Masa jabatan presiden kita, pada periode yang kedua baru genap satu tahun. Tidak sebagaimana pada periode pertama, ketika itu sehari-hari dihadapkan pada musibah yang sedemikian dahsyat. Pada periode kedua ini, tampaknya bertambah, bukan saja musibah berupa bencana alam, tetapi berbentuk lain, yaitu konflik yang terjadi di mana-mana, mulai dari tingkat pusat hingga di daerah-daerah.
Dimulai dari gempa bumi di Aceh dan kemudian disusul dengan tsunami yang menelan korban meninggal ratusan ribu penduduk di sana. Belum kering keringat mengurus korban yang sedemikian berat, terjadi pula gempa yang juga cukup dahsyat di Pulau Nias. Gempa ini juga menelan banyak kurban, sekalipun tidak se besar jumlah itu di Aceh. Gempa selanjutnya terjadi lagi di Yogyakarta. Korban mati dan juga harta tidak terhitung lagi jumlahnya. Pemerintah dalam waktu yang cukup lama, harus menanggulangi akibat bencana itu dengan biaya yang cukup besar. Tidak berhenti di sini, musibah-musibah lain silih berganti datang. Gunung meletus di mana-mana. Banjir bandang hampir di semua wilayah, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bahkan juga di Papua. Belum selesai mengurus berbagai bencana alam itu, terjadi banyak peristiwa yang mengerikan, seperti jatuhnya pesawat terbang. Kereta api bertubrukan dan atau kaluar dari relnya. Kapal laut tenggelam, karena ombak mengamuk dan juga menelan banyak korban. Selain itu, berbagai macam penyakit, baik jenis lama ataupun baru muncul, seperti penyakit folio, demam berdarah, flu burung, flu babi, dan macam-macam atau jenis lainnya. Rupanya bencana alam dan musibah lain itu belum mau berhenti di situ, masih ada pula bentuk lain seperti tanah longsor, ombak di lautan bagaikan marah, musim tidak teratur sehingga pada waktu kemarau ternyata masih saja turun hujan. Datang angin putting beliung di mana-mana, sehingga memporak-porandakan rumah-rumah penduduk, fasilitas umum, dan menghancurkan tanaman petani. Sededemikian banyak jenis dan macam peristiwa bencana atau musibah itu terjadi, seolah-olah menjadi sulit menghitung dan menginventarisasi. Namun ternyata, dengan sigap, kesabaran, dan keikhlasan semua pihak, berbagai akibat berbagai bencana itu bisa diatasi, sekalipun di sana-sini masih menyisakan derita yang berkepanjangan. Misalnya tidak sedikit keluarga yang kehilangan orang tua, isteri atau suami, anak, menantu, tetangga dan lain-lain. Beban presiden sebagai kepala negara menghadapi berbagai macam musibah itu, sudah barang tentu cukup berat. Sehari-hari, selain harus menyelesaikan persoalan yang diakibatkan oleh musibah yang selalu datang, masih harus menunaikan program-program yang telah dirancang sebelumnya. Rasanya harus bersyukur, sekalipun harus menanggulangi musibah demi musibah itu, ternyata masih tersisa kekuatan, sehingga masih mampu meneruskan jalannya pemerintahan. Bangsa ini masih tetap bertahan dan dalam keadaan tertentu pula masih mengalami kemajuan. Presiden SBY ternyata berhasil melewati berbagai tantangan berupa musibah itu. Rakyat kemudian masih mempercayainya dengan memilihnya kembali sebagai presiden pada periode yang kedua. Tidak tanggung-tanggung dalam pemilihan umum, seorang kelahiran Pacitan ini dalam satu kali putaran, mendapatkan dukungan lebih dari 60 % suara. Atas dasar kemenangan itu, ia dilantik lagi menjadi presiden pada periode yang kedua. Namun apa yang terjadi, setelah presiden ini dilantik, segera muncul lagi musibah, yaitu gempa bumi di Padang. Ribuan orang meninggal dan banyak di antaranya yang hilang, karena tertimbun oleh tanah longsor sekaligus bersamaan dengan rumah mereka. Dalam peristiwa itu, banyak gedung-gedung, hotel, rumah penduduk hancur. Hingga sekarang, bangunan-bangunan yang rusak itu belum seluruhnya selesai dibangun kembali. Musibah masih saja terjadi, seperti banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Namun musibah itu tidak sebanyak jumlahnya yang terjadi pada pemerintahan periode pertama. Pada periode kedua ini, masih berumur setahun, namun tantangan yang harus dihadapi ternyata bertambah. Jika pada periode pertama, alam mengamuk, maka periode kedua ini, ternyata banyak manusia yang mengamuk, maka kemudian terjadilah konflik, atau pertengkaran di mana-mana. Aikhir-akhir ini betapa mudahnya orang menjadi marah dan atau menyalahkan orang. Konflik itu dimulai dari antara KPK, Kepolisian, dan kejaksanaan. Peristiwa itu kemudian disusul oleh perseteruan antara pemerintah dan legislative terkait dengan kasus Bank Century. Antara kedua lembaga tinggi negara ini , terjadi perseteruan yang cukup panas. Rakyat menyaksikan semua itu. Konflik tersebut sebenarnya belum selesai, tetapi beruntung masing-masing berusaha menahan diri. Bencana alam dan konflik itu seolah-olah tidak mau berhenti, di mana-mana masih terjadi. Misalnya, konflik antara polisi dan mahasiswa di Makassar, konlik terkait dengan kuburan Mbah Priuk, Konflik antar pemuda di beberapa tempat di Jakarta, konflik terkait kebaktian dan rencana pembangunan gereja, konflik di Papua, Maluku, konflik terkait dengan Ahmadiyah, konflik antara aparat dan mahasiswa di Makassar, konflik antara Indonesia dengan Malaysia, dengan Belanda, konflik di Medan, dan masih banyak lagi lainnya, sehingga tidak bisa disebut satu demi satu. Peristiwa demi peristiwa itu, bagi orang yang hanya mengedepankan kekuatan rasio atau nalarnya, akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa dalam kehidupan ini. Akan tetapi, bagi orang yang mau menggunakan pisau perasaan atau mata hati, akan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang salah dari bangsa ini, sehingga musibah dan akhir-akhir ini konflik seolah-olah tidak mau berhenti. Merenungkan terhadap musibah dan konflik yang tidak menyenangkan akhir-akhir ini, sebagai bangsa yang beragama, kiranya melakukan muhasabah atau instropeksi bersama, adalah sangat perlu dilakukan. Siapa tahu, hal itu semua sebenarnya adalah akibat dari kesalahan bersama, yang seharusnya segera diperbaiki. Menghadapi persoalan bangsa seperti ini, maka tugas presiden, siapapun orangnya, memang amat berat. Mestinya beban itu tidak perlu ditambah, bahkan siapapun seharusnya ikut mengurangi, dengan caranya sendiri-sendiri. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
