Pada hari Senin, tanggal 9 Mei 2011, KH Maksoem Oemar, setelah beberapa hari mengalami sakit, dan dirawat di rumah sakit, ternyata berakhir dipanggil oleh Allah swt, beliau wafat. Bagi warga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, wafatnya seorang kyai yang sangat sabar dan ikhlas ini dirasakan sangat sedih. Beliau sehari-hari adalah sebagai pimpinan ma’had al aly Sunan Ampel UIN Maliki Malang.
KH Maksum Oemar tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang sejak awal berdirinya. Lembaga tersebut sekarang telah berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Beliau termasuk salah seorang dosen perguruan tinggi Islam di Malang yang dikaruniiai umur panjang. Beberapa dosen yang seumur atau seangkatan dengan beliau telah wafat terlebih dahulu. Selain sebagai dosen, KH Maksum Oemar pernah menjabat sebagai Wakil Dekan II dan kemudian berlanjut menjabat sebagai dekan. KH Maksum Oemar juga pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II IAIN Sunan Ampel di Surabaya hingga memasuki masa pensiun. Pak Maksoem Oemar, oleh banyak orang dikesankan tidak saja sebagai dosen, tetapi juga sebagai seorang kyai. Beliau selain sebagai lulusan IAIN, juga lama belajar di pondok pesantren. Oleh karena itulah maka beliau tepat disebut sebagai penyandang dua jenis gelar sekaligus, yaitu sebagai seorang ulama atau kyai yang intelek dan atau intelek yang ulama atau kyai. Saya sebenarnya belum pernah secara langsung mendapatkan kuliah dari beliau, tetapi selalu merasa banyak mendapatkan pelajaran hidup dari KH Maksoem Oemar. Saya mengenal beliau dari ceramah-ceramah yang saya ikuti. Di mata saya, beliau adalah seorang yang sangat alim, sabar, ikhlas, banyak bersyukur, ilmunya sangat luas dan mendalam. Oleh karena itu, tatkala saya diberi waktu untuk melepas jenazah beliau, saya hanya mengatakan bahwa KH Maksoem Oemar selain sehari-hari mengajar dan mendidik, adalah juga sekaligus selalu memberikan tauladan hidup kepada para santri, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya. Hingga akhir hayatnya, KH Maksoem Oemar tercatat sebagai pengasuh ma’had sunan ampel al Aly UIN Maliki Malang. Jabatan sebagai pengasuh ma’had tersebut diemban atas permintaan saya sendiri, sehubungan posisi saya sebagai pimpinan UIN Maliki Malang. Ketika itu, saya merintis berdirinya ma’had atau pesantren di kampus banyak orang yang mengusulkan agar mengangkat seorang pengasuh. Saran itu juga datang dari KH Tholkhah Hasan yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Agama. Tatkala sedang mencari calon pengasuh ma’had itu, saya mendapatkan petunjuk dari Menteri Agama, ketika itu dijabat oleh KH Tholkhah Hasan, agar memohon kesediaan KH Maksoem Oemar. Sebelumnya nama beliau tidak terpikirkan, oleh karena ketika itu beliau berdomisili di Surabaya dan juga sudah memasuki masa pensiun. Pak Tholkhah Hasan berkali-kali memberikan penjelasan kepada saya, bahwa ma’had atau pesantren di mana saja harus ditunggui oleh seorang kyai. Namun tidak semua dosen, menurut pandangan beliau, dikenal sebagai seorang kyai. Menurut pengamatan Pak Tholkhah Hasan, bahwa KH Maksoem Oemar, telah dikenal luas sebagai seorang kyai sekalipun tidak mengasuh pesantren. Menteri Agama, ——-KH Tholkhah Hasan, menurut pengakuannya telah mengenal baik pribadi beliau, karena pernah belajar di pesantren yang sama. Setiap saya bertemu, Pak Thlakhah Hasan selalu mengungkapkan kriteria bagi seorang hingga disebut kyai, dan menurut beliau Pak Maksoem Oemar memenuhi semua kriteria itu. Atas petunjuk Pak Menteri Agama tersebut, saya berusaha menemui untuk menyampaikan permohonan kesediaan beliau menjadi pengasuh ma’had Sunan Ampel al Aly UIN Malang. Saya masih ingat, ketika pertama kali saya menemui , beliau memberikan jawaban,bahwa secara dhohir, beliau bersedia memenuhi permohonan saya. Akan tetapi, saya masih dianjurkan untuk menunggu jawaban yang lebih sempurna hingga sebulan kemudian. Beliau mengatakan, bahwa masih akan istiqarah, untuk mendapatkan jawaban yang lebih bersifat batiniyah. Menurut beliau, jawaban yang bersifat batiniyah tidak bisa diberikan secara spontan. Setelah menunggu kira-kira sebulan, akhirnya beliau memberikan jawaban, menerima permohonan itu. Maka sejak itu, beliau beberapa hari pada setiap minggunya menginap di UIN Maliki Malang. Selebihnya beliau masih harus memberikan waktunya untuk mengisi pengajian di Surabaya yang sudah dijalaninya beberapa tahun lamanya. Hal yang sangat aneh, sekalipun usia beliau sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun, masih sanggup menyetir mobilnya sendiri. Beliau mengatakan bahwa justru dengan menyetir mobilnya sendiri itu, beliau akan merasa sehat. Bagi saya, Pak Maksum Oemar adalah benar-benar seorang ulama’ yang arif dan selalu memberikan ilmu dan tauladan kepada para mahasiswa, santri dan masyarakat lainnya. Ceramahnya selalu disampaikan dengan bahasa yang ringan, dan sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam. Perumpamaan dan kisah-kisah yang disampaikan dalam setiap pengajian terasa sangat tepat, logis, dan menarik. Itulah sebabnya, banyak orang yang merindukan ceramah Pak Maksum Oemar. Para santri, mahasiswa, dan semua orang yang mengenalnya tidak ingin segera ditinggal oleh beliau. Orang yang pernah diajar atau mendengarkan ceramahnya, masih ingin mendengarkan kembali. Namun sebesar apapun kecintaan orang yang diberikan kepadanya, tidak akan mampu mengalahkan kehendak-Nya. Umur tidak akan bisa ditambah dan atau dikurangi. Masing-masing orang, umurnya telah ditetapkan oleh-Nya. KH Maksum Oemar tergolong orang yang dikaruniai umur panjang, yaitu sekitar 78 tahun. Umur itu oleh beliau telah digunakan dengan baik, yaitu untuk beribadah, mendekatkan diri pada Allah. Sepanjang hidupnya, umurnya digunakan untuk mengajar, menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan memberikan tauladan kepada para santri, mahasiswa, dan orang-orang yang pernah bergaul dengannya. Semoga, beliau khusnul khotimah, dilipatgandakan pahala amal shalehnya, diampuni semua kesalahannya, dan ditempatkan oleh Allah pada tempat yang mulia, di sisi-Nya, amien.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
