Tidak ada yang menyangkal bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Negara ini memiliki tanah subur yang luas, aneka tambang, hutan, lautan dan sumber daya manusia yang amat besar pula. Hanya aneh, negara yang kaya raya sumber daya alam ini belum tegolong sebagai bangsa yang hebat, dan justru sebaliknya masih terbelenggu oleh berbagai problem politik, konomi, sosial, hukum dan lainnya. Persoalan besar ini tampaknya belum ada tanda-tanda akan berakhir.
Banyak orang bertanya, apa sesungguhnya sumber persoalan yang menimpa bangsa ini . Sementara orang menyebutnya oleh karena krisis akhlak, terlihat penyimpangan-penyimpangan sosial berupa korupsi, kolosi, nepotisme di segala segi kehidupan. Hampir tidak tersedia space yang bersih dari penyakit sosial itu. Kenyataan itulah menjadikan orang menyebut Indonesia sedang dilanda krisis akhlak yang kemudian krisis ini memunculkan krisis lainnya seperti krisis politik, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Benarkah hipotesis itu dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya dalam arti didukung oleh data ilmiah ? Hipotesis itu tidak sulit dibuktikan, sekalipun banyak orang mengklaim, bahwa bangsa ini adalah sangat religious, yang artinya merupakan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak yang mulia. Namun pertanyaannya adalah mengapa bangsa yang menjunjung tinggi nilai akhlak yang tinggi masih menyandang penyakit sosial yang sedemikian parah? Pada aspek lain, Bangsa Indonesia, hingga sekarang ini masih dijadikan oleh bangsa lain sebagai pasar. Padahal sepanjang sejarah kehidupan, selalu saja pihak-pihak yang menguasai ekonomi, umumnya adalah mereka yang berperan sebagai produsen dan atau pedagang. Kelompok produsen dan pedagang umumnya dengan berbekalkan ilmu dan bekerja secara professional berhasil menguasai ekonomi. Berbeda dengan produsen dan pedagang, adalah para konsumen. Para konsumen selalu terkalahkan posisinya, sehingga menjadi miskin. Jujur saja, kita lihat secara kritis, produk unggul apa yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia. Hampir semua industri baik pertanian, elektronika, peternakan, kelautan, otomotoif, diimport dari negara maju. Jika terdapat perusahaan di Indonesia, paling-paling sekedar menjadi perakit. Selain itu, seperti sekarang ini, masih banyak orang menggunakan teknologi amat sederhana, bahkan manual. Coba kita lihat, sawah kita masih diolah dengan cangkul atau bajak. Nelayan kita masih menggunakan alat tangkap ikan yang jauh ketinggalan dengan peralatan yang dimiliki oleh negara maju. Akibatnya kekayaan laut kita banyak dicuri. Kekayaan tambang kita karena miskin modal dan teknologi, terpaksa dieksploitasi oleh pemilik modal dan teknologi, lagi-lagi juga adalah orang asing. Demikian pula pendidikan, masih belum membanggakan, baik dari sisi manajemen penyenggaraan, etos, orientasi, maupun fasilitasnya amat sederhana. Lulusannya tentu dapat diduga dengan mudah, masih belum memiliki keunggulan. Kondisi seperti itu, menjadikan bangsa ini akan tetap miskin dan dengan kemiskinan itulah melahirkan karakter yang rendah yang sesungguhnya juga dibenci oleh Islam. Atas dasar pikiran sederhana seperti itu, maka sesungguhnya titik lemah bangsa ini terletak pada penguasaan ilmu dan teknologi dan akhirnya berakibat pada kelemahan-kelemahan di hampir semua bidang kehidupan. Saran yang diajukan tentu, segeralah perbaiki pendidikan secara cepat agar segera dapat mengejar ketertinggalan dan keterpurukan yang kita sangga selama ini. Insya Allah dengan pendidikan yang benar, maka akhlak, ilmu, dan teknologi akan menjadi lebih baik, dan akhirnya akan berdampak pada aspek lain yang lebih luas . Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
