Pada setiap berkesempatan melakukan perjalanan dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya, saya selalu membayangkan betapa beratnya beban Rasulullah ketika itu, tatkala melakukan hijrah. Sebuah perjalanan yang harus melewati padang pasir dan gunung-gunung batu yang panas dan tidak sembarang tempat tersedia air untuk diminum. Jarak itu cukup jauh, apalagi diukur dengan saat itu yang belum tersedia alat transportasi modern seperti sekarang ini, sehingga perjalanan itu terbayangkan amat berat. Namun, beban berat itu masih harus ditambah lagi, karena di perjalanan Nabi masih dikejar-kejar oleh orang-orang yang memusuhi dan atau membencinya. Hijrah nabi bukan sebagaimana banyak orang melakukan migrasi, yaitu untuk mendapatkan pekerjaan. Hijrah Nabi dilakukan dalam rangka membangun peradaban yang mulia. Sebagai seorang Rasul ia mendapatkan tugas mulia menyebarkan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan yang datang dari Allah. Tugas itu, tidak mudah ditunaikan. Nabi harus menanggung beban dan resiko yang sedemikian berat. Memang, jika kita mengikuti sejarah perjalanan hidup para nabi dalam menyampaikan misi dakwahnya tidak pernah mengalami hal mudah. Tugas-tugas itu selalu mendapatkan tantangan yang luar biasa beratnya. Namun, tantangan itu selalu dihadapi dengan penuh keikhlkasan, berani, sabar dan istiqomah. Peringatan datangnya tahun baru 1 Muharram 1431 H ini, kiranya sangat penting untuk dijadikan momentum untuk melakukan perenungan kembali, lebih-lebih tatkala bangsa ini sedang membangun dan menghadapi problem yang tidak kecil dan ringan seperti sekarang ini. Setelah nabi hijrah, dan kemudian membangun masyarakat Yatsrib yang kemudian nama itu diubah menjadi madinah, ternyata berhasil luar biasa dan diakui oleh berbagai kalangan hingga saat ini. Keberhasilan itu, dengan tanpa mengabaikan factor lain, —–misalnya adanya scenario Tuhan, maka ada banyak hal mengagumkan, di antaranya yaitu terkait dengan pendekatan yang dilakukan oleh Nabi. Beberapa di antaranya, misalnya Nabi segera membangun masjid. Tempat ibadah itu selain digunakan sebagai tempat bersujud untuk meningkatkan kualitas manusia secara terus menerus, juga digunakan sebagai tempat agar setiap orang saling bertemu. Silaturrahim selalu dipupuk agar umat bersatu dan kokoh. Bahkan, persatuan dibangun antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Dengan pembangunan masjid, maka artinya spiritualitas mutlak perlu diutamakan. Manusia disebut berkualitas, tidak cukup hanya berhasil mengembangkan aspek intelektual, melainkan juga spiritualnya. Melalui spiritual, manusia akan mengenal dan selalu berkomuniasi dengan Dzat Pencipta. Melalui spiritual pula, manusia akan mengenal dirinya secara mendalam. Dengan kegiatan spiritual maka orang akan membayangkan dari mana, sedang di mana, dan akan ke mana kehidupan ini berlanjut. Aspek penting yang dibangun oleh Nabi adalah akhlak. Bahkan kehadiran nabi, sesungguhnya adalah untuk membangun akhlak yang mulia. Akhlak dipandang sebagai fondasi yang harus dibangun secara kokoh. Keadaan masyarakat sesungguhnya tergantung dari akhlak mereka. Jika akhlak ini berhasil terbangun maka semua aspek, baik politik, ekonomi, social, budaya dan lain-lain akan terbangun dengan sendirinya. Sebabliknya, apapun yang dilakukan jika akhlak mereka runtuh maka, runtuh pula semua sendi kehidupan ini. Dalam sejarahnya, tidak pernah nabi memberikan target-target yang terkait dengan pengembangan ekonomi, social, ilmu pengetahuan, politik dan lain-lain. Tetapi dengan pembangunan akhlak individu dan masyarakat, maka semua aspek itu terbangun dengan sendirinya. Nabi tatkala membangun masyarakat Madinah, tidak pernah berbicara tentang jumlah anggaran yang diperlukan, rancangan-rancangan pembangunan sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sekarang. Hasilnya ternyata lebih kokoh, bertahan lama, terpelihara hingga sekarang ini. Selain membangun manusia melalui tempat ibadah, dan konsep kebersamaan yang disebut dengan berjamaáh, nabi mengajak dan sekaligus memberi contoh agar antar sesama saling mengenal, memahami, saling menghargai, mencintai, dan akhirnya terjadi tolong menolong. Nabi tidak pernah mengajarkan agar berebut, kecuali berebut untuk saling melakukan kebaikan, atau disebut sebagai fastabiqul khairaat. Nabi mengajak dan sekaligus memberi contoh bagaimana menyayangi dan menolong yang lemah, yang miskin, yang cacat, yang bodoh, anak-anak, para janda, orang tua yang sudah tidak mampu. Nabi mengajarkan bagaimana berbuat baik dengan sesama, keluarga, orang tua, guru dan para pemimpinnya. Selain itu bagaimana pihak-pihak yang kuat dalam berbagai hal harus menolong pihak-pihaik yang lemah, yang perlu ditolong. Nabi mengajari bagaimana bertetangga, menghormati tamu, memperlakukan orang yang menderita atau lagi susah, dan juga orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Nabi mengajarkan tentang hidup yang dipandang mulia. Nabi membangun akhlak secara utuh terhadap orang-orang yang hidup pada saat itu dan hari kemudian. Semua itu dilakukan dengan benar, amanah, tabligh, dan fathonah. Selain itu, nabi juga selalu ikhlas, sabar dan istiqomah. Inilah di antara yang bisa digambarkan dari apa yang dilakukan oleh Nabi setelah hijrah ke Madinah dalam membangun masyarakatnya. Banyak para pemimpin dan masyarakat pada saat ini menyebut-nyebut istilah madinah dan ingin menjadikan apa yang dilakukan Nabi sebagai tipe ideal dalam membangun masyarakat. Akan tetapi, ternyata pendekatan yang dipilih, tidak sebagaimana nabi melakukannya. Nabi membangun masyarakat melalui akhlaknya dengan pendekatan uswah hasanah. Jika akhlak seseorang dan masyarakat sudah terbangun, maka kehidupan ekonomi, politik, hukum, social, dan lain-lain akan mengikut menjadi baik dengan sendirinya. Selanjutnya, hal-hal yang berbau korupsi, kolusi, nepotisme, berbohong, tidak saling percaya, atau tidak amanah, mementingkan diri sendiri, akan hilang pula secara otomatis. Begitu sebaliknya, jika keadaan akhlak buruk dan bobrok, maka berapa pun anggaran disediakan, akan lenyap dan tidak membekas. Selain itu, sehari-hari orang hanya akan saling menuduh, mencurigai, mengadili dan akhirnya saling memasukkan ke penjara. Tempat itu akan menjadi penuh sesak, namun penyimpangan juga tidak akan surut atau bahkan berkurang. Karena itulah Nabi hijrah membangun akhlak. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
