Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Ironi Umat Islam

Siapapun yang mengenal  Islam dengan baik akan mengatakan bahwa,  ajaran Islam adalah sangat mulia, akan  mengantarkan umatnya meraih kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akherat. Islam mendorong umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadikan manusia unggul, berkeadilan, memiliki spiritualitas yang dalam dan menganjurkan agar tugas-tugas hidup dijalankan secara professional.

  Apabila hal seperti itu dijalankan dengan baik,  misalnya umat Islam di mana saja menjadi kaya ilmu pengetahuan maka akan selalu menempati posisi strategis, menjadi tauladan bagi umat yang lain, dan bahkan juga memberikan manfaat bagi siapapun. Akan tetapi ternyata, hingga sekarang di mana-mana,  gambaran ideal itu belum diraih oleh ummat Islam.   Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, umat Islam masih mengalami ketertinggalan. Universitas-universitas yang berada di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masih belum berhasil menang bersaing dengan perguruan tinggi di negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam.  Bahkan umat Islam, dalam pengembanan ilmu pengetahuan dan teknologi,  masih harus belajar dari umat lain.   Demikian pula, temuan-temuan ilmiah yang dihasilkan oleh ilmuwan Islam masih kalah, baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya. Pusat-pusat riset di neara-negara yang mayorotas penduduknya beragama Islam belum dikembangkan secara maksimal. Inilah sesungguhnya sebagai awal yang menjadikan ummat Islam ketinggalan dibandingkan dengan umat lainnya. Umat Islam dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi belum menjadi pelopor, melainkan sebaliknya masih menjadi pengikut, atau bahkan masih menjadi  konsumen.   Selain itu,  umat Islam masih kaya problem internalnya sendiri.  Umat Islam masih terbelenggu oleh berbagai persoalan berat, misalnya mutu pendidikan yang rendah dan kurang merata, ekonomi yang masih lemah, banyaknya pengangguran, pelayanan kesehatan yang belum memadai, dan pusat-pusat pengembangan ilmu masih tertinggal. Mengejar ketertinggalan itu, semakin lama terasa semakin jauh. Pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh Barat,  menjadikan semakin sulit dikejar, hingga ketertinggalan itu semakin jauh.   Keadaan yang tidak seimbang itu melahirkan persoalan lainnya, yaitu terjadinya hegemoni negara-negara maju terhadap negara berkembang, dalam hal ini adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Isu-isu lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, HAM,  dan apa saja  menjadikan posisi negara-negara berkembang  semakin lemah. Belum lagi, terkait dengan penyediaan modal dan usaha-usaha transnasional yang meraksasa, menjadikan mereka yang lemah semakin tidak berdaya.   Semua problem itu sebenarnya berawal dari kelemahan umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal sebenarnya, pesan al Qurán melalui ayat yang pertama kali adalah tentang ilmu pengetahuan. Pesan mulia itu  berhasil ditangkap dan disadari. Akan tetapi oleh sementara pihak dipahami secara terbatas, yaitu hanyalah menyangkut  ilmu yang terkait dengan ketuhanan. Maka yang muncul dalam dunia Islam adalah ilmu tauhid, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqh, ilmu tasawwuf, akhlak dan tarekh dan sejenisnya.   Selain itu, tatkala  mereka mengkaji tafsir tidak seluruhnya berhasil  menangkap makna dalam  perspsktif yang luas. Sebagai contoh, perintah membaca dalam al Qurán  belum melahirkan semangat meneliti, membangun pusat-pusat riset, dan kajian ilmiah di berbagai bidang ilmu. Akibatnya tradisi ilmu di kalangan umat Islam belum berkembang. Sebaliknya,  bangsa-bangsa barat tanpa merasa diperintah kitab suci, mereka mengembangkan pusat-pusat kajian, penelitian, laboratorium  modern, hingga berhasil menjadi pelopor dalam soal ilmu dan teknologi.  