Seringkali sebatas menggambarkan implementasi Islam dalam kehidupan nyata sehari-hari tidak mudah. Hal itu disebabkan karena Islam dapat dilihat dari berbagai dimensi yang sedemikian banyak dan luas. Selain itu dalam kenyataannya, Islam tidak pernah bisa dilihat secara utuh, kecuali dalam kehidupan pembawanya sendiri, yaitu Muhammad saw. Setiap orang memahami Islam dari perspektifnya masing-masing. Ada sementara orang yang lebih melihat Islam dari perspektif spiritual. Maka kemudian, mereka dalam berusaha meningkatkan kualitas ke Islamannya, melakukannya dengan cara memperbanyak kegiatan spiritual ini. Islam kemudian ditampakkan di tempat-tempat ibadah, seperti masjid, musholla, dan sejenisnya. Atas dasar pemahaman seperti ini, —–tatkala mengajarkan agama Islam, maka yang terpikirkan adalah bagaimana melatih peserta didik agar bisa menjalankan kegiatan spiritual setepat mungkin, mulai dari bacaannya, gerakan badan atau anggota tubuh, penentuan waktu, tempat dan lain sebagainya. Semua itu harus dilakukan secara tepat atau persis seperti yang dilakukan oleh Nabi. Pemahaman seperti itu ternyata membawa resiko perpecahan. Bacaan dalam kegiatan spiritual, gerakan badan, penentuan waktu, dan tempat ternyata banyak riwayat dan penafsiran, sehingga melahirkan pemahaman yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini ternyata melahirkan pendapat yang tidak mudah disatukan. Maka kemudian terjadilah kelompok-kelompok dan bahkan organisasi Islam yang berbeda. Semuanya merasa benar, sekalipun sesungguhnya perbedaan itu hanya berada pada wilayah pelaksanaan kegiatan spiritual saja. Selain itu, Islam sesungguhnya juga membimbing dalam upaya mengembangkan intelektual. Agama ini mendorong umatnya agar mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Kitab suci al Qurán memperkenalkan tentang langit, bumi, dan seluruh jagat raya ini serta seisinya. Kaum muslimin melalui kitab suci al Qurán, diperkenalkan kehidupan sedemikian luas, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, sejarah kehidupan terdahulu, hingga kehiduan yang akan terjadi di masa depan kelak. Al Qurán menjadikan cakrawala atau pandangan kaum muslimin terhadap dunia ini sedemikian luas. Tidak sebagaimana dalam kegiatan ritual yang banyak perbedaan dan perdebatan, maka dalam wilayah pengembangan intelektual di kalangan kaum muslimin justru belum begitu banyak muncul. Perbedaan pendapat dan bahkan perpecahan tidak pernah bersumber dari wilayah pengembangan intelektual ini. Dalam pengembangan keilmuan, diakui bahwa umat Islam masih terlambat. Pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berhasil dikembangkan oleh umat Islam masih terbatas, baik jumlah dan kualitasnya. Saat ini, umat Islam baru sampai pada tingkat kesadaran, betapa pentingnya mengembangkan ilmu pengetahuan secara lebih serius. Jika selama ini telah banyak perguruan tinggi Islam, maka lagi-lagi ilmu yang dikembangkan baru yang terkait dengan ritual dan spiritual. Belum banyak perguruan tinggi Islam yang mengembangkan sains dan teknologi. Keterlambatan pengembangan aspek ilmu pengetahuan ini, sesungguhnya telah dirasakan membawa akibat sangat luas. Umat Islam menjadi ketinggalan dari kelompok lain pada hampir seluruh bidang kehidupan. Umat Islam tertinggal di bidang pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, social, budaya dan lain-lain. Akibat selanjutnya, kaum muslimin menjadi tergantung dan mengikut di belakang dari kelompok lain. Kaum muslimin pada umumnya maju di bidang ritual dan spiritual, tetapi lemah di bidang lainnya. Selanjutnya, Islam juga memberikan panduan tentang akhlak atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak ini sedemikian luas, menyangkut bagaimana seharusnya seseorang berperilaku terhadap Tuhan maupun terhadap sesama manusia. Hubungan baik dengan Tuhan dilakukan dengan cara selalu mengingat-Nya (berdzikir) dan juga melalui berbagai ritual. Sedangkan berbuat baik dengan sesame, dilakukan dengan cara saling mengenal, menghormati, mencintai dan bertolong menolong. Kaum muslimin harus membangun hubungan baik dengan orang tua, guru, keluarga, tetangga dan masyarakat luas, hingga berbangsa pada umumnya. Lagi-lagi dalam membangun hubungan antar sesama, atau solidaritas kaum muslimin, ——-dalam hal-hal tertentu, terasa masih lemah. Sekalipun Islam mengajarkan agar peduli sesama, dan tidak boleh menumpuk harta, tetapi ternyata ajaran itu belum diikuti secara serius. Banyak di antara kaum muslimin hidup berdampingan tetapi tidak saling mempedulikan. Mereka masih bisa hidup dalam keadaan senjang, yakni terlalu kaya di tengah-tengah mereka yang terlalu miskin. Cara itu dianggapnya sebagai biasa, tidak terkait dengan agama yang dipeluknya. Akhirnya, Islam yang semestinya dilihat sebagai sebuah ajaran yang utuh, yaitu terkait semua aspek kehidupan, baik aspek spiritual, akhlak, ilmu pengetahuan atau intelektual, sosial dan lain-lain, ternyata masih ditangkap dari bagian-bagian yang terpisah. Inilah yang sesungguhnya menjadi tantangan besar bagi tokoh dan atau cendekiawannya untuk menyempurnakan dengan cara memberikan bimbingan, panduan, dan ketauladanan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
