Akhir-akhir ini yang terasa tidak mudah dilakukan adalah menjaga kerukunan. Di mana-mana terjadi perselisihan antar orang, kelompok, organisasi, hingga partai politik. Perselisihan antar orang tidak saja terjadi di kalangan rakyat biasa, tetapi juga di kalangan pejabat, dan bahkan juga pejabat tingkat atas. Perselisihan di antara partai politik lebih seru lagi. Sepertinya menjadi hal biasa di antara mereka saling menjegal dan menjatuhkan.
Contoh yang paling hangat di antara elite politik adalah konflik di antara partai kualisi. Beberapa partai tersebut sejak dibentuk kualisi selalu saja terjadi perselisihan. Berulang kali diberitakan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan yang mengganggu keutuhan kualisi. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah saling mengancam dan membela diri. Maka, yang terjadi kemudian adalah mempertahankan harga diri, gengsi, dan atau martabat partainya masing-masing. Di kalangan kelompok-kelompok agama juga begitu, tidak pernah sepi konflik. Kehadiran agama semestinya adalah untuk mewujudkan kebersamaan, menanamkan kasih sayang di antara sesama, saling menolong atau membantu dan menyelamatkan. Tetapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Muncul perasaan saling terganggu, dan akibatnya terjadi konflik. Agama hadir di muka bumi sebenarnya membawa misi untuk menyelamatkan orang. Akan tetapi misi itu ternyata tidak mudah diwujudkan. Tidak jarang terjadi konflik dipicu oleh persoalan agama. Berbeda dalam menjalankan ritual dianggap musuh atau paling tidak mengganggu. Padahal ritual yang dijalankan oleh masing-masing orang tidak akan merugikan sedikitpun bagi yang lain. Namun ternyata, perbedaan itu melahirkan rasa tidak senang dan bahkan permusuhan. Sebenarnya, suasana tidak rukun bisa saja terjadi di kalangan mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Merukunkan orang, kelompok, organisasi, dan bahkan juga antar elite selalu tidak mudah. Semua orang pernah terlibat konflik. Sekalipun seseorang sedang menasehati dan menguraikan betapa pentingnya kerukunan, bisa jadi sebelum mengakhiri nasehatnya, ia sendiri sedang terlibat konflik, atau bahkan juga sudah lama berkonlik dengan orang lain. Dalam Islam, antar orang dianjurkan selalu melakukan tolong menolong. Orang yang sedang saling bertolong menolong dalam kebaikan, maka sebenarnya ketika itu pula, mereka sekaligus telah memelihara kerukunan. Orang tidak akan saling tolong menolong manakala masing-masing tidak saling rukun. Itulah sebabnya al Qurán memerintahkan di antara sesama saling tolong menolong dalam kebaikan. Sebaliknya, tidak boleh tolong menolong itu dalam melakukan keburukan dan kejahatan. Tolong menolong tentu tidak serta merta terjadi. Tolong menolong akan terlaksana manakala di antara pihak-pihak yang terlibat telah terjadi saling mempercayai, menghargai, dan mengetahui. Maka yang diperlukan pada fase awal adalah saling mengetahui, agar berlanjut saling memahami dan kemudian lahir suasana saling menghargai dan mempercayai. Orang yang sudah saling menghargai dan mempercayai, maka akan berlanjut dengan saling tolong menolong itu. Sedemikian rumit proses terjadinya saling tolong menolong antar orang, kelompok, dan juga organisasi dalam skala besar atau pun kecil. Hal itu berbeda dengan proses terjadinya perpecahan, kadangkala terjadi secara mendadak. Seseorang yang semula seolah-olah berkawan atau memiliki hubungan yang sedemikian dekat dan erat, namun ternyata secara mendadak di antara mereka terjadi konflik atau saling bermusuhan. Akhir-akhir ini, konflik telah terjadi di mana-mana. Konflik menjadi barang murah, oleh karena sedemikian mudah ditemukan. Di dalam negeri sendiri, konflik-konflik antar partai politik, dan bahkan juga antar dan internal partai tidak pernah berhenti. Konflik juga terjadi antar lembaga negara, yakni antara eksekutif, legislative, dan yudikatif. Konflik kadang memang penting untuk mendinamisasi organisasi. Namun ketika konflik itu terjadi secara terus menerus, maka akan merugikan banyak pihak. Apalagi kalau konflik itu terjadi di kalangan para elite bangsa, maka yang paling dirugikan adalah rakyat. Oleh karena itu sebenarnya, rakyat tidak menyukai para pemimpinnya terlibat konflik terus menerus. Mereka mendambakan terjadi suasana rukun dan damai, sekalipun mahal harganya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
