Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Islam Dan Ilmu Pengetahuan

Sudah sering kali judul ini saya bicarakan. Pagi ini saya tulis kembali  secara  singkat, karena kebetulan, ——pagi ini juga,  saya harus segera berangkat untuk memenuhi undangan seminar di STAIN Kediri,  membicarakan tentang  hubungan antara Islam dan iLmu pengetahuan. Sebelumnya, saya menanyakan kepada panitia yang kebetulan datang menemui saya, mengapa persoalan ini masih diangkat kembali dalam seminar. Pertanyaan  tersebut dijawab, untuk memberikan pencerahan dan sekaligus legitimasi kembali, terhadap  semua warga kampus, agar mereka  lebih yakin dan semakin jelas pemahamannya.

  Rupanya sesuatu yang amat mudah dipahami dan juga sudah berjalan sekian lama, masih memerlukan pembicaraan  yang diulang ulang. Mungkin sementara orang sudah bosan mendengarkan pembicaraan tentang hal ini. Akan teapi ternyata sebagian lainnya masih memerlukan. Saya tidak merasa heran dengan keadaan itu, sebab ternyata hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain.   Topik seperti ini  ternyata juga  masih dibahas di kampus-kampus perguruan tinggi Islam di banyak negara Islam sendiri. Tahun lalu, saya diundang oleh universitas al Quránul Kariem di Sudan membicarakan hal itu. Pada pertemuan itu diundang pimpinan perguruan tinggi Islam baik dari Sudan sendiri, maupun dari negara-negara lain seperti dari Mesir, Maroko, Yaman, Siria, Irak, Yordan dan lain-lain. Sebelumnya saya mengira,  bahwa topik tersebut  sudah selesai dan tidak perlu dibahas lagi. Tetapi ternyata masih dianggap menarik dan perlu dibahas.   Memang, sementara orang sedemikian mudah memahami hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi bagi yang lain rupanya agak sulit.   Perbedaan  itu rupanya disebabkan oleh pemahaman tentang Islam yang berbeda-beda.  Bagi mereka yang memahami Islam sebatas sebagai agama, maka mengkaitkan di antara keduanya sedemikian sulit. Namun bagi mereka yang memahami bahwa Islam adalah ajaran yang bersumberkan al Qurán dan hadits nabi, rupanya hal itulah yang menjadikan mudah memahaminya.      Tatkala agama dipandang sebagai ilmu tentang fiqh, tauhid, akhlak, dan tasawwuf, maka yang dipikirkan adalah, bagaimana mengkaitkan antaraajaran  tersebut  dengan ilmu  fisika, biologi, kimia, psikologi, sosiologi, antropologi dan lain-lain. Tentu bukan pekerjaan mudah.  Mereka tidak mudah membayangkan, misalnya hubungan antara wudhu dengan fisika, shalat dengan kimia dan seterusnya. Belum lagi, akan muncul  pertanyaan selanjutnya,  untuk apa hal itu dihubung-hubungkan,  dan seterusnya.   Berbeda dengan itu, bagi mereka yang memahami bahwa Islam adalah ajaran yang bersumber dari al Qurán dan hadits nabi, maka sedemikian mudah  hubungan  di antara keduanya dilihat dan dipahami. Mereka  memahami bahwa al Qurán sejak ayat pertama diturunkan adalah tentang perintah  mengembangkan ilmu pengetahuan. Suruhan membaca adalah sebagai pertanda betapa pentingnya persoalan itu ditunaikan. Perintah membaca tentu dimaknai luas. Orang yang sanggup melakukan kegiatan membaca, maka siapapun akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas. Berangkat dari sini maka akan tampak dengan jelas, hubungan membaca sebagai perintah yang datangnya dari al Qurán dengan ilmu pengetahuan.     Mereka kemudian juga tahu bahwa orang sukses di bidang ekonomi, politik, sosial dan lain-lain adalah dimulai dari kemampuan mereka dalam membaca. Lagi pula kegiatan membaca ternyata tidak mudah. Orang yang sanggup membaca kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan sosial ternyata tidak banyak.  Kemampuan itu memerlukan bekal berupa kecerdasan dan alat bacaan yang tangguh.  Mereka yang  pandai dan memiliki kemapuan untuk membaca, maka   itulah akhirnya yang akan  mendapatkan keutungan dalam kehidupan ini.          Lebih dari itu,  banyak lagi ayat al Qurán berupa perintah untuk memperhatikan kejadian dan kehidupan alam, mulai dari  kejadian manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Al Qurán misalnya menyuruh agar manusia memperhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung-gunung ditegakkan. Bukankah perintah itu sebenarnya mengandung arti bahwa umat Islam dianjurkan untuk mempelajari fisika, kimia, biologi, astronomi dan lain-lain.   Oleh karena itu, kesulitan mengkaitkan antara  Islam dan ilmu pengetahuan berawal  dari bagaimana memahami Islam itu sendiri. Mereka yang memahami Islam sebatas sebagai tuntunan ritual sebagaimana banyak terjadi selama ini, memang akan sulit mencari keterkaitan di antara keduanya. Namun bagi mereka yang berpikirnya berangkat dari al Qurán dan hadits, maka hal itu sangat mudah. Bahkan mereka akan mengatakan bahwa antara ilmu dan Islam tidak akan bisa dipisahkan di antara keduanya.  Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *