Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Membaca Suara Batin Rakyat

Ada tugas berat lagi bagi setiap pemimpin, yaitu kemampuan membaca suara batin mereka yang sedang dipimpinnya. Suara batin tidak sama dengan bisikan nafsu. Hal yang kedua ini, siapapun bisa membacanya. Nafsu atau keinginan bagi semua orang biasanya sama, jumlah dan macamnya tidak terbatas, karena itu mudah dibacanya. Nafsu atau keinginan ini tidak harus dipenuhi oleh setiap pemimpin. Bahkan seorang pemimpin harus mampu membatasi, mengarahkan dan atau mengendalikannya. Suara batin atau mungkin orang menyebutnya dengan istilah suara hati, hanya bisa dibaca oleh hati dan bukan sebatas kedua mata sang pemimpin. Suara batin biasanya lembut dan bersih. Ketajaman suara batin tidak sama dengan kekuatan pikiran. Jika kekuatan pikiran bisa dipertajam melalui pelatihan di lembaga pendidikan, maka ketajaman suara batin tidak selalu bisa diperoleh dari tempat itu. Suara batin dimiliki oleh siapa saja. Hanya memang, suara itu kemudian bisa tetap terang dan jernih, sedang-sedang saja, tetapi juga sebaliknya menjadi gelap atau tumpul. Agar suara batin bisa tetap bersih dan jernih, maka harus selalu dipelihara dari berbagai kotoran yang selalu datang dan mengganggu. Memelihara suara batin sesungguhnya tidak sulit, ialah dengan cara menjaga komunikasi dengan Dzat Yang Maha Suci dan selalu melakukan kebaikan. Semakin jauh seseorang berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Suci, apalagi kemudian berbalik hanya sebatas mengandalkan kekuatan nalarnya, maka semakin lama ia akan semakin tidak mampu menggunakan suara batinnya itu. Suara batin yang bersih dan suci akan digantikan dengan kekuatan nalar yang lebih dekat dengan nafsunya. Komunikasi dengan Dzat Yang Maha Suci bisa dilakukan dengan cara mudah, yakni selalu ingat pada-Nya. Setiap menjalankan sesuatu, selalu memulainya dengan atas nama sifat kasih sayang-Nya, dijalankan dengan ikhlas, sabar, istiqomah, banyak bersyukur dan bertawakkal. Sedangkan yang kedua ialah dengan selalu berusaha berdekat-dekat dengan suara hati sesama makhluknya. Semua makhluk memiliki suara hati yang sama. Saling mengenal dan membaca suara hati yang jernih dan halus itu, maka akan menghasilkan suara hati yang jernih pula. Hati yang bersih dan suci membutuhkan berkomunikasi dengan dengan hati yang bersih. Sebagai wujut komunikasi antar suara hati yang bersih, adalah lahirnya kesenangan untuk selalu menggembirakan, menguntungkan, membahagiakan, dan menyelamatkan orang lain. Suasana itu lazim disebut sebagai amal sholeh. Suara batin seseorang, apakah masih bersih atau sebaliknya sudah gelap, sesungguhnya secara sederhana bisa dibaca dengan mudah. Tatkala seseorang mampu ikut merasakan penderitaan orang lain, maka orang tersebut artinya, masih memiliki suara batin yang bersih. Jika seseorang, tatkala sedang melewati lokasi semburan lumpur, Sidoarjo, menyaksikan penderitaan korban itu, lalu ternyata tidak tergerak hatinya atau setidak-tidaknya tidak merasa iba, maka artinya suara batin yang bersangkutan sudah tidak bisa berbicara. Sebaliknya, bagi yang memiliki suara batin bersih, maka tatkala melihat penderitaan itu, mereka akan merasa ikut menderita, dan jika mampu, akan segera ikut meringankan beban penderitaan itu. Suara batin selalu menghendaki adanya kejujuran, keadilan, obyektivitas, kepantasan, dan nilai-nilai luhur lainnya. Suara batin tidak mau dengan suasana ribut-ribut saling menjatuhkan dan mencelakakan, yang ujung-ujungnya hanya akan membuahkan penderitaan banyak orang. Suara batin selalu menghendaki suasana munculnya saling menghormati dan menghargai, saling kasih sayang, hingga melahirkan saling tolong menolong antar sesama. Saya yakin, itulah sesungguhnya suara batin rakyat yang seharusnya berhasil dibaca oleh para pemimpinnya. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *