Akhir-akhir ini nama Guyus Tambunan sedemikian populer. Nama itu menjadi dikenal dan dibicarakan di semua lapisan, mulai dari di tingkat desa oleh para petani, pedagang kecil, anak sekolah, mahasiswa hingga di ruang sidang parlemen dan bahkan istana. Sedemikian terkenalnya nama Gayus Tambunan, hingga siapapun mengenalnya.
Di kalangan elite lain nama Gayus dijadikan pokok pembicaraan di ruang seminar, diskusi, dan dialog di mana-mana. Televisi, koran-koran, majalah, facebook, website, scrib, dan lain-lain membicarakan dan menulis tentang nama mantan pegawi pajak itu. Nama itu juga dijadikan bahan pembicaraan di DPR bahkan juga dalam rapat kabinet di istana. Belum lagi oleh para polisi, jaksa, hakim, pengamat politik, sosial, ekonomi, semua membicarakan nama yang dianggap nakal itu. Nama Gayus Tambunan menjadi terkenal bukan karena perbuatannya yang terpuji, melainkan justru sebaliknya, tercela. PNS golongan tiga yang bekerja di direktorat pajak ini pernah melakukan rekayasa pembayaran pajak bagi para pengusaha besar hingga merugikan uang negara yang tidak kecil. Atas cara kerjanya itu, pemerintah dirugikan, pengusaha diuntungkan, dan Gayus Tambunan sendiri mendapatkan bagiannya. Menurut informasi, keuntungan yang diperoleh oleh Gayus sebenarnya belum begitu besar, yaitu belum mencapai jumlah angka triliyunan rupiah. Akan tetapi, dengan apa yang dilakukannya itu, negara dirugikan, tertib administrasi suatu lembaga yang semestinya dipelihara menjadi rusak. Lebih dari itu, kepercayaan masyarakat terhadap negara yang seharusnya di pelihara sebaik-baiknya terganggu. Tidak bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi manakala dengan kasus itu, berakibat semangat masyarakat membayar pajak menjadi menurun. Gambaran itu, tentu tidak boleh terjadi. Mengikuti alur cerita manipulasi pajak tersebut, sebenarnya yang melakukan kenakalan bukan saja Gayus Tambunan, tetapi ada juga pihak lain, setidaknya para pengusaha wajib pajak yang terkait dengan kasus itu. Tidak kurang dari 140 perusahaan besar yang telah ditangani Gayus. Sehingga, kenakalan itu sebenarnya melibatkan sejumlah banyak orang. Sehingga bisa jadi, kenakalan Gayus Tambunan merupakan akibat bujuk rayu para wajib pajak yang juga sama nakalnya. Maka mungkin saja, perilaku Gayus Tambunan yang tidak terpuji itu merupakan bentukan lingkungannya. Umpama saja, ia tidak bekerja di instansi itu, tidak akan melakukan kesalahan yang sedemikian buruk. Kasus Gayus Tambunan itu sendiri sebenarnya sederhana. Namun ternyata beresonansi yang sedemikian kuat dan jauh. Mungkin hal itu disebabkan oleh karena, ia berada pada pusaran yang besar dan memunculkan peristiwa-peristiwa yang aneh. Keanehan itu misalnya, seorang PNS golongan tiga telah melakukan korupsi uang negara yang sedemikian besar jumlahnya. Selain itu tatkala ditahan, ia ternyata kedapatan berada di Bali, melihat pertandingan olah raga bergengsi yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Bahkan akhirnya juga diketahui bahwa, tatkala sedang di tahan ia pernah pergi ke luar negeri, yaitu ke Singapura dan ke Makao. Keanehan-keanehan seperti itu, maka melahirkan dugaan dari banyak pihak, bahwa kasus Gayus Tambunan bukan merupakan hal biasa. Kasus itu terkait dengan orang-orang kuat di negeri ini, baik secara politik maupun ekonomi. Setidak-tidaknya di antara pemilik perusahaan yang terkait dengan kasus Gayus Tambunan adalah orang yang berpengaruh kuat. Oleh karena itulah maka banyak orang menduga, bahwa persoalan tersebut terkait dengan orang-orang kuat, dan tidak sekedar menyangkut sejumlah uang yang diambil oleh Gayus. Kait mengkait antara persoalan penyimpangan pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan dengan hal lainnya yang lebih luas itu, menjadikan kasus tersebut dibicarakan di hampir semua lapisan, mulai di pasar-pasar hingga di tempat-tempat terhormat seperti di ruang sidang DPR dan bahkan di istana negara. Nama Gayus Tambunan menjadi sedemikian terkenal dan terasa sedemikian penting untuk dibicarakan oleh siapa saja. Tidak bisa dibayangkan betapa banyak energi terbuang percuma hanya untuk sekedar membicarakan penyimpangan keuangan oleh seorang PNS golongan tiga ini. Di tengah-tengah begitu besarnya semangat memberantas korupsi di negeri ini, maka kasus Gayus Tambunan menjadi penting untuk lebih dicermati. Kasus ini sebenarnya, ——-jika mau, berhasil membuka mata banyak orang, bahwa ternyata penyimpangan keuangan yang merugikan negara sudah sedemikian parah dan akut, dilakukan oleh pelaku ekonomi kelas kakap dan bekerjasama dengan oknum pegawai pemerintah. Kasus Gayus Tambunan juga menjadi pelajaran, bahwa mestinya siapapun tidak boleh dalam mengambil keputusan hanya berdasar pada pikiran dangkal dan sederhana. Misalnya, memberi remunerasi kepada instansi tertentu agar di tempat itu tidak terjadi korupsi. Kenyataan itu memberikan petunjuk, bahwa ternyata korupsi bisa terjadi pada orang-orang yang berpenghasilan tinggi. Korupsi lebih disebabkan oleh karena rendahnya moral, watak, karakter atau akhlak seseorang, sehingga mereka terlalu mencintai harta kekayaan dari pada mencintai bangsa dan negaranya. Sekalipun uang yang diselewengkan Gayus Tambunan tidak seberapa, artinya belum mencapai triliyunan rupiah sebagaimana dalam kasus Bank Century, tetapi kasus tersebut harus diselesaikan secara tuntas. Korupsi di negeri ini, sekecil apapun harus dihindari. Penyakit korupsi rupanya sama dengan jenis penyakit pada umumnya. Jika tidak segera diobati, penyakit itu akan meluas dan mematikan seluruh bagian tubuh lainnya. Negara ini tidak boleh mati atau bubar, oleh karena korupsi yang dibiarkan. Melalui kasus-kasus korupsi selama ini, —–tidak terkecuali kasus Gayus Tambunan, memberi petunujuk bahwa moral, karakter atau akhlak di negeri ini sudah sedemikian parah atau rendahnya. Celakanya, moral yang rendah itu justru menimpa pada orang-orang yang secara ekonomi, politik dan pendidikan telah berhasil. Lagi-lagi kasus tersebut juga memberikan petunjuk, bahwa rendahnya moral, karakter dan akhlak yang disandang oleh orang-orang yang telah memiliki kekuatan, ——ekonomi, politik, dan bahkan ilmu pengetahuan, akan mengakibatkan kerusakan yang lebih dahsyat. Kasus Gayus Tambunan tersebut semestinya dijadikan momentum untuk memberantas berbagai mafia, mulai mafia hukum, mafia pajak, mafia politik, birokrasi dan lain-lain. Namun tidak boleh upaya menyelesaikan persoalan itu justru menambah persoalan baru hingga mengakibatkan rakyat yang selama ini menderita, bertambah lebih menderita lagi. Selain itu, tidak boleh menjadikan persoalan Gayus Tambunan sebagai segala-galanya. Persoalan kemiskinan, pendidikan yang belum ketemu arahnya, kesenjangan, konflik di mana-mana, sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, TKW, dan lain-lain, tidak boleh diabaikan. Kasus Gayus Tambunan jangan sampai menjadikan semua energi dihabiskan. Apalagi dalam menyelesaikan kasus tersebut lantas mereka menjadi berselisih pendapat, saling membidik dan menuduh, dan bahkan melahirkan persoalan baru yang lebih gawat dan sulit diselesaikan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
