Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa harga kedelai sempat menaik, karena harus diperoleh dengan cara import. Akibatnya, banyak pengusaha tahu, tempe, dan sejenisnya yang menggunakan bahan dasar kedelai menjerit. Mereka dihadapkan oleh pilihan antara menaikkan harga produksinya atau memperkecil ukurannya. Bagi mereka, keduanya adalah pilihan yang sama-sama tidak diinginkan.
Namun kedua pilihan tersebut tidak bisa dihindari, jika tidak ingin usahanya bangkrut. Akhirnya muncul keluhan dari para konsumen, ternyata ukuran tempe dan tahu yang dibeli semakin mengecil. Pengusaha tempe an tahu mengambil keputusan itu lantaran untuk menyesuaikan harga bahan pokok, —–kedelai. Dengan cara itu maka usaha mereka masih tetap bertahan. Pengusaha tempe dan tahu tidak akan mungkin menghentikan usahanya, sebab beralih pada bisnis lain juga tidak mudah. Sekalipun kedengarannya agak aneh, kedelai saja masih harus import, namun ternyata bangsa ini juga masih mengimport jenis hasil pertanian lainnya. Beras, sayur dan bahkan buah-buahan juga sama, ternyata masih import. Demikian juga daging dan bahkan kebutuhan garam pun kabarnya, juga masih perlu membeli dari luar negeri. Sehingga rasanya memang benar-benar aneh, bangsa yang menyebut dirinya sebagai negara agraris, namun kebutuhan hasil pertanian saja masih harus membeli dari luar negeri. Mengimport hasil-hasil teknologi modern seperti mobil, pesawat terbang, kapal laut, berbagai jenis mobil atau motor, alat-alat elektronik dan lain-lain kiranya wajar. Akan tetapi, jika yang import itu adalah kedelai, buah dan garam, rasanya perlu dipikir dan direnungkan kembali secara mendalam dan serius. Identitas sebagai negara agraris harus dipertahankan dengan upaya keras, menempuh berbagai cara, agar tidak mengimport lagi hasil pertanian, melainkan sebaliknya, harus segera menjadi pengekspor. Hal yang sama menyedihkan lagi adalah juga dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan agama. Bangsa ini sudah sekian lama beragama Islam, tetapi masih saja setiap tahun mengirim anak-anak mudanya belajar agama Islam ke luar negeri. Mereka dikirim ke Mesir, Sudan, Yaman, Syria, Maroko, dan lain-lain untuk belajar agama. Semestinya pengiriman belajar agama ke luar negeri itu harus mulai berhenti, dan berbalik yaitu berusaha menjadi tempat tujuan belajar agama Islam dari negara-negara lain. Sehingga bangsa ini menjadi bangga, oleh karena banyak orang asing belajar Islam ke Indonesia. Semangat belajar ke luar negeri kiranya masih penting dilakukan, akan tetapi semestinya harus dipilih bidang studi yang memang di Indonesia sendiri belum maju, misalnya bidang sains dan teknologi. Akan tetapi sebatas bidang ilmu tertentu yang seharusnya sudah sampai pada tahap harus mengeksport, maka tidak perlu lagi mengimport. Kalaupun toh tetap diperlukan, maka dibatasi hanya untuk riset atau mengambil program Doktor. Kembali kepada persoalan kedelai, bahwa bangsa ini jika benar-benar mau berusaha, sekalipun tidak eksport, mestinya sudah mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Dulu banyak orang bangga, bahwa bangsa ini sudah berhasil swasembada pangan. Kebutuhan beras, jagung, kedelai dan lain-lain sudah bisa tercukupi sendiri. Orang juga bangga bahwa dari daerah tertentu, seperti Jember, Banyuwangi dan lain-lain, sudah berhasil mencukupi kebutuhan kedelai. Bahkan kedelai dari Jawa Timur dikenal berkualitas tinggi. Oleh karena itu rasanya menjadi sedih, sebatas kedelai dan apalagi garam saja harus membeli ke luar negeri. Negeri ini dikenal sebagai sangat kaya lahan pertanian dan juga subur. Apa saja ditanam tumbuh dan berbuah. Tenaga kerja juga melimpah dan bahkan berlebih. Perguruan tinggi yang membuka program studi pertanian dan peternakan juga sudah cukup banyak jumlahnya. Tidak saja program S1 bahkan juga hingga S2 dan S3. Selain itu, Doktor pertanian dan peternakan lulusan luar negeri juga banyak sekali jumlahnya. Mereka itu jika diberi peluang untuk mengimplementasikan ilmunya, maka akan memberi manfaat yang besar bagi kehidupan bangsa ini. Rasanmya benar-benar aneh, sebagai negeri agraris, memiliki tanah yang luas, banyak perguruan tinggi mengembangkan ilmu pertanian dan peternakan, ditambah lagi banyak Doktor di bidang itu, sekedar kedelai saja masih harus import. Pengusaha tempe dan tahu menjerit kekurangan bahan dasar. Kalau bahan itu tersedia harganya mahal, karena harus diperoleh dari import. Sebagai negara agraris yang kaya tanah pertanian, mestinya harus sudah berhasil menjual hasil pertanian dan bukan justru import dari negara lain yang tidak terlalu kaya lahan pertanian. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