Hasilnya,  teknologi canggih seperti transportasi, komunikasi, satelit, computer,   dan  lainnya berhasil ditemukan oleh mereka.   Melalui teknologi transoportasi itu misalnya,  maka jarak antar wilayah dan bahkan benua tidak menjadi halangan dalam melakukan mobilitas. Dengan teknologi transportasi modern, orang bisa saja memprogramkan, bahwa sarapan pagi di  Austrasia, makan siangnya  di  Jakarta, sedangkan makan malam di Jedah dan atau lainnya. Dunia menjadi semakin kecil. Sebuah pengalaman  konkrit,  pada beberapa  minggu yang lalu,  saya  berangkat dari Moscow pada jam 2 siang, maka ternyata besuk harinya, pada  sekitar jam 10.00 siang  sudah bisa ikut rapat  di Jakarta. Ini bisa terjadi karena adanya sarana transportasi yang sedemikian modern.   Demikian pula dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi. Dulu sebelum ada computer, website, internet, para daí tatkala memberi ceramah harus datang ke suatu tempat dalam jarak tempuh yang lama dan bahkan beberapa hari. Maka pada saat sekarang, kegiatan dakwah bisa menggunakan fasilitas  modern, misalnya melalui internet, website, facebook, scribb, twitter dan lain-lain. Jika mau, para daí bisa menulis  buah pikirannya dan selanjutnya diposting melalui sarana sebagaimana disebutkan di muka, maka dalam waktu sekejab bisa dibaca oleh siapapun di muka bumi ini.   Contoh lainnya, seorang nelayan dengan menggunakan sarana satelit bisa mengetahui dimana posisi gerombolan ikan di laut dalam berbagai jenisnya. Dan dengan alat modern pula, ikan tersebut  ditangkap  dan sekaligus diolah secara cepat. Selanjutnya,  dengan peralatan modern pula, hasil tangkapan itu dipasarkan ke kota-kota di dunia, memilih harga yang paling menguntungkan.  Sebaliknya,  para nelayan tradisional yang tidak menggunakan alat modern, mereka dengan perahu sederhana mengejar ikan yang belum tahu secara persis tempatnya. Dengan cara itu, pendapatannya tidak seberapa,  atau  bahkan tidak mendapatkan apa-apa.   Kekalahan ilmu dan teknologi juga berakibat pula kalah dalam semua sektor kehidupan, baik dalam ekonomi, politik, sosial, budaya  dan sebagainya. Mereka yang kalah akan tertinggal dan semakin menderita. Itu semua sebagai akibat kekalahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam sebenarnya, melalui al Qurán,  jauh sebelumnya sudah mengingatkan akan pentingnya ilmu  pengetahuan itu. Namun rupanya, perintah itu belum dipahami secara utuh dan sempurna  oleh umatnya.   Keadaan seperti itulah yang menjadikan ironi di kalangan umat Islam.  Ajaran islam yang sedemikian indah, mulia dan agung,  ternyata  belum  berhasil menjadikan umat Islam maju dan selalu berada di depan dalam mengembangkan peradaban dunia. Sebaliknya yang terjadi adalah  justru masih berada di bagian belakang atau tertinggal. Ajaran Islam yang sedemikian hebat,   ternyata belum berhasil menjadikan  umatnya ideal seperti yang digambarkan, yaitu khoirul ummah.   Ironi seperti digambarkan  itu, menurut hemat saya, adalah diawali dari kurang sempurnanya dalam menangkap makna ajaran Islam itu sendiri. Mereka kadang masih bersengketa dalam persoalan kecil dan sederhana, misalnya dalam persoalan ritual.  Para tokohnya sekalipun,  belum semua sadar bahwa  ummatnya masih  terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan. Maka budaya ilmu di kalangan umat Islam harus  dikembangkan, sehingga ke depan tidak terjadi lagi ironi yang terus menerus sebagaimana sekarang ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *