Friday, 13 March 2026
above article banner area

Memahami Psikologi Kelompok Teroris

Pada saat seperti sekarang ini kelompok  teroris menjadi sangat   ditakuti  dan bahkan juga dibenci oleh banyak orang. Mereka (para teroris) merasa benar dalam memahami Islam, sedangkan orang lain dianggap  salah. Apa yang dilakukan juga dianggap sebagai bagian dari caranya membela agamanya, dan  berharap mendapatkan kebahagiaan kelak di akherat. Dengan mengebom hingga berhasill menghancurkan  dan bahkan membunuh banyak orang, termasuk dirinya sendiri,  dianggapnya sebagai syahid yang kelak akan dibalas dengan sorga.

  Resiko  sebagai kelompok  teroris sedemikian berat, tetapi mereka jalani.  Mereka juga tahu bahwa dirinya dikejar-kejar, seolah-olah tidak diberi hak hidup, karena  membahayakan dan menakutkan bagi siapapun. Akan tetapi, mereka tidak peduli dan kegiatan itu tetap dijalani. Resiko itu tidak mereka pedulikan,  oleh karena didorong rasa kecintaan  mereka terhadap Tuhan, untuk mendapatkan surga-Nya kelak.   Para teroris  bercita-cita agar mati syahid. Hidup aman, damai,  dan sejahtera di dunia, tidak menjadi tujuan jika  dalam suasana itu ada sesuatu yang dianggap salah. Sudah barang tentu, yang dianggap sebagai kesalahan adalah menurut ukuran atau takaran mereka. Ber-Islam bagi mereka adalah menegakkan kebenaran dan membasmi kemungkaran. Lagi-lagi  yang dimaksud keberan dan kemungkaran adalah juga menurut ukuran mereka sendiri.   Pemahaman  tersebut   menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang Islam tidak mendalam. Para teroris tampaknya  belum masuk kategori ilmuwan, ulama atau sejenisnya.  Kedalaman atau keluasan  ilmu mereka  masih bisa disebut pas-pasan, bahkan masih kurang mencukupi.  Bahwa Islam tidak boleh membuat kerusakan, tetapi mereka melakukannya. Islam melarang saling membunuh, tetapi dengan bom mereka menghilangkan nyawa orang.  Ajaran Islam memberikan petunjuk agar  meraih hidup bahagia dan selamat di dunia dan di akherat, tetapi mereka malah mencelakakan diri dengan cara bunuh diri.   Namun hal yang luar biasa dari mereka adalah keteguhan dalam membela keyakinannya itu. Mereka mau mengorbankan apapun demi keyakinannya itu, bahkan hingga mati sekalipun. Orang yang berpandangan tidak sama dengan dirinya dianggap musuh, dan boleh dimusnahkan. Membunuh dan memusnahkan orang yang tidak sama dengan  mereka,  dianggap boleh. Ber-Islam bagi mereka sama artinya memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki musuh dan musuh itu harus dihancurkan.  Memang ada dalam Islam perintah untuk berjihat dalam arti perang. Akan tetapi perintah itu adalah dalam kontek membela diri manakala sedang diperangi dan diusir  oleh musuh. Sebaliknya, justru Islam mengajarkan tentang keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Islam hadir adalah memberikan kabar gembira tentang kehidupan yang mulia yang diliputi oleh suasana saling mengenal, memahami, menghargai, mencintai,  dan  tolong menolong  antar  sesama.    Dalam Islam perintah untuk saling mencintai dan  kasih sayang sedemikian banyak dalam al Qurán maupun hadits nabi. Sifat Allah yang maha mulia, seperti Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang  disebut berulang-ulang dalam al Qurán dan bahkan harus dibaca atau diucapkan dalam setiap melakukan kebaikan. Demikian pula dalam shalat lima waktu  yang sehari-hari dijalankan, kaum muslimin  harus menyebut atau mengucapkan sifat yang mulia itu.  Sepanjang hayatnya,  Nabi Muhammad menghiasi kehidupnya   dengan  suasana kasih sayang, memperhatikan sesame,  lebih-lebih terhadap orang yang lemah dan miskin. Utusan Allah ini selalu mengaitkan antara keimanan seseorang dengan berbuat baik kepada orang lain, seperti menolong pada  fakir miskin, anak yatim, orang yang sedang kesulitan dalam perjalanan, memiliki hutang dan sebagainya. Orang yang tidak mau memperhatikan anak yatim dan member makan terhadap orang miskin disebut sebagai pendusta agama.    Oleh karena itu, munculnya  teroris tidak saja merepotkan pemerintah dan  pihak keamanan, tetapi juga  menyita pikiran banyak orang, termasuk ulama dan tokoh muslim sendiri. Para tokoh dan ulama Islam tidak mau disebut bahwa kegiatan teroris dimotivasi oleh ajaran Islam. Islam tidak mengajarkan kekerasan, apalagi mengakibatkan kerusakan dan membunuh banyak orang.   Maka hingga kini hal itu menyisakan persoalan yang masih menunggu  jawaban yang  pasti atau  benar.   Hal yang menjadi teka-teki dan membingungkan misalnya, apabila dikatakan bahwa  kegiatan teroris itu  disebabkan  oleh keterbatasan pengetahuan agamanya, maka rupanya  tidak benar. Sebab sedemikian banyak orang yang berpengetahuan agama terbatas  tetapi tokh tidak ikut kelompok itu. Atau sebaliknya, jika dikatakan mereka terlalu paham tentang ajaran agamanya, juga tidak benar.  Sebab  banyak ulama, cendekiawan atau ilmuwan Islam tidak menjadi teroris,  dan bahkan membenci, ngecam dan bahkan mengutuk kegiatan perusakan itu.   Jika demikian halnya, menjadi teroris  tidak ada kaitannya dengan pengetahuan  ke-Islam seseorang. Jiwa itu tumbuh,  terbentuk, dan berkembang  oleh lingkungan,  hingga mereka menjadi pendendam, iri hati,  marah,  semangat permusuhan,  merusak dan lain-lain. Jiwa yang  tidak sewajarnya  seperti itu, tatkala  menemukan  pembenar, yaitu konsep tentang syahid, maka mereka rela masuk kelompok itu. Padahal syahid dalam arti membela Islam adalah mewujudkan kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan.  Atas dasar  itu,  maka diperlukan pemahaman yang lebih mendalam lagi terhadap fenomena itu, baik terkait dengan internail pribadi maupun lingkungan luas yang membentuknya. Rupanya semakin dimusuhi, maka  hati mereka  akan semakin sakit, dendam, dan mereka akan mencari musuh sedapat-dapatnya. Oleh karena itu hal yang perlu dilakukan  adalah melakukan pendekatan, penyadaran,  dan bahkan penyembuhan  terhadap  hati  yang sakit itu. Panyakit hati biasanya muncul dari suasana tidak adil, merasa dibaikan, tersisih dan lain-lain.   Oleh karena itu, saya melihat perlunya di negeri ini  dikembangkan tata kehidupan  yang bernuansa sejuk, kasih sayang, kepedulian terhadap semua, menghindari keputusan atau kebijakan yang melahirkan pemusuhan, berebut yang berlebihan,  rasa dendam dan  tidak adil, memonopoli sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan bersama, tidak memenuhi  kepantasan,  dan lain-lain.  Dengan cara itu maka insya Allah,  akan mengurangi munculnya gejala yang tidak diinginkan itu, yakni  gerakan teroris yang menggelisahkan bagi semua. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *