendah juga belum jelas masa depannya. Padahal mereka itu adalah para pendidik, pengajar, dan memilkul beban dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi mendatang yang tidak ringan itu. Hal-hal seperti ini mestinya perlu mendapat perhatian lebih, palagi anggaran pendidikan sudah dinaikkan menjadi 20 % dari APBN setiap tahunnya. Memang mestinya, tatkala kita mencintai anak-anak dan generasi masa depan, maka harus juga mencintai para pendidiknya yaitu para guru-guru itu. Sementara ini, banyak di antara para guru masih harus menanggung beban hidup yang tidak ringan. Padahal, sebagaimana ungkapan di awal tulisan ini, bahwa jika bangsa ini ingin maju maka salah satu kuncinya adalah harus ada kesediaan untuk memuliakan guru. Cara memuliakan guru tentu di antaranya adalah mencukupi kebutuhan hidupnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
