Menyayangi anak a adalah sebagai naluri, sehingga siapa saja merasakannya. Namun apabila hal itu diberikan secara berlebihan, maka dampaknya justru kurang baik, termasuk terhadap anak yang bersangkutan. Boleh-boleh saja mengekpresikan rasa kasih sayang itu, tetapi hendaknya sebatas kewajaran.
Ada sebuah kasus yang dialami oleh seorang pengusaha. Keluarga tersebut sedemikian sayangnya kepada anak-anaknya. Sejak kecil, anak-anaknya sudah dibuatkan rumah sebagai usaha kos-kosan. Kebetulan ia bertempat tinggal dekat dengan kampus, sehingga bisnis menyewakan kamar-kamar hunian untuk mahasiswa yang berasal dari luar kota, menjadi laku. Pilihan membangun kos-kosan dimaksudkan untuk memberikan jaminan terhadap kecukupanj bagi anak-anaknya tatkala nanti dewasa. Strategi itu diambil, mungkin dari pengalaman dan juga penglihatannya, bahwa mendapatkan pekerjaan semakin lama semakin sulit. Pengusaha tersebut tidak mau melihat anak-anaknya kelak mengalami kesulitan hidup, sebagaimana yang telah dialaminya sendiri pada masa lalu. Dengan disediakan usaha kos-kosan itu maka setidaknya, anak-anaknya kelak telah tercukupi kebutuhan hidupnya. Pengusaha ini tidak mau melihat anaknya menderita, hanya karena tidak mendapatkan pekerjaan. Ia berharap, agar semua anaknya bahagia dan tidak akan menjadi beban pikirannya kelak di kemudian hari. Cara berpikir orang tua seperti itu dianggap benar dan tepat. Ia membayangkan bahwa kebutuhan seseorang hanya terkait dengan ekonomi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Banyak kebutuhan lain yang harus dicukupi oleh yang bersangkutan. Manusia membutuhkan jiwa dan pikirannya hidup dan berkembang. Semua orang memerlukan berprestasi dan mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Kebutuhan seperti itu, justru tidak akan terpenuhi manakala seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk menyalurkannya. Sebagai akibat dari terlalu dimanjakan itu, maka anak-anak pengusaha tersebut menjadi tidak pernah memiliki tantangan. Mereka tidak belajar dari menghadapi kesulitan dan menyelesaikan tantangan hidup, yang justru penting untuk mengantarkannya menjadi dewasa. Semuanya serba sudah tercukupi dan akhirnya menjadi tidak kreatif. Mereka menjadi generasi penikmat dari hasil perjuangan orang tuanya. Secara ekonomi, anak-anak pengusaha tersebut tercukupi, akan tetapi dalam pengembangan pribadi dan sosial sebenarnya mengalami kegagalan total. Orang tuanya merasa senang dan puas oleh karena telah membahagiakan para anak-anaknya. Sementara anak-anaknya tidak pernah merasakan kebahagiaan itu. Padahal perasaan telah berjuang dan menjadi orang berguna terhadap orang lain tidak kalah pentingnya dari tercukupi kebutuan erkonominya itu. Ternyata benar, bahwa anak-anak pengusaha tersebut hingga dewasa dan bahkan sampai berkeluarga tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya. Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan pekerjaan, hingga sehari-hari hanya mencukupkan dari hasil warisan orang tuanya itu. Mereka menjadi penganggur, sehari-hari hanya sebagai pengurus persewaan kamar kos. Maka artinya, anak-anak pengusaha tersebut telah gagal dalam mengembangkan pribadi dan kebutuhan sosialnya. Maka, anak-anak pengusaha tersebut telah kalah bersaing dengan orang tuanya sendiri. Orang tuanya berhasil mendapatkan kebahagiaan dari perjuangannya dalam membesarkan anak-anaknya. Sementara anak-anaknya tersebut hanya sebatas menikmati ——-kalau memang bisa merasakan nikmat itu, hasil perjuangan orang tuanya. Kenikmatan berjuang dan mengatasi persoalan hidup tidak pernah dirasakan oleh anak yang dimanjakan tersebut. Selain itu, anak-anak pengusaha tersebut juga kalah bersaing dengan anak-anak lainnya yang tidak memiliki bekal dan potensi yang cukup, kecuali seadanya. Dengan keterbatasannya itu, maka mereka menjadi lebih ulet dan kuat oleh karena selalu menghadapi kesulitan dan tantangan hidup sehari-hari. Anak-anak ini sepintas tidak beruntung, akan tetapi sebenarnya justru tidak terbelenggu oleh kasih sayang orang tua yang berlebihan. Hasilnya, dengan tantangan dan pengalaman hidup yang keras, ternyata justru mendapatkan keberhasilan. Melalui kasus tersebut ada beberapa pelajaran penting yang bisa ditangkap, yaitu beberapa di antaranya bahwa, manusia sebenarnya tidak cukup hanya terpenuhi kebutuhan ekonominya, sekalipun itu memang penting. Manusia juga memerlukan tantangan hidup untuk memperkokoh pribadi dan sosialnya. Manusia juga memerlukan rasa puas dari hasil perjuangannya. Selain itu, manusia tidak boleh terbelenggu, termasuk belenggu dari kasih sayang orang tuanya yang berlebihan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
