Memahami betapa pentingnya teman adalah sangat mudah. Manusia adalah disebut sebagai makhluk sosial. Tidak ada seorang pun yang sanggup hidup sendirian di dunia ini. Ia selalu membutuhkan teman. Para teman itu, tidak saja diharapkan dapat membantu tatkala seseorang sedang mengalami kesulitan, tetapi untuk mendengarkan perasaannya, berdialog, dan bahkan tatkala sedang bersedih dan bergembira pun memerlukan kehadiran teman.
Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua orang selalu merasakan betapa pentingnya pertemanan itu. Kadangkala, teman dianggap sebagai orang lain tidak selalu penting keberadaannya. Bahkan suatu saat mereka dianggap menganggu dan merugikan dirinya. Orang-orang tertentu dianggap sebagai pesaing, atau sebagai orang lain, dan bahkan juga musuh. Memang setiap orang memiliki kharakter yang unik, dan atau berbeda-beda. Suatu saat, seseorang dirasakan sesuai dengan harapan pikiran atau perasaannya, sehingga mereka dianggap penting keberadaannya. Akan tetapi, ada juga orang-orang yang dianggap atau dirasa tidak sesuai dengan orientasi hidupnya. Orang yang disebutkan terakhir itu, kemudian berusaha dijauhi, karena dianggap tidak memberi manfaat, dan bahkan membahayakan. Itulah gambaran kehidupan sosial, sehingga hal itu selalu terjadi di mana-mana dan dialami oleh banyak orang. Ada orang yang memang mudah bergaul, sehingga banyak memiliki kenalan dan pertemanan. Sebaliknya, ada orang-orang yang sangat sulit bergaul. Orang yang disebutkan terakhir ini selalu curiga, kurang percaya, dan bahkan berprasangka buruk kepada siapapun. Orang dimaksud kurang bisa mengapresiasi orang lain, sehingga tidak memiliki teman. Terkait dengan hal tersebut, terdapat cerita menarik. Ada seseorang yang tiba-tiba berubah perilakunya terhadap para temannya. Orang tersebut, semula acuh tehadap teman, kecuali terhadap beberapa orang dekatnya dan memang memiliki kesamaan orientasi kehidupannya. Semula orang tersebut sangat selektif memilih teman, tidak sembarang orang disapa, orang lain dianggap remeh, atau sebaliknya, dianggap sebagai pesaing yang harus diwaspadai. Perubahan itu sedemikian cepat dan drastis. Jika sebelumnya sangat sulit diajak berkomunikasi, dan apalagi oleh orang-orang yang memiliki orientasi organisasi dan paham atau kepercayaan yang berbeda, maka dalam waktu singkat berubah. Orang tersebut justru menjadi selalu membutuhkan pertemanan. Teman menjadi dianggap sebagai harta yang memang diperlukan. Bahkan, ia sanggup berkorban untuk mendapatkan teman-teman baru atau mencari kembali teman lama yang sudah terpisah, atau terputus sebelumnya. Perubahan itu mengagetkan banyak orang. Orang yang semula angkuh, sombong, selalu membatasi diri atau selektif dalam pertemanan, ternyata berubah total. Ia memposisikan diri sebagai orang yang terbuka, memerlukan kehadiran semua orang, toleran, dan bahkan memiliki kesanggupan untuk mendengarkan orang lain. Selain itu, ia juga menjadi bisa mengerti terhadap watak dan kharakter banyak orang yang berbeda-beda. Perubahan dahsyat tersebut ternyata dipicu oleh suatu kejadian yang menimpa dirinya, yaitu setelah ia menghadapi peristiwa duka yang mendalam. Secara mendadak ia harus menghadapi kenyataan, ditinggal mati orang tuanya. Pada saat orang tuanya meninggal itu, banyak orang datang bertakziyah, menyampaikan dukacita, menshalatkan, dan hingga sampai mengantarkan jenazah ke pemakaman. Peristiwa tersebut menjadikan orang yang semula angkuh, tidak menghargai keberadaan teman, tidak mau mendengarkan orang lain dan seterusnya, menjadi berubah total. Pada saat orang tuanya meninggal itu, yang kemudian banyak orang datang, ——–termasuk orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya itu, maka berhasil menumbuhkan perasaan pada dirinya, bahwa betapapun teman merupakan pihak-pihak yang sangat diperlukan pada setiap waktu. Selain itu, peristiwa duka tersebut benar-benar menjadikan pelajaran baginya bahwa teman,—– bagaimanapun sifat dan kharakternya, adalah sangat penting baginya. Teman, siapapun orangnya, ternyata bisa dijadikan penghibur tatkala sedang sedih atau duka. Sebaliknya, pada saat-saat tertentu diajak berbagi kebahagiaan. Manusia memang selalu menunjukkan keanehan. Sesuatu dianggap penting, hanya jika sedang diperlukan. Cerita dalam tulisan singkat ini menggambarkan, seseorang baru merasakan betapa pentingnya teman, setelah ia memerlukannya. Yaitu tatkala sedang mengalami kesedihan dan duka, seperti contoh di muka, yaitu tatkala sedang ditinggal mati oleh orang tuanya. Dalam Islam tentang pertemanan ini telah ditunjukkan secara jelas, yaitu melalui konsep sillaturrakhiem. Dalam konsep itu, seseorang dianggap beriman secara sempurna manakala berhasil mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Selain itu agar seseorang dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rezkinya, maka harus pandai menjalin silaturrahmi, artinya selalu memelihara pertemanan. Sebagai kaum muslimin, semestinya hadits-hadits nabi tersebut sudah cukup menyadarkan tentang betapa pentingnya pertemanan. Munculnya kesadaran itu tidak harus menunggu hingga datangnya peristiwa yang menyedihkan. Seharusnya pada setiap waktu, menyadari bahwa pertemanan atau bersilaturrakhiem adalah sangat penting, dan karenanya selalu dipelihara. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
