Hari Rabu, tanggal 14 Oktober 2009, saya diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Palangkaraya untuk berceramah di kampusnya. Keinginan agar saya hadir di kampus itu sudah lama, tetapi baru terlaksana hari itu. Sebelumnya, Ketua STAKN Palangkaraya bersama beberapa stafnya pernah datang ke UIN Maliki Malang untuk melakukan studi banding. Saya berceramah di kampus itu tidak sendirian. Bersama saya diundang pula Pendeta Dr.Jan S. Aritonga, Ketua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, dan juga Pendeta Dr.Tomy Binti Ketua Sekolah Tinggi Teologi Banjarmasin. Fokus pembicaraan dalam diskusi atau ceramah di hadapan sivitas akademika STAKN itu adalah membahas buku tentang sejarah perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Buku itu lebih banyak menyoroti soal konflik, karena memang perjumpaan Kristen dan Islam dalam buku itu lebih banyak melihat dari aspek politik. Tanpa bermaksud keluar dari tema pembicaraan itu, saya lebih banyak mengungkap tentang pentingnya komunikasi para pimpinan perguruan tinggi berbagai agama di Indonesia. Saya merasakan bahwa terjadinya banyak konflik yang berlatar belakang agama di Indonesia, lebih banyak, ——selain dipengaruhi oleh aspek politik, disebabkan oleh faktor kesalah-pahaman di antara mereka. Selain itu, konflik menurut hemat saya merupakan fenomena sosiologis. Setiap manusia tatkala sudah berkelompok dan merasa memiliki identitas yang berbeda selalu melakukan kompetisi dan bahkan juga konflik. Saya berani mengatakan bahwa masing-masing kitab suci agama apapun tidak ada yang menganjurkan, apalagi perintah melakukan konflik di antara penganut agama yang berbeda. Semua agama memberikan bimbingan kepada umatnya agar membangun kedamaian dan saling mengasihi antar sesama. Konflik antar penganut agama yang berbeda terjadi manakala agama sudah masuk wilayah politik. Berpolitik sama halnya dengan memasuki sebuah permainan. Apa saja yang berbau permainan, apalagi permainan untuk meraih kemenangan, selalu saja diwarnai oleh cara-cara yang kurang fair untuk menjatuhkan pihak lawannya. Dalam permainan, memang selalu ada tata tertib, etika, atau aturan-aturan main yang disepakati, tetapi selalu saja dilanggar oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan kemenangan. Hal itu tidak terkecuali permainan politik yang dilakukan oleh para agamawan sekalipun. Ada hal menarik terkait dengan kehidupan keagamaan di kota itu, ialah tentang kerukunan para pemimpin agama, terutama di kalangan pimpinan kampus. Mereka saling melakukan komunikasi dan bahkan juga bekerjasama. Di kota itu ada tiga sekolah tinggi agama yang berstatus negeri, yaitu : STAIN, STAKN, dan STAHN. Acara yang sesungguhnya digelar oleh STAKN Palangkaraya itu, dihadiri oleh para pimpinan dan mahasiswa ketiga perguruan tinggi tersebut. Kerukunan dan kerjasama itu tampak misalnya dari kesediaan pimpinan STAIN Palangkaraya mengundang para pembicara termasuk ketua STAKN dan Pendeta Dr. Jan S. Aritonga ke kampusnya untuk berdialog dengan para pimpinan dan dosen. Pertemuan itu membicarakan tentang bagaimana mengembangkan perguruan tinggi agama, agar cepat maju, dan berkembang. Dalam kesempatan itu Ketua STAKN juga mengakui bahwa telah banyak belajar dari pimpinan STAIN Palangkaraya dalam menyusun rancangan anggaran yang diajukan ke Departemen Agama Pusat. Bahkan, untuk menyiapkan naskah kerjasama perguruan tinggi yang akan ditanda-tangani setelah acara diskusi, antara STAIN, STAKN, dan UIN Maliki Malang, pimpinan STAKN menyerahkan sepenuhnya pada Ketua STAIN untuk menyusun atau mempersiapkannya. Kerjasama seperti ini rasanya memang sangat diperlukan, apalagi di daerah-daerah yang masyarakatnya sangat majemuk, baik dilihat dari etnis maupun agama yang dipeluknya. Dengan adanya kerjasama dan kerukunan yang ditunjukkan oleh para pimpinan perguruan tinggi itu sekaligus memberikan contoh kongkrit kepada masyarakat, bagaimana antar pemeluk agama seharusnya saling menyapa dan bekerjasama di negeri yang memiliki semboyan Bhinaka Tunggal Ika ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
