Dalam sebuah diskusi informal, seorang pimpinan perguruan tinggi agama Islam menanyakan apakah sebenarnya bekal yang harus dimiliki oleh pimpinan perguruan tinggi, agar lembaga yang dipimpinnya menjadi semakin dinamis dan maju. Pertanyaan sederhana itu disampaikan kepada saya, mungkin setelah melihat perubahan kampus yang saya pimpin, yaitu UIN Maliki Malang.
Pertanyaan itu saya jawab secara spontan, bahwa setidaknya pimpinan perguruan tinggi agama memiliki tiga bekal penting. Pertama, memiliki semangat pengembangan akademik. Betapapun perguruan tinggi adalah lembaga akademik, maka pimpinannya harus seorang yang mencintai ilmu pengetahuan. Setidak-tidaknya, ia harus suka membaca, menulis, dan menyampaikan ide-ide baru atau pandangannya kepada orang lain. Kedua, seorang pimpinan perguruan tinggi harus memiliki bekal leadership dan kemampuan managerial yang memadai. Kemampuan memimpin dan mengatur banyak orang harus dimiliki oleh seorang yang sehari-hari bertugas memajukan perguruan tinggi. Pemimpin peruruan tinggi agaknya berbeda dengan pemimpin birokrasi pemerintahan. Orang-orang yang tergabung dalam perguruan tinggi ——-dosen dan mahasiswa, adalah mereka yang sehari-hari bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan. Tugas itu akan berkembang dengan baik manakala mereka memiliki kebebasan, keterbukaan, dan keberanian. Pimpinan perguruan tinggi memimpin orang-orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Maka jangan berharap akan mendapatkan orang-orang yang selalu loyal, patuh, atau selalu menuruti kemauannya. Memimpin orang-orang yang memiliki karakiteristik bebas, terbuka, dan berani, tentu tidak selalu mudah. Pimpinan perguruan tinggi seharusnya bersedia untuk mendengarkan dan bahkan memahami berbagai pikiran dan pandangan yang berbeda-beda itu. Pikiran-pikiran baru harus diapresiasi dan bahkan dipandang sebagai sebuah kekayaan perguruan tinggi. Maka di sinilah letak perbedaan, antara kepemimpinan kampus dengan birokrasi pada umumnya. Ketiga,, memiliki kemampuan meloby. Hubungan silatturahmi untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak harus selalu dilakukan. Untuk itu maka kemampuan memahami orang, menyampaikan pendapat, gagasan, dan bahkan meyakinkan dan mempengaruhi orang menjadi sangat penting. Pimpinan perguruan tinggi agama harus berusaha mendapatkan anggaran yang cukup, tenaga yang berkualitas dan membangun jaringan kerjasama yang luas. Itu semua memerlukan kemampuan melakukan loby-loby itu. Memang mencari orang yang memiliki ketiga kemampuan tersebut secara seimbang di mana-mana tidak mudah. Seseorang yang berkemampuan akademik baik, belum tentu memiliki bekal kepemimpinan dan managerial yang cukup. Demikian pula seorang yang memiliki keduanya——leadership dan managerial, tetapi kurang cakap dalam melakukan loiby. Atau sebaliknya, ada orang yang pintar memimpin dan meloby, tetapi kemampuan akademiknya masih kurang memadai. Akhirnya perlu disadari bahwa mencari orang yang agaknya komplit, di mana-mana tidak mudah. Maka yang terpenting sebenarnya adalah, bahwa pemimpin harus tulus dan ikhlas, bersedia memberikan apa saja yang terbaik untuk lembaga pendidikan tinggi yang dipimpinnya, bersedia berkorban dan berbagi kasih sayang kepada siapapun, serta tidak menjadikan lembaga yang dipimpin untuk kepentingan pribadinya. Manakala sikap seperti itu bisa dibangun, maka ciri-ciri yang diidealkan tersebut, lama kelamaan akan tumbuh dan terbangun dengan sendirinya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
