Sudah menjadi kebiasaan, bahwa ada saja mahasiswa yang mengajak saya, berdiskusi tentang hal-hal yang dianggap menarik. Suatu saat, mahasiswa yang datang ke kantor agak berbeda dari mahasiswa lainnya. Perbedaan itu saya rasakan dari penampilan dan kecekatannya dalam menunjukkan ayat-ayat al Qurán sebagai rujukan pembicaraannya.
Dari pembicaraan itu akhirnya saya ketahui, bahwa memang mahasiswa tersebut adalah seorang hafidz al Qurán hingga 30 juz. Sekalipun pengetahuannya luas dan mampu menunjukkan ayat-ayat al Qurán sebagai rujukan pembicaraannya itu, mahasiswa ini sangat tawadhu’ terhadap orang lain, termasuk kepada saya, yang diangap sebagai orang yang lebih tua dan sekaligus gurunya. Setiap mahasiswa ini datang, saya memang merasakan kegembiraan. Akhirnya, kedatangannya ke kantor semakin sering. Mahasiswa ini, dalam banyak kesempatan, misalnya ketemu di masjid tatkala shalat dhuhur berjamaáh atau di tempat lain, berani memberikan masukan untuk pengembangan kampus, terutama terkait dengan pembinaan kemahasiswaan. Ada saja sesuatu yang disusulkan, dan selalu saya respon sepanjang memungkinkan untuk dilaksanakan. Hal yang menjadikan saya terharu, pada suatu saat saya menanyakan kepadanya, tentang sejak kapan ia mulai menghafalkan al Qurán dan siapa yang membimbingnya. Mahasiswa tersebut menjawab, bahwa ia mulai menghafal al Qurán sejak kecil, yaitu sebelum masuk madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan guru yang membimbingnya, —— ia mengaku, ternyata adalah ibunya sendiri. Mendengarkan jawaban itu, saya sungguh terharu, sehingga hampir tidak bisa meneruskan pembicaraan. Ketika itu saya membayangkan, alangkah mulianya ibu seorang mahasiswa yang sedang berada di hadapan saya ini. Ia adalah seorang hafidzah dan mendidik putra-putrinya sejak kecil menghafal al Qurán hingga sempurna. Atas jawaban itu pula, kemudian terbayang pada pikiran dan perasaan saya, adanya sebuah keindahan keluarga. Mahasiswa yang sedang bertemu dan ada di hadapan saya, ternyata lahir dari keluarga yang sangat beruntung dan mulia. Jawaban itu juga mengingatkan kepada saya terhadap hadits nabi, bahwa sorga adalah berada di bawah telapak kaki ibu. Orang tua seperti inilah yang saya bayangkan telah menjadi ibu yang sebenarnya, yaitu telah mampu membimbing anak-anaknya ke jalan yang benar dan mulia. Ketika itu saya segera mengapresiasi terhadap cara ibu tersebut dalam mendidik anaknya dengan mengucapkan selamat berbahagia dan telah beruntung, memiliki orang tua yang sedemikian mulia mampu dan berhasil membimbing ke jalan yang tepat dan benar. Apresiasi saya tersebut dirasakan olehnya sebagai sesuatu yang memiliki makna mendalam. Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut, bahwa ibunya senantiasa membimbing terhadap semua anak-anaknya untuk selalu shalat berjamaáh, shalat malam, serta sunnah-sunnah rasul lainnya secara istiqomah. Mendengarkan penuturan mahasiswa tersebut, maka yang terbayang lagi bagi saya, adalah tentang keluarga yang sedemikian indah. Dalam keluarga itu terdapat seorang ibu yang mencintai anaknya dan memberikan pendidikan secara benar dan mulia. Sebagai seorang yang sehari-hari mengurus pendidikan, segera merasakan kebahagiaan yang luar biasa, karena telah mendapatkan sesuatu yang amat penting dan indah. Lebih dari itu, di tengah-tengah kehidupan masyarakat seperti sekarang ini, yang secara singkat digambarkan sebagai banyak kebohongan, manipulasi, penindasan, terlalu mencintai harta kekayaan, hidonis, meterialistis dan serba individual, hingga menggelisahkan banyak orang, maka kisah seorang ibu sebagaimana dalam cerita pendek ini adalah sesuatu yang sangat penting didengar oleh siapapun. Inilah ibu yang sebenarnya sedang berada pada jalan yang benar dan seharusnya dituru oleh banyak orang. Ibu mahasiswa tersebut, tidak mengkhawatirkan anaknya terhadap pekerjaan dan rizki yang kelak akan didapat, melainkan hanya merisaukan para anak-anaknya, tidak mengenal dirinya sendiri, dan juga Tuhannya. Oleh karena itu, yang ia lakukan adalah membimbing mereka, ——-para anak-anaknya, menghafal al Qurán dan selalu mendekatkan diri pada-Nya dengan banyak mengingat Allah, dan beribadah secara istiqomah. Sayang sekali, jumlah ibu seperti ini, pada saat sekarang tidak terlalu banyak, sehingga tidak mudah didapatkan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
