Sekali-kali berbicara tentang ekonomi dari kegiatan ritual, termasuk haji, kiranya penting. Lebih-lebih di musim haji dan lagi pula saat ekonomi umat juga belum bangkit. Tatkala berbicara ritual, maka yang dipentingkan hanyalah bagaimana kegiatan itu berhasil dijalankan secara khusuk. Padahal sebenarnya kegiatan ritual, juga tidak lepas dari aspek lainnya yang ada kaitannya dengan ekonomi.
Tidak semua orang jeli terhadap peluang ekonomi dari kegiatan ritual itu. Padahal dalam kegiatan haji terdapat peluang ekonomi yang amat besar. Tatkala seseorang mau pergi haji, maka ia akan memikirkan banyak hal, mulai dari kelengkapan haji, seperti pakaian, tas, oleh-oleh sepulang haji, hingga tasyakuran, baik sebelum dan sepulangnya. Selain itu, juga menyangkut persoalan transportasi dari daerah asal hingga ke kota embarkasi pemberangkatan. Semua itu memerlukan jasa dan juga peluang bisnis. Kita dapat melihat di pasar-pasar, toko-toko, atau tempat belanja lainnya, bahwa kelengkapan haji biasanya dibuat bukan dari kantong-kantong pengusaha muslim, melainkan dari negeri China, Taiwan, Jepang dan lain-lain. Jarang kita lihat orang China mengenakan sorban, sajadah, kopyah haji dan sejenisnya, tetapi justru mereka yang membuatnya. Kita dengan mudah melihat bahwa sajadah, sorban, dan juga kain ihram adalah bermerk neraga-negara asing tersebut. Tidak cukup di situ, para penjualnya pun juga banyak dari kalangan orang-orang China yang tidak pernah menggunakan sorban dan sajadah itu. Belum lagi, sarana transportasi, baik transportasi dari kampung masing-masing ke kota embarkasi pemberangkatan. Semua itu buatan orang yang belum tentu pernah berhaji. Mobil yang dinaiki, atau bahkan sepeda motor yang mengantar dari gang rumah mereka masing-masing adalah buatan Jepang, atau China. Apalagi pesawat terbang yang mengangkut dari Indonesia ke Saudi Arabia, adalah jelas, semua itu buatan orang-orang yang tidak paham ibadah ini. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah dengan cara itu hajinya tidak syah atau tidak mabrur. Tentu tidak demikian. Siapapun yang membuat kelengkapan tersebut tidak akan mempengaruhi kemabruran haji. Mabrur atau tidaknya haji bukan terletak dari siapa yang membuatkan koper haji, atau siapa pemilik pabrik sorban dan juga kain ikhram haji yang dipakaianya. Kemabruran haji tergantung pada kekhusukan dan keikhlasan bagi yang menjalaninya. Mabrur atau tidak, bukan ditentukan oleh siapa yang membikin peralatan haji itu. Maka jika demikian halnya, apa yang salah dari semua itu. Lagi-lagi jawabnya adalah juga tidak ada pihak yang perlu disalahkan. Hanya saja dalam kalkulasi ekonomi, maka umat Islam belum banyak mendapatkan keuntungan ekonomi dari pelaksanaan haji itu. Umat Islam baru merasa senang, karena telah berhasil menunaikan ibadah haji yang sudah lama dicita-citakan. Umpaa sementara umat Islam peka terhadap peluang bisnis ini, maka mereka sebenarnya akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu telah berhasil menunaikan ibadah haji dan sekaligus memiliki peluang pasar yang luar biasa besarnya. Dengan kejelian bisnisnya, umat Islam akan berhasil membangun pabrik-pabrik peralatan haji, jaringan penjualannya, dan sarana pengangkutan dan seterusnya. Itu semua akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besarnya. Belum lagi dengan begitu akan sekaligus memberi lapangan pekerjaan yang tidak sedikit jumlahnya. Peluang bisnis kelengkapan haji seperti itu tidak saja terabaikan di Indonesia, melainkan juga di pusat pelaksanaan haji sendiri, yaitu Saudi Arabia. Produk kelengkapan haji dari China, Thaiwan dan Jepang menguasai pasar di sana, baik di Makkah, Madinah dan Jeddah. Rupanya memang di mana-mana umat Islam masih kalah bersaing dalam hal ekonomi dari umat lainnya. Kekalahan itu sampai kapan, maka jawabnya masih harus menunggu, hingga umat Islam berhasil membangun pendidikan yang berkualitas tinggi. Sebab di mana-mana dan kapan pun, kemenangan akan diraih oleh orang-orang yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya. Sedangkan ilmu pengetahuan hanya bisa berkembang secara kualitatif, jika pendidikannya maju. Namun sayangnya, sudah dalam keadaan kalah seperti ini, sementara cendekiawannya baru berdiskusi tentang bagaimana menggabungkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Anehnya diskusi itu berkepanjangan hingga tidak pernah berakhir. Padahal Nabi sendiri berpesan agar mengembangkan ilmu hingga negeri China. Demikian pula al Qurán, berpesan agar manusia selalu berpikir dan memperhatikan, hingga tentang kejadian bumi, langit, gunung maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan. Perintah tersebut rupanya belum banyak ditangkap oleh umatnya. Bahkan mereka masih berdebat dan berselisih pendapat hal-hal yang terkait dengan bagaimana ritual itu dijalankan. Padahal semestinya tuntunan ritual itu segera saja dijalankan, dan bukan diperdebatkan. Oleh karena itu, jika masih demikian gambarannya, maka kemenangan itu mungkin masih lama akan diraih. Sebagai akibatnya, umat Islam dari ibadah haji hanya akan beruntung dari telah menjalankan ritualnya, tetapi masih belum mendapatkan apa-apa dari aspek ekonominya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
