Tatkala menyebut kegiatan ritual, seolah-olah jenis kegiatan itu sempit atau terbats, hanya menyangkut pribadi, dan kegatan itu dilakukan sendirian. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Islam dalam banyak kegiatan, ——tidak terkecuali kegiatan ritual, mengutamakan dan atau memiliki dimensi sosial yang luas. Islam mengutamakan bersama-sama atau berjamaáh. Shalat berjamaáh dipandang lebih utama dari pada shalat sendirian.
Apalagi, hal itu adalah haji. Pelaksanaan rukun Islam yang kelima ini, masuk kategori kegiatan ritual, dilakukan secara bersama-sama, dalam waktu dan tempat yang sama pula, ialah di tanah suci Makkah. Ibadah haji dilakukn di tiga tempat, yaitu arafah, Mina, dan Masjid al Haram. Bertempat di padang Arafah adalah tatkala wukuf. Semua orang yang menjalankan ibadah haji, pada hari itu harus berada di padang Arafah. Siapapun yang pada hari itu tidak datang di Arafah untuk wukuf, maka tidak disebut telah melaksanakan ibadah haji. Pada saat di Arafah itu, yakni pada hari Arafah, maka seluruh jamaáh haji yang datang dari seluruh penjuru dunia bertemu di tempat itu. Sehingga pada saat itu, semua orang yang menjalankan ibadah haji, dari negara atau bangsa manapun mereka bertemu. Dengan demikian, mereka berpeluang saling mengenal, atau setidak-tidaknya saling bertemu di antara bangsa-bangsa yang datang dari seluruh dunia. Begitu mulianya hari Arafah, hingga semua kaum muslimin di dunia pada hari itu, disunnahkan berpuasa. Maka pantaslah, para jamaáh haji sepulang dari tanah suci, salah satu topik yang dibicarakan adalah tentang berbagai jenis orang yang ditemui. Melalui ibadah haji, mereka melihat bahwa manusia ternyata berbeda-beda, mulai dari warna kulit, rambut, dan ukuran tubuhnya. Ada sebagian yang berkulit putih, tinggi, berambut lurus. Ada pula yang berbadan tinggi, besar, berambut keriting dan berkulit hitam. Sementara yang datang dari Asia seperti Malaysia, Brunai, Indonesia, Thailand, dan sejenisnya berukuran kecil, berkulit sawo matang, dan berambut lurus, kecuali sebagian berambut keriting. Berbagai jenis orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia datang dan sekaligus bersilaturrahmi di tempat yang sama, yaitu di Masjidil Haram, Padang Arafah, dan Mina. Selain itu, jamaáh haji juga menyempurnakan ibadahnya dengan berziarah ke Madinah, tempat di mana Nabi dahulu berhijrah, membangun kota Madinah, dan juga akhirnya wafat dan dimakamkan di kota suci itu. Ibadah haji menjadikan semua orang yang menjalankannya berpeluang bersilaturrahmi dengan kalangan yang luas, ialah datang dari seluruh penjuru dunia. Dengan ibadah haji, maka seorang petani desa, yang seumur-umur tidak pernah ketemu dengan jenis orang lain kecuali se kota/kabupaten atau bahkan se desanya, maka tatkala menjalankan ibadah haji, mereka akan bertemu dengan orang yang ukuran serta warna kulit dan rambutnya bermacam-macam itu. Mereka menjadi tahu, bahwa manusia itu memang bermacam-macam, tidak saja menyangkut watak, perilaku dan karakternya, melainkan bentuk atau sosok tubuhnya. Sebelum berangkat pergi haji, mereka tahu dari membaca al Qurán, bahwa manusia itu terdiri atas jenis laki-laki dan perempuan, berbagai suku, dan bangsa-bangsa. Maka pada saat menjalankan haji, mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa memang demikianlah pada kenyataannya. Manusia terdiri atas beraneka ragam warna kulit, rambut, dan ukuran tubuhnya. Mereka juga menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Melalui ibadah haji, kaum muslimin yang datang dari manapun, berpeluang untuk saling mengenal atau bertaaruf, sekalipun hanya dalam batas-batas tertentu, karena hambatan keterbatasan waktu dan bahasa. Ibadah haji dengan demikian, merupakan wahana atau ajang bersilaturrahmi di antara umat yang datang dari seluruh penjuru dunia. Sekalipun menganut berbagai aliran, faham, atau madzhab apapun, pada saat shalat berjamaáh di masjidil haram, mereka melakukan hal yang sama, dan bermakmum kepada imam yang ada di masjid tersebut. Inilah gambaran kebersamaan dan sekaligus persatuan umat Islam. Kiranya tidak ada ajaran dari manapun, —–selain Islam, dan bahkan semodern apapun yang memungkinkan umat manusia, bertemu tanpa kecuali melalui kegiatan ritual bersama, yaitu haji. Jika di luar kegiatan haji, terdapat acara muktamar, atau kegiatan ilmiah, seperti seminar atau lainnya, maka biasanya hanya menghadirkan orang-orang tertentu secara selektif dan tidak dilakukan secara rutin dan massal. Demikian pula, waktu dan tempatnya juga tidak tertentu sebagaimana ibadah haji. Oleh karena itu bagi orang yang sedikit saja mau berpikir, melihat, dan membandingkan dengan ajaran lain, maka sebenarnya Islam benar-benar memiliki ajaran yang unggul dan bahkan dahsyat. Tatkala beberapa tahun terakhir ini, banyak orang berbicara tentang globalisasi, maka Islam telah terlebih dahulu memperkenalkan dan bahkan sementara umatnya telah merasakan melalui ibadah haji. Umpama kesempatan ini dimanfaatkan secara maksimal, maka akan menjadi peluang yang luar biasa besarnya untuk memajukan umat secara bersama-sama di berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial dan bakan juga ilmu pengetahuan. Sayangnya, hal itu belum dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini, haji baru pada memberikan peluang untuk saling mengenal atau bersilaturrahiem. Kiranya ke depan, tatkala umat semakin maju, maka tidak menutup kemungkinan, kesempatan berhaji akan dimanfaatkan pada kegiatan lainnya. Tiga tahun yang lalu, bertepatan dengan musim haji diselenggarakan Muktamar Rabithah Alam Islamy. Dalam kegiatan itu, seluruh peserta yang datang dari berbagai negara juga sekaligus menjalankan ibadah haji. Terasa sekali, bahwa dengan kegiatan itu semuanya mendapatkan manfaat yang cukup besar. Saya sebagai Rektor UIN Maliki Malang, ketika itu memperoleh undangan muktamar tersebut dan hadir. Pengalaman menarik, dalam acara pembukaan muktamar tersebut , sebagian pesertanya mengenakan pakaian ihram dan bahkan cukup bersandal japit. Pada saat seperti itu, orang tidak melihat ada sesuatu yang aneh. Suasananya justru menjadi lebih menarik, yaitu berbagai kegiatan bercampur antara ritual, sosial, dan dan bahkan intelektual, semuanya berjalan sekaligus. Lebih dari itu, semua yang hadir merasa memperoleh manfaat yang besar. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
