Kunci kemajuan dari sebuah institusi sebenarnya adalah jika terdapat kreativitas dari orang-orang yang berada di lembaga itu. Kreativitas merupakan kuci adanya inovasi, pikiran-pikiran baru dan juga modernisasi. Namun kreativitas memerlukan iklim, ruang, atau space untuk tumbuh. Tanpa itu, maka kreativitas akan mati dan yang terjadi adalah kegiatan rutin yang bersifat teknis.
Pemerintah, apalagi akhir-akhir ini, dalam menggerakkan birokrasi lebih memilih menggunakan pendekatan birokrasi mesin. Dalam birtokrasi mesin, semua kegiatan dijalankan atas dasar aturan yang ketat. Perencanaan yang telah disusun harus bisa dilaksanakan. Selain itu, pelaksanaannya harus sesuai dengan aturan yang ada. Menyimpang dari aturan dianggap salah, dan kalau perlu harus disanksi, sekalipun sebenarnya justru menguntungkan pemerintah sendiri. Manajemen seperti itu sangat sulit dilakukan oleh perguruan tinggi. Pimpinan perguruan tinggi, harus mengikut saja apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sementara sehari-hari, pimpinan perguruan tinggi menghadapi orang kreatif dan bahkan juga keadaan yang selalu berubah. Menghadapi persoalan seperti itu, maka pimpinan perguruan tinggi dihadapkan pada situasi yang amat sulit. Tidak memenuhi aspirasi dosen dan mahasiswa dianggap jumud, sedangkan menyimpang dari aturan, akan dianggap salah dan bahkan dikenai sanksi. Dalam keadaan seperti itu, maka yang sering terjadi adalah penyesuaian kebijakan dengan tuntutan birokrasi, sekalipun hal itu sebenarnya juga salah. Contoh yang paling mudah tentang adaptasi itu misalnya, ketika kampus memerlukan masjid, sedangkan dana untuk membangun tempat ibadah itu tidak mungkin disetujui, maka masjid itu dinamai saja laboratorium. Dana dari pemerintah hanya boleh digunakan untuk membangun laboratorium, tetapi tidak boleh untuk membangun masjid. Maka, jalan keluarnya masjid itu harus dinamai gedung labortatorium kajian Islam. Itulah salah satu contoh adaptasi yang harus dilakukan. Selain itu masih banyak kegiatan yang diberi nama hanya untuk menyesuaikan dengan mata anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Hal demikian itu telah dipahami dan dilaksanakan di mana-mana, di kantor pemerintah. Dengan demikian, rekayasa-rekayasa seperti itu dianggap wajar dan atau hal biasa. Padahal sebenarnya, dengan cara itu secara otomatis, telah mengajari birokrat untuk tidak jujur. Pada akhir-akhir ini, berbagai pihak mendorong tumbuhnya kaum entrepreneur. Ciri khas entrepreneur adalah keberanian, kebesan dan berani beresiko. Tidak pernah ada entrepreneur sukses manakala harus dihadapkan pada berbagai aturan yang membelenggu. Entrepreneur selalu kreatif untuk melakukan ekprerimentasi atau uji coba dan uji coba. Kreatifitas itulah yang menjadikan entrepreneur menjadi maju. Sebaliknya, banyak usaha yang ditangani oleh pemerintah justru menjadi mandeg dan bahkan bangkrut. Hal itu dikarenakan dijalankan oleh birokrat pemerintah dengan aturan yang ketat. Bangsa Indonesia sekarang ini, dirasakan banyak tertinggal dari bangswa lain. Akan tetapi anehnya yang dikerjakan sehari-hari adalah membuat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dirjen, dan seterusnya. Akibatnya, para birokrat terbelenggu dan sulit melakukan langkah-langkah cerdas dan stratagis. Cerdas dianggap menyimpang, dan menyimpang selalu berkonotasi salah. Mestinya dalam suasana seperti ini, di kalangan pemerintah perlu ditumbuh-kembangkan manajemen yang berpihak pada kreativitas, atau mungkin cocok disebut entrepreneur birokrasi. Yaitu, birokrasi yang memberi ruang bagi para birokrat untuk mengambil langkah-langkah cerdas dan strategis guna mempercepat pertumbuhan dan sekaligus memperkokoh institusinya. Mungkin kebijakan ini akan muncul kekhawatiran, yaitu terjadi penyelewengan terhadap aset dan kekayaan negara. Padahal sebaliknya, jika kreativitas diberi ruang, maka akan berpeluang menguntungkan negara. Saya pribadi lebih memilih untuk memberikan peluang berkreativitas. Saya melihat bahwa berbagai penyimpangan yang terjadi di birokrasi selama ini, berupa korupsi, kolosi dan nepotisme, adalah justru dilahirkan dari manajemen yang kaku atau disebut manajemen mesin itu. Manusia tidak akan merasa nyaman jika berada di lingkungan yang sedemikian membelenggu. Oleh karena itu, mereka mencari peluang-peluang untuk menumbuh-kembangkan kreativitas itu. Kreativitas adalah kebutuhan bagi semua orang, sehingga harus disalurkan. Saya berpendapat bahwa, terjadinya kasus-kasus korupsi dan juga mental mendua selama ini, sebenarnya adalah bersumber dari birokrasi yang dikendalikan secara ketat seperti itu. Oleh karena itu saya berpandangan bahwa untuk mengejar ketertinggalan dan sekaligus mempercepat pertumbuhan bangsa ini perlu dikembangkan entrepreneur birokrasi. Dengan cara itu maka para birokrat pemerintah akan merasa lebih dihargai, dipercaya, dan akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk mengejar prestasi masing-masing. Birokrasi pemerintah yang dirasakan membelenggu akan mengakibatkan lahirnya orang-orang yang tidak kreatif dan bahkan banyak berbuat semu atau seolah-olah. Buktinya, cukup banyak, di antaranya adalah keadaan yang kita lihat dan rasakan sekarang ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
