Tidak sebagaimana yang saya tahu tentang orang Arab selama ini, kali ini saya menemui orang Arab yang agak berbeda pandangannya tentang berdakwah. Orang yang saya maksudkan bernama Syaikh Shalih Tsunayan yang memimpin dan memiliki banyak perusahaan yang bergerak di bidang property, perminyakan, sampai air mineral. Orang Arab pada umumnya dalam berdakwah saya nilai terlalu normative. Al-Qur’an dan hadits nabi diterjemahkan secara kaku. Demikian pula tatkala mereka berdakwah. Mereka menyeru kepada Islam tanpa memperhatikan aspek-aspek budaya, adat istiadat, dan juga cara berpikir mereka. Cara seperti ini kemudian tidak jarang melahirkan sikap-sikap yang kurang produktif untuk kepentingan dakwah itu sendiri. Berbeda dengan itu adalah tatkala saya bertemu dengan seorang ulama’ sekaligus pengusaha di Jeddah tersebut. Dia menjelaskan kepada saya bahwa sebaiknya dakwah dilakukan dengan hati lembut, akhlak yang mulia, dan penuh kasih sayang. Ia memandang bahwa Islam adalah cara hidup yang mulia, meliputi keimanan, peribadatan kepada Allah, perilaku dalam kehidupan sehari-hari dan akhlakul karimah. Menanamkan keyakinan bukan pekerjaan mudah, begitu juga halnya membangun akhlak mulia. Orang akan sulit diubah keyakinan dan akhlaknya, apalagi hal itu telah lama dianut dan telah dianggap benar dari generasi ke generasi. Mengubah keyakinan akan lebih sulit lagi, jika dengan keyakinan lama mereka telah mendapatkan keuntungan dalam hidupnya. Itulah sebabnya, maka penganut Islam di muka bumi ini sekalipun ajaran Islam ini sedemikian indah dan dakwah sudah dilakukan sekian lama, ternyata belum menjangkau separo dari penduduk bumi. Islam baru dipeluk oleh sekitar 25 % dari jumlah penduduk dunia. Sebagian lainnya beragama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain, bahkan belum memeluk agama apapun. Setiap muslim berkewajiban untuk menyampaikan dakwah. Akan tetapi dalam menyeru kepada Islam tidak boleh dipaksakan. Islam harus disampaikan dengan cara yang baik, bijak, lembut, dan arif atau hikmah. Cara dakwah seperti itu juga dilakukan oleh Rasulullah. Rasulullah tidak memaksa orang untuk memeluk agamanya. Rasulullah hanya menyeru, memberikan kabar gembira, dan memperingatkan tentang kebenaran Islam. Al-Qur’an memerintahkan : ud’u ila sabili rabbika bi al-hikmah wa al-mau’izhah al- hasanah, wa jadilhum bi al-lathi hiya ahsan. Islam tidak boleh dipaksakan. Tidak ada paksaan dalam beragama. La ikraha fi ad-din. Dalam ayat lain dikatakan: lakum dinukum wa liyadin. Islam adalah dipandang sebagai petunjuk dari Allah. Nabi dan para pewarisnya yang disebut sebagai ulama, hanyalah sebatas berperan sebagai penerus dalam menyampaikan dakwah itu. Nabi dan para pewarisnya pula hanya menyampaikan kabar gembira, memperingatkan, dan memberikan tauladan yang baik atau yang disebut dengan uswah hasanah. Jika Nabi memiliki sifat ma’shum, artinya terpelihara dari dosa, maka sangat berbeda dengan umatnya, termasuk para pewarisnya, yakni para ulama. Ulama sebagaimana manusia pada umumnya memiliki sifat salah dan lupa. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada seorang pun yang boleh merasa paling benar dan sempurna dalam ber-Islam. Derajat keber-Islaman seseorang, adalah hanya Tuhan saja yang tahu. Tingkat kualitas keberagamaan akan diketahui dalam sebuah peradilan yang maha adil, ialah di akhirat nanti. Oleh karena itulah maka seruan agar setiap orang meningkatkan ketaqwaan disampaikan kepada siapa saja pada setiap waktu. Atas dasar pandangannya seperti itu, pengusaha Saudi yang sekaligus juga seorang ulama ini, mengajak agar dalam berdakwah supaya dilakukan secara terbuka dengan penuh kasih sayang kepada siapapun. Dakwah sebagaimana pernah ia lakukan di beberapa negara di Afrika, yang penduduknya amat miskin, disampaikan kepada siapapun, baik yang sudah beragama Islam maupun yang belum. Dakwah yang ia lakukan melalui perbaikan ekonomi. Orang-orang dari kelompok manapun dikumpulkan, lalu diajak makan bersama, dan kemudian baru diberikan gambaran tentang ajaran Islam. Pada bagian dakwahnya, mereka diajari bagaimana menjaga kebersihan, saling mengenal, memehami, menghormati, menyayangi dan saling bergotong royong. Diperkenalkan bahwa Islam adalah agama yang mengenalkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, kualitas kerja atau amal sholeh, dan menjaga akhlak yang mulia. Dakwah untuk mengajarkan tentang cara hidup mulia yang disebut dengan jalan Islam itu, menurutnya harus dilakukan dengan hati yang lembut. Dakwah tidak mengenal kalah dan menang. Jika saja dakwah dikatakan menang, maka artinya orang-orang yang menjadi sasaran dakwah itu berhasil mengenal kehidupan yang lebih baik dan mulia. Keberhasilan dakwah mestinya diukur dari keberhasilannya membawa orang-orang yang didakwahi menjadi mengenal Tuhan, berilmu pengetahuan, tercukupi kehidupan ekonomi dan lainnya, beramal sholeh dan berakhlakul karimah. Untuk mendapatkan hasil ideal seperti itu, tidak akan mungkin dicapai sekaligus. Keberhasilan itu selalu diraih secara bertahap. Islam yang bersifat menyeluruh dan meliputi seluruh aspek kehidupan, maka tidak mungkin dikuasai sekaligus. Selain itu, keluasan Islam juga menjadikan masing-masing pemeluknya menangkap secara berbeda-beda. Sebagian orang lebih dan bahkan secara mendalam menangkap Islam dari aspek spiritualnya, maka muncul orang-orang yang disebut sebagai kaum sufi. Sementara yang lain menangkap dari aspek ilmu pengetahuannya, hukum, pendidikan, budaya dan lain-lain. Mereka yang menangkap dari aspek ilmu, misalnya maka yang bersangkutan berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari upaya mengimplementasikan ke-Islamannya itu. Hasil dari usahanya itu, setiap orang juga berbeda-beda, mulai dari mereka yang sebatas berhasil menangkap kulit, hingga mereka yang berhasil menjadi seorang ahli di bidangnya. Dengan melihat Islam seperti itu, maka terbayang bahwa kadar ke-Islaman seorang terbentang luas secara kontinum. Sementara orang misalnya, ada yang menangkap Islam baru pada simbol-simbolnya –—–misalnya dalam hal berpakaian, tetapi sebagian lain sudah menangkap dari substansinya. Sebagian masih berdebat soal jumlah rokaat dan doa-doa dalam shalat sunnah, tetapi sebagian lain sudah berjuang untuk mengimplementasikan hukum Islam dan bahkan membangun negara Islam. Perbedaan-perbedaan seperti itu kiranya tidak perlu dipertajam dalam kontek kepentingan dakwah. Tokh semua itu adalah seharusnya dipandang sebagai bersaudara, yakni saudara sebagai sesama manusia, sebangsa dan segenerasi menempati buimi ini. Tingkat keberagamaan dan khususnya keber-Islaman yang berbeda-beda harus dipandang sebagai telah berada pada fase-fase menuju pada taraf yang lebih sempurna. Dalam tataran yang lebih mudah dilihat, —–di Indonesia misalnya, terdapat orang yang baru memberikan apresiasi pada Islam dengan sebatas membaca dua kalimah syahadat, sebagian lain sudah menjalankan sholat lima waktu secara istiqamah, sebagian lainnya lagi baru menjalankan sholat pada saat-saat tertentu, misalnya pada hari raya dan seterusnya. Berbeda lagi dengan gambaran itu, ada sementara orang yang kegiatan spiritualnya mendekati sempurna, akan tetapi pada aspek lainnya masih jauh ketinggalan., Misalnya, dalam hal sholat sudah sedemikian disiplinan, tetapi dalam berzakat masih belum memulai mengamalkan. Haji dan umrah dilakukan berlkali-kali, tetapi sholat Subuhnya masih terlambat dan seterusnya. Selanjutnya menurut pandangan ulama dan sekaligus penguasaha yang saya sebut namanya di muka, dalam berdakwah harus melihat hal-hal tersebut sebagai sebuah kenyataan yang terjadi di mana-mana. Dalam berdakwah tidak boleh lalu memandang orang secara hitam putih. Keber-Islaman seseorang harus dilihat bagaikan garis yang kontinum. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Rasul bahwa iman pun juga bertambah dan sekali saat berkurang. Tidak pernah ada orang mencapai kesempurnaan dalam ber-Islam kecuali Nabi sendiri. Itulah letak pentingnya dakwah dilakukan oleh semua kaum muslimin secara terus menerus tanpa mengenal henti. Kesempurnaan hanya milik Allah dan rasul-Nya, sedangkan umatnya hanya sebatas mengikuti di belakang. Dalam hal mengikuti ini, sebagian sudah dekat, tetapi sebaliknya, ada yang masih berada pada posisi jauh ketinggalan. Jarak itu pun sesungguhnya hanya sebatas penilaian orang, yang tentu tidak pernah tepat. Penilaian itu tidak sebagaimana yang diberikan oleh Allah sendiri. Bahwa siapa yang paling sempurna Islamnya, dan bahkan selamat di akhirat nanti, hanya Allah yang Maha Tahu. Meraih keselamatan di akherat, ternyata tidak terlalu sulit. Sebab, hanya dengan membaca la ilaha ilallah saja, menurut hadits nabi, seseorang bisa masuk surga. Oleh karena itulah maka dalam berdakwah, tidak seyogyanya dilakukan dengan cara keras dan memaksa. Dakwah harus dilakukan dengan hati yang lembut. Selain itu, keberagamaan juga tidak cukup dilihat dari aspek lahir, melainkan semestinya juga dari aspek batin. Sebab, Allah melihat kebaikan seseorang bukan saja dari yang tampak, seperti dari pakaiannya, jabatannya, identitas-identitas keduniaannya, melainkan yang lebih utama dari itu adalah dari hati seseorang. Wallahu a’lam. Jeddah, 6 Juli 2009
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
