Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Suatu ketika, tatkala masih duduk di sekolah menengah, saya dibikin bingung oleh guru agama. Dia mengatakan bahwa harta yang paling berharga di dunia ini adalah kepercayaan. Apa yang difatwakan guru itu, ketika itu, sangat sulit saya pahami. Apa dasarnya  kepercayaan disamakan dengan harta.   Rasanya, yang disebut harta adalah rumah yang bagus, tanah luas, uang banyak, binatang ternak, kendaraan dan sejenisnya. Bukankah Pak Haji Ali, disebut sebagai orang kaya lantaran memiliki rumah besar, kendaraan bagus, sawah yang luas, dan tabungan yang banyak.

    Sebaliknya, bukankah  Pak Samari yang sehari-hari bekerja di kebun Pak Haji Ali dengan tekun, ulet, jujur, tapi karena gajinya kecil sebagai buruh tani, maka semua orang mengatakan bahwa ia adalah seorang miskin. Padahal Pak Samari adalah seorang yang jujur, tidak pernah bohong, dan dipercaya oleh semua orang, tetapi tetap saja disebut miskin. Keadaan yang kontradiktif semacam itulah yang menjadikan saya ketika itu sulit  memahami pernyataan guru agama tersebut.     Namun sebenarnya jika direnungkan secara mendalam, pernyataan   guru agama tersebut memiliki kadar kebenaran yang cukup tinggi. Akan tetapi harta yang dimaksudkan itu bukan dalam pengertian material, melainkan bersifat immaterial.  Seseorang dengan dipercaya oleh banyak orang maka akan dihormati orang.     Lebih-lebih lagi, bahwa tidak jarang dalam kenyataannya, membangun kepercayaan justru lebih sulit dari pada mendapatkan harta benda. Seseorang yang sudah terlanjur tidak dipercaya oleh masyarakat, ——oleh karena kesalahan atau kebohongan yang berkali-kali dilakukan, maka  tidak akan dihargai orang. Stegma sebagai orang yang tidak dapat dipercaya, maka selamanya akan tetap tidak dipercaya.     Jika direnungkan lebih mendalam lagi, memang betapa susahnya seseorang mendapatkan kepercayaan, lebih-lebih di alam modern seperti sekarang ini. Hanya agar dipercaya oleh masyarakat, maka orang harus mendapatkan gelar akademik. Gelar itu ditulis di kartu nama, di depan meja kerja, dan bahkan juga di pintu masuk rumahnya. Cara itu dilakukan, agar dirinya dipercaya.     Demikian pula, dalam acara seminar atau ceramah, sebelum kegiatan itu dimulai, dibacakan kurikulum vitae penceramah yang bersangkutan. Kurikulum vitae tersebut  tidak lain hanyalah agar peserta seminar atau ceramah segera mempercayai pada pembicara itu. Surat lamaran kerja juga selalu dilampiri berbagai surat keterangan, dimaksudkan agar pelamar  dipercaya dan akhirnya diterima.     Akhir-akhir ini orang tidak sadar betapa pentingnya kepercayaan itu harus selalu dijaga. Dan, ternyata menjaga kepercayaan tidak mudah. Para pejabat tinggi sekalipun,  belum tentu sanggup melakukannya.  Seorang pejabat semula dipercaya, dihormati, dan bahkan juga disanjung-sanjung. Tetapi ternyata dengan bukti-bukti yang kuat,  ia ketahuan melakukan  korupsi.  Akibatnya, ia ditangkap dan diadili, kemudian dimasukkan ke penjara. Maka dengan begitu habislah kepercayaan yang disandangnya.     Akibatnya, sekalipun mungkin hartanya masih  banyak, tetapi karena sudah tidak dipercaya lagi, maka sama halnya dengan tidak memiliki apa-apa. Kepercayaan memang merupakan harta yang mahal. Sayangnya, banyak orang  tidak mampu mencari dan sekaligus menjaganya. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *