Tidak sedikit orang di akhir bulan Ramadhan merasa sedih, karena merasa belum cukup mengisinya dengan ibadah dan amal kebaikan lainnya secara sempurna. Namun mereka harus meninggalkan bulan yang penuh rakhmat, maghfirah dan keutamaan lainnya itu. Di antara kemuliaan bulan Ramadhan adalah terdapat satu malam yang diturunkan oleh Allah, malam lailatul qadr. Yaitu, satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Sedemikian mulianya bulan Ramadhan, hingga ayat al Qurán yang pertama kali diturunkan adalah pada bulan ini. Dan bahkan menurut riwayat, semua kitab suci, yaitu taurat, abur dan injil juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, bagi mereka yang mengetahui keutamaan bulan itu, akan merasa sedih, tatkala Bulan ramadhan berakhir. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mengerti banyak tentang bulan itu, akan merasa gembira dengan mendekati berakhirnya bulan suci itu. Sebab, dengan lewatnya Bulan Ramadhan, maka sudah tidak ada keharusan lagi shalat tarweh ke masjid pada setiap malam, tidak diwajibkan lagi berpuasa, dan juga ketentuan lainnya yang memberatkan. Anak-anak kecil biasanya sangat bergembira ketika Bulan Ramadhan berakhir. Apapun suasana batin pada masing-masing orang, tatkala bulan Ramadhan ini berakhir, —–khususnya Ramadhan tahun ini, terdapat sesuatu yang menggembirakan bagi kebanyakan orang, ialah tidak adanya perbedaan dalam penentuan hari raya. Semua orang, ——mungkin kalau ada jumlahnya amat kecil, merayakan idul fitri tahun ini pada hari Jumát tanggal 10 September 2010. Kegembiraan itu dirasakan, diucapkan dan disampaikan oleh kebanyakan orang. Mereka menyatakan rasa syukurnya, atas jatuhnya hari raya, pada hari yang sama. Memang sementara orang mengatakan bahwa perbedaan jatuhnya awal bulan puasa dan juga hari raya tidak ada masalah. Tetapi sesungguhnya tidak demikian bagi masyarakar pada umumnya. Para tokoh umat selalu menghibur bahwa perbedaan itu adalah rakhmat. Akan tetapi, bagi sementara orang mencari rakhmat dari perbedaan itu sungguh sulit. Umpama dalam satu keluarga, antara ayah, ibu dan anak-anaknya memulai puasa atau merayakan idul fitri berbeda harinya, maka akan terjadi problem di keluarga itu, tidak sebagaimana jika bersamaan. Apalagi orang di pedesaan, perbedaan itu terasa betul dampaknya. Banyak orang desa, —–bahkan mungkin juga orang kota, tidak bisa memahami, mengapa bulannya satu, dan sebesar itu, tatkala menentukan awal bulan masih terjadi perbedaan. Sedemikian sulitkah, umat manusia ini melayani Tuhan, agar ibadahnya diterima. Kiranya, hal-hal yang terkait dengan ritual tidak sesulit menjalankan amal ibadah dalam bentuk lainnya. Dulu ketika Rasulullah masih ada, menurut beberapa riwayat, terjadi perbedaan-perbedaan dalam menjalankan ritual. Akan tetapi ternyata, semua yang dilakukan oleh para shahabat yang berbeda-beda itu dibenarkan oleh Nabi. Perbedaan itu di antaranya, ialah pada suatu saat tidak ditemukan air, sehingga para shahabat nabi bertayamum. Setelah shalat usai, ternyata jatuh hujan, sehingga sementara shahabat ambil air wudhu dan shalat kembali. Sedangkan sementara lainnya mencukupkan shalat yang dilakukan hanya dengan tayyamum. Maka terjadi perbedaan di antara para shahabat. Perbedaan itu setelah ditanyakan kepada Nabi, ternyata dibenarkan semuanya. Kasus yang lain, pada suatu perjalanan bersama, para shahabat, —–agar aman, oleh Nabi dianjurkan untuk shalat di tempat yang ditentukan. Atas anjuran itu sebagian shahabat khawatir akan kehabisan waktu shalat, sehingga berinisiatif shalat di perjalanan. Sementara shahabat lainnya, bersikukuh mengikuti anjuran Nabi. Maka, lagi-lagi terjadi perbedaan. Atas kejadian itu, ditanyakan kepada Nabi, maka oleh Rasulullah, semuanya dibenarkan. Masih dalam hal perbedaan, dalam suatu riwayat, para jamaáh haji setelah dari Arafah dan mabith di Muzdhalifah, sebagian pergi ke Minna untuk melempar jumrah aqobah, sementara lainnya ada yang menyembelih dam, tahallul dan lainnya. Kasus adanya perbedaan itu, ditanyakan kepada Nabi, maka Nabi menjawab bahwa semuanya boleh. Artinya, semuanya dibenarkan. Oleh karena itu dalam hal ritual, sebenarnya sejak zaman Nabi di antara para Shahabat telah terjadi perbedaan-perbedaan dalam menjalankannya. Namun, sepanjang perbedaan itu masih dalam kerangka jenis ritual yang dimaksud, ternyata dibenarkan semuanya oleh Nabi. Perbedaan dalam menjalankan ritual itu, ternyata masih terjadi hingga sekarang. Di Indonesia, perbedaan itu tejadi dalam beberapa hal. Akan tetapi yang kadang menyita perhatian adalah tentang penentuan awal ramadhan dan hari raya, baik idul fitri maupun idul adzha. Bagi masyarakat awam pada umumnya menginginkan agar ada persatuan antara umat, setidak-tidaknya dalam hal penentuan hari sebagaimana disebutkan di muka. Idul fitri tahun ini, rupanya jatuh pada hari yang sama, yaitu pada hari Jumát, tanggal 10 September 2010. Kebersamaan hari raya ini, di mana-mana disambut gembira oleh banyak kalangan. Mereka banyak bersyukur, hari raya bisa sama. Umpama para ulama’dan tokoh agama, tidak saja meru’yah dan mengkhisab peredaran bulan, tetapi juga meru’yah dan mengkhisab keinginan umatnya agar bersatu, maka umat Islam akan merasakan kegembiraan dan sekaligus kebanggaan yang luar biasa. Apalagi sebenarnya, persoalan ritual jika mengacu pada beberapa riwayat tersebut di muka, ternyata semuanya dibenarkan. Atau lebih jelasnya, bahwa sekalipun berbeda-beda dalam melaksanakan ritual, ternyata masing-masing tidak ada yang disalahkan. Lalu jika demikian, maka atas dasar apa sebenarnya, kita tidak mengutamakan persatuan yang hal itu jelas diperintahkan oleh Allah, melalui kitab suci Al Qurán ?. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
