Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Beban Berat Presiden Kita

Masa jabatan  presiden kita,  pada periode yang kedua  baru genap satu tahun. Tidak sebagaimana pada periode pertama,  ketika itu sehari-hari dihadapkan pada  musibah yang sedemikian dahsyat. Pada periode kedua ini, tampaknya bertambah, bukan  saja musibah berupa bencana alam,  tetapi berbentuk lain, yaitu konflik yang terjadi di mana-mana, mulai dari tingkat pusat hingga di daerah-daerah.

  Dimulai dari gempa bumi  di Aceh dan kemudian disusul dengan tsunami yang menelan korban meninggal ratusan ribu penduduk di sana. Belum kering keringat mengurus korban yang sedemikian berat, terjadi pula gempa yang juga cukup dahsyat di Pulau Nias. Gempa ini juga menelan banyak kurban, sekalipun tidak se besar jumlah itu  di Aceh.   Gempa  selanjutnya  terjadi lagi  di Yogyakarta. Korban mati dan juga harta tidak terhitung lagi jumlahnya. Pemerintah dalam waktu yang cukup lama, harus menanggulangi akibat  bencana itu  dengan  biaya yang  cukup besar. Tidak berhenti di sini, musibah-musibah lain silih berganti datang. Gunung meletus di mana-mana. Banjir bandang hampir di semua wilayah, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bahkan juga di Papua.   Belum selesai mengurus berbagai  bencana alam  itu, terjadi banyak peristiwa yang mengerikan, seperti jatuhnya pesawat terbang. Kereta api bertubrukan dan atau kaluar dari relnya.  Kapal laut tenggelam, karena ombak mengamuk  dan juga menelan banyak korban. Selain itu, berbagai macam penyakit, baik jenis lama ataupun baru muncul, seperti penyakit folio, demam berdarah, flu burung, flu babi, dan macam-macam atau jenis lainnya.   Rupanya bencana alam dan   musibah lain  itu belum mau berhenti di situ, masih ada pula  bentuk   lain seperti tanah longsor, ombak di lautan bagaikan marah, musim tidak teratur sehingga pada  waktu kemarau  ternyata masih saja turun hujan. Datang  angin putting beliung di mana-mana, sehingga memporak-porandakan rumah-rumah penduduk, fasilitas umum, dan menghancurkan tanaman petani.   Sededemikian banyak jenis dan macam peristiwa bencana atau musibah itu terjadi, seolah-olah menjadi sulit menghitung dan menginventarisasi. Namun ternyata, dengan sigap, kesabaran, dan keikhlasan semua pihak,  berbagai akibat berbagai bencana itu  bisa diatasi, sekalipun di sana-sini masih menyisakan derita yang berkepanjangan. Misalnya tidak sedikit  keluarga  yang kehilangan orang tua, isteri atau suami, anak,  menantu, tetangga dan lain-lain.   Beban presiden sebagai kepala negara menghadapi berbagai macam musibah itu, sudah barang tentu cukup berat. Sehari-hari, selain harus menyelesaikan persoalan  yang diakibatkan oleh musibah yang selalu datang, masih harus menunaikan program-program yang  telah dirancang sebelumnya. Rasanya harus  bersyukur, sekalipun harus menanggulangi  musibah demi musibah itu, ternyata masih tersisa kekuatan, sehingga masih mampu  meneruskan jalannya pemerintahan. Bangsa ini masih tetap bertahan dan dalam keadaan tertentu pula masih mengalami kemajuan.   Presiden SBY ternyata berhasil  melewati berbagai tantangan berupa musibah itu. Rakyat kemudian masih mempercayainya dengan memilihnya kembali   sebagai presiden pada periode yang kedua. Tidak tanggung-tanggung dalam pemilihan umum, seorang  kelahiran Pacitan ini  dalam satu kali putaran, mendapatkan dukungan  lebih dari 60 % suara. Atas dasar kemenangan itu,  ia  dilantik lagi menjadi presiden pada periode yang kedua.   Namun apa yang terjadi, setelah presiden ini  dilantik,  segera  muncul  lagi musibah, yaitu gempa bumi di Padang.  Ribuan orang meninggal dan banyak di antaranya yang hilang, karena tertimbun oleh tanah longsor sekaligus  bersamaan dengan rumah mereka.  Dalam peristiwa itu, banyak gedung-gedung, hotel, rumah penduduk hancur. Hingga sekarang, bangunan-bangunan yang rusak itu belum seluruhnya selesai dibangun kembali.   Musibah masih saja   terjadi, seperti banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Namun musibah itu tidak sebanyak jumlahnya yang terjadi pada pemerintahan periode  pertama. Pada periode kedua ini, masih berumur setahun, namun tantangan yang harus dihadapi  ternyata bertambah. Jika pada  periode pertama,  alam  mengamuk, maka periode  kedua ini,  ternyata banyak manusia  yang mengamuk, maka kemudian terjadilah konflik,  atau pertengkaran di mana-mana.   Aikhir-akhir ini betapa mudahnya orang menjadi marah dan atau menyalahkan orang. Konflik  itu dimulai dari  antara KPK, Kepolisian,  dan kejaksanaan. Peristiwa itu kemudian disusul oleh perseteruan antara pemerintah dan legislative  terkait dengan kasus Bank Century. Antara kedua lembaga tinggi negara ini , terjadi perseteruan yang cukup panas. Rakyat menyaksikan    semua itu. Konflik  tersebut  sebenarnya belum selesai, tetapi beruntung masing-masing berusaha menahan diri.   Bencana alam dan konflik  itu  seolah-olah tidak mau berhenti, di mana-mana  masih terjadi. Misalnya, konflik antara polisi dan mahasiswa di Makassar, konlik terkait dengan kuburan Mbah Priuk, Konflik  antar pemuda di beberapa tempat  di Jakarta,  konflik  terkait  kebaktian dan  rencana pembangunan gereja, konflik di Papua, Maluku, konflik terkait dengan Ahmadiyah, konflik antara aparat dan mahasiswa di Makassar, konflik  antara  Indonesia dengan Malaysia,  dengan Belanda, konflik di Medan, dan masih banyak lagi lainnya, sehingga  tidak bisa disebut satu demi satu.   Peristiwa demi peristiwa itu, bagi orang yang hanya mengedepankan kekuatan rasio atau nalarnya, akan menganggapnya  sebagai sesuatu yang biasa dalam kehidupan ini. Akan tetapi, bagi orang yang mau menggunakan pisau perasaan atau mata hati, akan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang  salah dari bangsa ini,  sehingga  musibah dan akhir-akhir ini konflik seolah-olah tidak mau berhenti.      Merenungkan terhadap musibah dan konflik yang tidak menyenangkan akhir-akhir ini,   sebagai bangsa yang beragama,  kiranya melakukan muhasabah atau instropeksi bersama, adalah sangat perlu dilakukan. Siapa tahu, hal itu semua sebenarnya adalah  akibat  dari kesalahan bersama, yang seharusnya  segera diperbaiki. Menghadapi persoalan bangsa seperti ini, maka  tugas presiden, siapapun orangnya,  memang amat berat. Mestinya beban itu tidak perlu ditambah, bahkan  siapapun seharusnya ikut mengurangi, dengan caranya sendiri-sendiri.  Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *