Friday, 8 May 2026
above article banner area

Beberapa Perbedaan Ilmuwan dan Politikus

 Memang berbeda antara ilmuwan dan politikus. Ilmuwan dituntut selalu berpikir obyektif, rasional, terbuka, dan berorientasi pada benar atau salah. Sedangkan politkus, sekalipun juga harus berpikir sebagaimana cara berpikir  para ilmuwan, tetapi dalam kenyataannya, mereka terbiasa berbikir subyektif, tertutup, irrasional,  untuk mendapatkan kemenangan. Politik memang selalu berpikir  menang atau kalah.

  Seorang ilmuwan tidak mengenal kalah atau menang, tetapi benar atau salah. Tatkala  melakukan penelitian, baik di lapangan atau di laboratorium, para ilmuwan menguji hipotesisnya. Bisa jadi hipotesisnya diterima atau dianggap benar, oleh karena data yang dihasilkan mendukungnya. Demikian pula sebaliknya, hipotesisnya ditolak, karena tidak cukup data yang membenarkan hipotesisnya itu.    Ditolak atau diterima hipotesisnya,  sebagai seorang ilmuwan, mereka  tidak akan pernah merasa terganggu.  Secara pribadi,  peneliti  tidak memiliki kepentingan. Keduanya adalah  sama. Tatkala hipotesisnya diterima,  seorang ilmuwan tidak lantas  merasa hebat. Demikian pula sebaliknya,  tatkala ditolak juga tidak merasa gagal, lalu mengakibatkan kecewa.   Hasil  berpikir dan juga meneliti  bagi  seorang ilmuwan harus terbuka   untuk diuji oleh siapapun. Maka,  kerja ilmuwan  harus  obyektif, jujur,  dan rasional.  Selain itu hasil penelitiannya terbuka untuk diulang oleh ilmuwan lainnya. Data yang digunakan  juga boleh diuji oleh siapapun. Para ilmuwan tidak perlu tersinggung manakala ditemukan kekurangan atau bahkan kekeliruan. Oleh karena itu perdebatan antar para ilmuwan juga bisa dilakukan secara terbuka.   Tuntutan terhadap para ilmuwan tersebut tentu agaknya berbeda  dari   para politikus. Para politikus sehari-hari selalu berjuang untuk mendapatkan, mengelola,  dan mempertahankan kekuasaannya. Mereka selalu berorientasi pada kemenangan dan  mengindar dari kekalahan. Permainan untuk menghindari kekalahan dan atau mendapatkan kemenangan  itulah  kemudian melahirkan perilaku subyektif, tertutup, dan bahkan bisa jadi irrasional.   Untuk mengegolkan  aspirasinya,  maka  para politikus melakukan kampanye, negosiasi, deplomasi, dan bahkan juga menggerakkan massa untuk berdemonstrasi. Kita lihat misalnya, tatkala para anggota parlemen merancang atau  mengesahkan undang-undang,  yang oleh sebagian kelompok dianggap merugikan, maka terjadi  tekanan-tekanan lewat berbagai cara, baik yang lunak atau bahkan dengan cara keras. Berbagai demonstrasi  dilakukan untuk menekan pihak lawan politiknya.   Oleh karena itu dianggap  wajar tatkala  di dunia politik  terjadi permainan  untuk meraih kemenangan. Politik tidak pernah dijalankan secara lugu atau apa adanya. Oleh karena itu, politik kadang diartikan sebagai siasat, artinya adalah kegiatan yang dipenuhi oleh siasat untuk memenangkan perjuangan. Berpolitik dengan lugu dianggap lemah dan biasanya selalu kalah. Maka, orang lugu, dianggap tidak tepat masuk dunia politik.  Para politikus,  kadang tidak memerlukan obyektivitas dan bahkan juga rasionalitas.   Yang mereka perlukan adalah jumlah dukungan. Oleh karena itu, mereka yang menang adalah yang paling banyak mendapatkan dukungan itu.  Maka yang mereka lakukan  adalah berdeplomasi, negosiasi, agitasi untuk menarik perhatian dan membakar semangat,  dan sejenisnya.   Dunia ilmuwan dan dunia politik akhirnya memang berbeda. Orientasi orang-orang yang ada di kampus, —–sebagai ilmuwan,  seharusnya berbeda  dengan para politikus.  Dan,  memang harus bisa dibedakan. Akan  tetapi, antara masing-masing  harus saling memahami.  Seorang ilmuwan tidak boleh buta politik, dan demikian pula  politikus juga harus mengerti  cara kerja ilmuwan dan juga kebutuhannya.  Dalam kaitannya belajar politik,  maka di kampus,  mahasiswa diberi ruang untuk  berorganisasi, baik organisasi  intra kampus maupun ekstra kampus. Akan tetapi apapun,  tatkala berorganisasi, mahasiswa  harus tetap  berpikir dan berperilaku sebagai ilmuwan, yaitu harus  mampu   berpikir rasional, terbuka, jujur, dan obyektif. Tidak selayaknya, kampus yang dihuni oleh  para ilmuwan,  lebih terwarnai oleh kegiatan politik daripada kegiatan penelitiannya.  Apabila hal itu terjadi,  maka artinya,  sebagai warga kampus tidak bisa membedakan antara lembaga ilmiah dan lembaga politik.  Tugas pokok sebagai lembaga ilmiah adalah mencari kebenaran, dan bukan kemenangan. Antara ilmuwan dan politikus,  masing-masing memiliki orientasi yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Menyamakan  antara keduanya, maka akibatnya, orang luar yang memahami hakekat keduanya, akan tertawa, karena dinggapnya ganjil.    Selain itu, beberapa perbedaan tersebut  masih  sebatas bersifat normatif  atau berada pada tataran idialis. Sebab pada kenyataannya, ada saja orang yang seharusnya bersikap ilmiah, karena tugas-tugasnya sehari-hari adalah sebagai dosen atau mahasiswa, tetapi ternyata  masih berperilaku sebagaimana politikus. Mereka kadang masih  menggerakkan teman-temannya untuk menuntut kemenangan dengan cara berdemo. Agaknya,   memang aneh. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *