Jika berpuasa dilakukan secara individual, dan begitu pula sholat agar lebih afdhol dilaksanakan secara berjama’ah, maka ibadah haji dilaksanakan secara bersama-sama bagi umat Islam dari seluruh dunia. Haji dilaksanakan di tempat dan waktu yang bersamaan yaitu di lingkungan Masjidil Haram, Arofah, dan Mina. Pelaksanaan haji dilaksanakan dengan cara-cara yang sama, urutan-urutan pelaksnaan yang sama, dan bahkan juga dengan doa-doa yang sama pula. Umat Islam yang menjalankan ibadah haji berasal dari berbagai warna kulit, suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan sebagainya, berkumpul di satu tempat pada waktu yang sama. Pada setiap musim haji itu, tergambar bahwa umat Islam melaksanakan pertemuan akbar, melakukan konferensi spiritual tingkat dunia di satu waktu dan tempat. Ketika itu, mereka di satukan oleh niat yang sama, gerakan yang sama, untuk menuju pada satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan ridha Allah swt., yang disebut dengan istilah haji mabrur. Puncak kebersamaan dan kesamaan itu terasa sekali, yakni tatkala sedang wukuf di Arofah. Ketika itu, semua kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah haji, bagi yang laki-laki mengenakan pakaian yang sama, yaitu dua lembar kain ihram. Warna pakaian itu juga sama, yakni putih. Selain dua lembar kain ihram itu, mereka tidak mengenakan identitas apa-apa, bahkan sebatas topi yang juga bisa berbeda-beda antara kaum muslimin yang besasal dari negara yang berbeda juga tidak boleh dipakai. Mereka juga tidak boleh bersepatu, kecuali seatas sandal sebagai pelindung kaki. Satu-satunya yang membedakan di antara para jama’ah haji hanyalah tanda pengenal, yang biasanya berupa gelang atau sebuah kartu identitas. Melalui ibadah haji ini, seakan-akan diajarkan bahwa sesungguhnya umat manusia di muka bumi ini terdiri atas beraneka ragam warna kulit, rambut, bahasa, potongan dan warna pakaian, dan sebagainya, tetapi pada hakekatnya mereka adalah sama. Mereka bertemu di tanah suci untuk saling mengenal. Dalam al Qur’an disebutkan bahwa justru berbeda itu mereka agar saling kenal mengenal antar sesama. Selain itu sesungguhnya ibadah haji juga mempertegas bahwa semua manusia itu pada hakekatnya sama, sedangkan yang membedakan di antara mereka hanyalah ketaqwaannya. Perbedaan itu dalam ibadah haji hanyalah akan dilihat dari siapa yang paling khusu’ menjalankannya, dan yang paling ikhlas niatnya, serta yang paling halal bekal yang dibawanya dan seterusnya. Andaikan kegiatan spiritual itu juga disempurnakan dengan kegiatan yang bernuansa intelektual dan social dan bahkan juga lainnya, maka umat Islam memiliki momentum yang luar biasa untuk saling bertemu dan memikirkan keumatan secara global. Hal itu bisa dibayangkan, pertemuan yang dilakukan pada setiap tahun, pada waktu yang sudah pasti, yaitu pada bulan haji. Karena itu, sesungguhnya, program-program itu bisa dirancang dengan matang dan sebaik-baiknya. Sayangnya, hal itu sepengetahuan saya belum dilakukan, kecuali sesekali dibarengkan dengan muktamar Rabithah alam Islami. Saya pernah mengikuti kegiatan itu, tetapi saya rasakan juga kurang produktif. Pada kegiatan itu hanya dibicarakan hal-hal terbatas, lagi-lagi sebatas terkait kegiatan ritual dalam Islam. Memang ada pembicaraan tentang kehidupan kaum muslimin di berbagai negara, tetapi lagi-lagi hanya sebatas terkait dengan spiritual, seperti tentang kurban, sedekah dan lain-lain. Padahal me nurut bayangan saya, jika pertemuan itu membahas hal actual terkait dengan keadaan umat Islam yang masih terbelakang dalam berbagai halnya, misalnya dari aspek ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, social, pendidikan dan lain-lain, akan banyak artinya bagi pengembangan kehidupan secara lebih luas. Jika hal itu dilakukan maka momentum haji akan benar-benar memerikan manfaat bagi kehidupan kaum muslimin yang lebih luas. Hanya saja memang, jika forum seperti itu juga b eresiko, karena itu harus dilakukan dengan hati-hati. Karena dalam berhaji tidak boleh saling berdebat, apalagi bertengkar yang bisa menyakiti hati sesama. Sebab berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, dan lain-lain besar kemungkinan membuka peluang terjadi hal yang menganggu kekhusukan berhaji. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
