Monday, 20 April 2026
above article banner area

Setelah Perintah Membaca, Al Qur’an Menyeru Agar Bangkit

Jika sesuatu yang disebut di bagian awal merupakan hal yang penting, maka ilmulah yang dianggap amat penting itu dalam al Qur’an. Karena perintah membaca, diletakkan di awal turunnya al Qur’an. Ayat pertama kali turun adalah berupa perintah, yaitu perintah membaca.

Selain menyangkut persoalan membaca, ayat-ayat yang turun di fase awal terkait dengan persoalan penciptaan, ilmu, dan pengajaran. Disebutkan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah atau al-alaq. Melalui ayat yang turun di fase awal itu, Al Qur’an menjelaskan tentang penciptaan manusia, pengajaran, dan pena sebagai alat untuk mengajar. Maka konsep yang dikandung dari ayat-ayat yang turun pada fase awal adalah perintah membaca, penciptaan, pengajaran lewat al qolam atau pena. Konsep-konsep tersebut terkait dengan ilmu dan pengajaran. Oleh karena itu, jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Islam adalah sebuah gerakan ilmu atau setidak-tidaknya bahwa pintu masuk Islam adalah melalui ilmu, adalah tepat. Sayangnya, dalam perjalanan sejarahnya, gerakan ilmu dalam Islam mengalami pasang surut dan bahkan juga kehilangan makna yang sebenarnya. Tatkala berbicara tentang ilmu, maka yang ditangkap adalah ilmu-ilmu yang terkait dengan ibadah ubudiyah. Ilmu kemudian setidak-tidaknya dikategorikan menjadi dua, yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Umat Islam kemudian cenderung menggeluti ilmu agama, dan mengabaikan ilmu umum. Sebagai akibat mengabaikan ilmu umum, maka rahasia alam dan sosial yang seharusnya dikuasai oleh umat Islam, ternyata tidak. Rahasia alam dan sosial itu digali oleh orang-orang bukan Islam. Padahal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, selalu bersumber dari penguasaan rahasia alam dan sosial itu. Akhirnya, umat Islam menjadi tertinggal dari umat lainnya. Selanjutnya, pada ayat-ayat yang turun pada fase berikutnya adalah perintah agar segera bangkit atau menyeru pada kebangkitan. Untuk menggambarkan keharusan adanya kebangkitan itu, Al Qur’an menyeru dengan sebutan al mudassir, artinya adalah orang-orang yang berselimut. Membaca kata ini, terbayang bahwa seolah-olah Muhammad saw., ketika itu menghadapi orang-orang yang terbelenggu, atau orang berselimut itu. Sebutan berselimut, menggambarkan keadaan masyarakat yang ketika itu sedang dalam keadaan pasif, terbelenggu, tidak bergerak, atau tidak ada dinamika atau kemajuan. Keadaan seperti itulah yang menjadikan al Qur’an menyeru dengan sebutan orang-orang berselimut, dan selanjutnya memerintahkan agar segera bangkit. Islam melalui ayat al Qur’an yang turun pada fase awal itu menyeru manusia agar memahami jagad raya dan segala seisinya, selanjutnya bangkit dari berbagai jenis belenggu yang menghimpitnya. Struktur masyarakat Arab ketika itu, terdiri atas berbagai kabilah. Masing-masing kabilah bersaing untuk berebut pengaruh dan kekuasaan. Mereka yang kuat menindas terhadap lemah. Orang miskin dan lemah bukannya ditolong, melainkan justru dijadikan budak. Harkat dan martabat orang diperlakukan bagaikan barang. Bisa saja orang dimiliki dan juga dijual. Anak yatim tidak diurus, demikian pula kaum perempuan tidak dihargai atau dianggap rendah. Gambaran seperti ini, masyarakat disebut dalam keadaan terbelenggu. Belenggu dalam pengertiannya seperti itu, sebenarnya memperkukuh keyakinan bahwa ayat al Qur’an selalu relevan dengan zaman dan tempat. Orang terbelenggu, atau orang-orang berselimut ternyata di mana dan kapan pun selalu ada. Bahkan manusia modern sekalipun, selalu berada pada belenggu-belenggu, atau selimut-selimutnya. Lepas dari selimut satu, maka memasuki selimut atau belenggui berikutnya yang baru. Artinya belenggu-belenggu itu selalu ada, baik yang datang dari luar, maupun belenggu yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Belenggu itu sesungguhnya beraneka ragam jenis dan bentuknya. Suatu waktu bisa berupa barang yang benar-benar berwujud dalam bentuk fisik, hingga selalu mengganggu orang bergerak, atau belenggu dalam pengertian lainnya. Yang dimaksud dengan pengertian lainnya, misalnya berupa tradisi, idiologi, peraturan, adat istiadat, pola pikir, organisasi, tempat tinggal dan bahkan hal lain yang lebih luas dari itu. Dalam bentuk pola pikir, belenggu itu bisa dilihat dari orang atau sekelompok orang yang selalu mengabaikan pikiran rasional. Seseorang disebut sedang terbelenggu manakala dalam menjalani hidupnya tidak menggunakan akal pikirannya. Mereka hanya mengikut tradisi, idiologi, faham, dan bahkan sekedar pendapat orang yang tidak jelas reasoningnya. Sebuah idiologi yang dianggap benar dan harus diikuti secara terus menerus, tanpa berani mengoreksi, maka idiologi itu akan menjadi pembelenggu. Demikian pula afiliasi terhadap organisasi, bisa jadi juga membelenggu. Hanya sebatas mematuhi organisasi, menjadikan pikiran cerdas seseorang tidak digunakan. Seseorang melakukan sesuatu, —-sekalipun merugikan dirinya, hanya memenuhi tuntutan organisasi. Loyalitas terhadap tuntutan organisasi yang berlebihan bisa disebut sebagai belenggu. Seseorang menjadi tidak bisa bergerak dan maju, karena kekangan organisasi yang dipercayai dan dicintai. Islam hadir mengingatkan akan belenggu-belenggu itu. Namun anehnya, kadang orang juga menyukai belenggu, karena dengan hal itu dianggapnya aman. Perubahan selalu dituntut, tetapi orang biasanya berpikiran dan perasaan khawatir, tidak akan mendapatkan keuntungan dari perubahan itu. Maka artinya, pikiran pun juga bisa menjadi belenggu seseorang. Maka, beberapa ayat Al Qur’an di awal turun sudah mengingatkan agar membuang jauh-jauh belenggu kehidupan. Membaca ayat-ayat yang turun pada fase awal, saya merasakan ada hentakan agar manusia memposisikan dirinya secara tepat, sebagai khalifah di muka bumi, berilmu, dan melakukan sesuatu yang berskala besar, mulia hingga memberi manfaat bagi dirinya, sesamanya, dan makhluk lainnya. Dengan demikian ber-Islam, maka seharusnya adalah bangkit, bergerak, bekerja, berjuang, dan sebaliknya tidak pasrah, pasif, malas, penakut dan tidak berani resiko atau bertanggung jawab. Sebagai seorang muslim harus bangkit dan menghilangkan berbagai ikatan dan belenggu yang ada pada dirinya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *