Suatu hari saya berada di ruang tunggu di bandara Soekarno-Hatta menanti pemberangkatan pesawat yang membawa saya ke Juanda. Tiba-tiba dari jauh ada lelaki seusia saya yang menghampiri dan langung menyebut nama saya. Saya agak terkejut siapa gerangan. Ternyata dia adalah teman lama waktu kuliah yang sejak lulus belum pernah berjumpa. Tetapi dia mengikuti perjalanan hidup saya setidaknya melalui web pribadi saya. Seperti biasa, kita berceritera tentang keluarga, profesi masing-masing, dan juga tempat tinggal. Setelah lulus kuliah, kawan itu bekerja di sebuah perusahaan swasta di luar Jawa dan hingga sekarang. Dalam bahasa agama, dia istiqomah menekuni pekerjaannya yang memang menjadi cita-citanya sejak dulu.
Sebagai teman yang dulu sangat akrab, dia terbuka menceriterakan pengalamannya bekerja selama ini. Ada kisah menarik yang dia ceritakan. Sebagai pegawai senior di bagian rekrutmen, dia tidak bisa menghindari permintaan untuk membantu orang lain. Namun demikian, dia tetap berpegang teguh pada kompetensi karyawan atau pegawai yang direkrut sesuai standar yang ditentukan perusahaan. Suatu waktu, dia menerima beberapa lamaran kerja calon karyawan. Setelah dites, ada dua karyawan yang kualitasnya sama-sama baiknya. Padahal yang diterima hanya satu sesuai kebutuhan. Merasa sayang jika calon karyawan baik itu lepas, dia lapor ke atasannya dan meminta agar keduanya bisa diterima. Wal hasil, keduanya diterima. setelah satu minggu tes, kedua pelamar itu masuk sebagai karyawan baru dan mulai bekerja secara normal sebagaimana yang lain. Sang kawan lama itu menlanjutkan ceritanya bahwa hanya selang enam bulan setelah masuk, salah seorang karyawan itu mulai berulah. Jangankan berterimakasih kepada dia yang pernah memabantu, malah jadi pecundang dengan sering membangkang dengan menolak tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dia mengeluh kepada saya sangat menyesal merekrut orang yang tidak bisa membalas jasa baiknya itu. Dia minta pendapat saya mengatasi masalah tersebut dan enaknya karyawan baru diapakan. Dia tampak sangat marah dan kecewa berat dengan perilaku karyawan baru itu yang sebenarnya dia akui dia itu memang pintar. Tetapi istilah dalam bahasa Jawa, dia kurang ajar. Dia sangat menyesal mengapa dia dulu mengusulkan ke atasannya untuk menerima kedua-duanya. . Saya menyampaikan pandangan saya bahwa di jaman seperti sekarang ini orang berpikir sangat pragmatis untuk mencapai tujuan hidupnya. Nilai-nilai pertemanan dan persaudaraan — yang merupakan pilar kekuatan integrasi dan soliditas sosial— tidak lagi diindahkan. Sebaliknya, orang sering menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan hidupnya. Orang tega mengorbankan orang lain dengan cara apa saja. Saya ingat ajaran filsafat Thomas Hobbes bahwa salah satu sifat abadi manusia adalah homo homini lupus. Artinya, manusia itu serigala bagi yang lain. Kedamaian dan harmoni bisa tercipta karena masing-masing masih dalam posisi saling diuntungkan dan menguntungkan. Jika tidak lagi saling menguntungkan, maka sang kawan dekat pun bisa menjadi lawan untuk dihempaskan. Karena itu, kepada kawan saya itu saya sampaikan saat ini kita jangan berharap memperoleh ucapan dan rasa terima kasih dari orang yang pernah kita bantu. Malah, bisa jadi orang yang pernah kita bantu justru menjadi musuh utama kita. Mendengar penjelasan saya, sang kawan itu mengangguk-angguk tanda setuju. Karena keberangkatan pesawat ditunda hingga dua jam, saya malah bisa bercerita lebih lama lagi untuk menenangkan hati kawan tersebut. Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Suatu saat ada seorang gadis cantik di sebuah kampung tidak jauh dari kota, tetapi buta. Seiring dengan pertumbuhan jiwa dan fisiknya, sang gadis mulai memiliki rasa cinta pada lawan jenis. Dia jatuh cinta pada seorang lelaki kendati tidak bisa melihat wajahnya. Tak terduga, lelaki itu pun menyambut rasa cinta perempuan itu karena memang cantik. Bisa dibayangkan betapa senangnya hati perempuan itu karena cintanya diterima. Kawan itu terus saja mendengarkan cerita saya dengan cermat. Hari demi hari rasa cinta sang lelaki terhadap gadis tersebut semakin mendalam dan malah ingin segera mengawininya. Anehnya, sanga gadis malah jual mahal. Gadis itu mau dikawin dengan syarat lelaki itu mau memberikan matanya kepadanya agar bisa melihat. Saking cintanya, sang lelaki itu rela berkorban memberikan kedua bola matanya kepada gadis tersebut sebagai bukti rasa cintanya. Wal hasil, berkat pemberian mata sang lelaki gadis itu akhirnya bisa melihat dunia dan wajah lelaki yang telah mengorbankan kedua matanya. Dasar gadis tidak bermoral, setelah kedua matanya bisa melihat dan mendapatkan lelaki yang telah memberinya mata ternyata tidak secakep yang ia bayangkan, gadis itu dengan teganya meninggalkan sang lelaki. Bisa dibayangkan betapa hancur hati sang lelaki itu yang telah berkorban demikian besar dengan menjadi buta. Jangankan perkawinan yang ia dapatkan, tetapi justru kekecewaan karena ternyata gadis itu beralih cintanya kepada lelaki lain yang tidak buta. Akhirnya lelaki yang menjadi buta itu hanya pasrah menerima kenyataan pahit itu. Dia tidak bisa mencari di mana perempuan yang telah membawa matanya itu kini berada. Dia tidak lagi bisa melihat keindahan dunia dan isinya. Penderitaannya semakin bertambah karena hari demi hari keluarganya pun juga tidak menghiraukannya. Justru banyak yang menyalahkannya karena telah melakukan sesuatu yang konyol hanya karena emosi cinta. Di tengah kebingungan karena menjadi buta, dia teringat punya kawan yang sebetulnya tidak begitu dekat. Sang kawan itu berhati mulia. Dia sedih melihat nasib kawan lamanya yang kini menjadi buta itu. Dia bantu dengan menenangkan pikirannya dan sering menuntunnya jalan-jalan untuk melihat keramaian dunia yang dulu pernah dilihatnya. Sang kawan itu dengan sabar meladeni apa saja kemauan lelaki merana itu. Padahal, dia bukan kawan dekat dan saudaranya. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut? “Iya, apa mas?”tanya kawan saya itu. Jangan berharap balasan dari orang yang pernah kita bantu. Jika kita berbuat baik kepada siapa saja jangan mengharap balasan baik dari mereka. Perbuatan baik itu kita niati sebagai ibadah. Kisah pilu tadi menggambarkan yang membantu lelaki buta adalah justru orang yang selama ini tidak pernah dia perhatikan. Andai saja orang yang pernah kita bantu tidak membalasnya, yakinlah bahwa amal baik yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali kepada kita sendiri berupa balasan, tidak dari orang yang kita bantu tetapi justru dari sang Maha Pemberi, yakni Allah swt. Karena itu, jangan takut berbuat baik kepada siapa pun. Hanya masalahnya balasan dari Allah itu bisa cepat datang, agak lambat, atau sangat lambat untuk disesuaikan dengan kemampuan manusia menerima balasan Allah. Allah sangat Maha Tahu kapan memberikan sesuatu kepada umatnya agar membawa maslakah baginya. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 14. 20 dan petugas sudah mengumumkan bahwa penumpang pesat Garuda menuju bandara Juanda diharap segera masuk peswat melalui pintu yang tidak jauh dari tempat duduk kami berdua. Sang kawan itu tampak lega mendenagr cerita saya dan menyampaikan terima kasih atas kisah yang mengandung pelajaran berharga itu. Kami bersalaman dan menyampaikan salam untuk keluarga masing-masing dan berharap bisa ketemu di lain kesempatan dengan kisah lain. ___________ Jakarta, 16 Desember 2010
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
