Sebagai seorang yang lama memimpin kampus ini, seringkali saya ditanya tentang bagaimana UIN Maliki Malang ke depan. Sejak lama saya berimajinasi bahwa perguruan tinggi Islam yang ada di kota Malang ini, sekalipun pada awalnya sulit mendapatkan keprcayaan dari masyarakat, termasuk dari kementerian agama pusat, akan berhasil mengalami kemajuan. Saya berpendapat, jika institusi dikelola dengan semangat, ikhlas dan bersatu dari semua unsur yang ada, maka jalan kemajuan itu tidak akan mengalami hambatan.
UIN Malang ke depan, ingin menjadikan dirinya sebagai pusat riset dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Strategi ini diambil mengingat bahwa di berbagai belahan dunia Islam, ternyata kegiatan riset adalah paling lemah. Akibatnya, ummat Islam di mana-mana menjadi tertinggal, dan lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen. Padahal semestinya, ummat Islam, sebagaimana yangt diajarkan oleh rasul dan kitab sucinya harus memposisikan diri di atas, atau sebagai pemberi, dan bukan penerima yang selalu berposisi di bawah. Posisi seperti itu, di antaranya, disebabkan oleh lemahnya di bidang riset yang berhasil dikembangkan. Selama ini yang terjadi di Indonesia, dan rupanya juga terjadi di berbagai belahan dunia Islam, ilmu dipahami secara terpisah antara yang bersumberkan dari al Qur’an dan hadits pada satu sisi dan ilmu-ilmu yang bersumber dari hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis pada sisi yang lain. Akibatnya, terjadi cara pandang terhadap ilmu pengetahuan secara dikotomik. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang berusaha menghilangkan dikotomik ilmu pengetahuan itu dengan memposisikan secara seimbang antara ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah dalam memahami realitas alam dan kehidupan ini. Untuk menjunjung tinggi derajat bagi orang-orang yang mengembangkan ilmu pengetahuan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada saat ini berusaha keras mencari alternatif dalam pengembangan dana untuk membiayai seluruh kebutuhan universitas, baik pada pengembangan sarana dan prasara maupun biaya operasionalnya. Sxumber-sumber dana dimaksud diusahakan sedapat-dapatnya tidak dipungut dari para mahasiswa yang sedang belajar di perguruan tinggi ini, melainkan diusahakan bisa diperoleh dari holding company, yaitu lembaga yang khusus bertugas untuk mengumpulkan pendanaan dari berbagai sumber yang dimungkinkan. Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ke depan adalah mereka yang sanggup, tidak saja mengembangkan wawasaqn keilmuan bagi seluruh sivitas akademikanya, melainkan juga sanggup mencari peluang untuk mengembangkan sumber-sumber pendanaan yang diperlukan. Oleh karena itu pemimpin perguruan tinggi ini harus memiliki kemampuan membangun jaringan pengembangan ilmu pengetahuan dan sekaligus memiliki wawasan dan jaringan bisnis yang luas untuk menopang seluruh kegiatan perguruan tinggi ini. Kemandirian dalam pembiayaan tersebut sangat memungkinkan diraih, setelah kampus ini memiliki modal sosial, intelektrual, dan bahkan juga potensi bisnis yang telah dibangun sejak lama. Strategi tersebut dipilih uintuk menjadikan warga kampus sebagai kekuatan mandiri yang tidak akan menggantungkan pihak-pihak lain yang mengikat, hingga menjadikan dirinya tidak kreatif dan selalu terbelenggu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
