Membandingkan bangsa sendiri dengan bangsa lain, ternyata memang banyak dilakukan orang. Tidak terkecuali oleh pakar, ilmuwan, dan juga tokoh. Dalam seminar, diskusi, debat, atau apa lagi namanya, data tentang berbagai prestasi beberapa bangsa atau negara ditampilkan. Namun, selalu saja ujung-ujungnya, bahwa bangsa Indonesia telah ketinggalan. Tidak tanggung-tanggung ketertinggalannya itu juga dari bangsa yang lebih kecil dan lebih kemudian merdekanya.
Upaya membandingkan itu, maksudnya baik, yaitu agar para peserta seminar dan atau kegiatan ilmiah itu tahu dan sadar bahwa bangsa ini sudah ketinggalan. Dengan cara itu diharapkan hati dan semangat mereka tergerak bangkit dan mengejar bangsa yang sudah terlebih dahulu maju. Namun sebenarnya, upaya membanding seperti itu, disamping ada keuntungan, juga ada ruginya. Menyebut-nyebut bahwa bangsanya sendiri tidak maju, tertinggal, terpuruk, dan seterusnya juga akan menjadikan seseorang tidak bangga terhadap bangsanya sendiri. Selain itu juga akan mempertagas bahwa bangsa ini adalah rendah dan tertinggal yang berakibat akan sulit membangun rasa percaya diri. Padahal sikap percaya diri dan bangga sebagai bangsa sangat diperlukan. Tidak akan ada untungnya bangsa ini dibiarkan membanggakan orang lain dan sebaliknya selalu merendahkan dirinya sendiri. Jika demikian yang dilakukan, maka mestinya tidak perlu marah, apabila kemudian bangsa lain merendahkannya. Membandingkan bangsa sendiri dengan bangsa lain, dengan maksud agar terdorong melakukan hal yang lebih baik, memang perlu. Akan tetapi, mestinya hal itu dilakukan secara seimbang. Bangsa ini selain memiliki kelemahan misalnya, juga menyandang kelebihan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia dikenal sangat religious. Prestasi ini kiranya bukan barang murah dan sederhana, serta siapapun tidak akan gampang membangunnya. Apapun keadaannya, bangsa yang berpegang pada agama, adalah segala-galanya. Kaya dan lagi cerdas, tetapi tidak mengenal tuhan dan cara-cara menyembahnya akan dianggap rendah. Memang melihat orang lain, dalam batas-batas tertentu diperlukan. Misalnya, orang lain ternyata lebih banyak ilmunya, lebih pintar bersyukur, lebih khusuk ibadahnya, lebih besar shadaqohnya dari yang lain, dan seterusnya. Pengetahuan itu diperlukan untuk mendorong agar melakukan kebaikan yang sama. Tetapi kalau sekedar untuk menambah kekecewaan belaka, sebenarnya tidak perlu. Apalagi, jika ternyata melahirkan sikap yang merugikan sebagaimana dikemukakan di muka. Membadingkan dengan bangsa lain juga tidak perlu, jika hal itu hanya mendatangkan kesombongan, riya’, atau takabbur. Melihat ke bawah diperlukan untuk menambah rasa syukur, yang sebenarnya jiwa seperti itu sangat diperlukan. Akan tetapi, kalau hal itu justru sebaliknya, yaitu berakibat sombong, tidak bersyukur, merasa lebih pintar, lebih shaleh, dan seterusnya, maka tidak perlu dilakukan. Melihat orang lain dan membandingkannya dengan diri sendiri, agar terdorong berbuat lebih baik, maka memang seharusnya dilakukan. Selain itu, hal yang kiranya perlu disadari adalah bahwa sebenarnya, terlalu sering menyebut kelemahan diri sendiri, atau bangsanya sendiri, akan menjadikan bangsa ini tidak mengenali peta dirinya. Akibatnya, apa saja yang berasal dari bangsanya sendiri, selalu dianggap kurang berkualitas, tidak mutu, dan tidak membanggakan. Padahal membangun kepercayaan diri sendiri adalah sangat penting dilakukan, lebih-lebih terhadap para siswa generasi muda pada umumnya. Para guru atau pendidik bertugas untuk membangun kepercayaan diri bagi para siswanya. Tugas itu tidak mudah dilakukan, dan akan menjadi lebih sulit lagi, kalau para elite, tokoh, dan atau cendekiawannya, sehari-hari menjelek-jelekan bangsanya sendiri. Jika itu dilakukan secara terus menerus maka para guru benar-benar dibuat repot oleh para pengamat, tokoh dan orang-orang yang menyebut dirinya cendekiawan, yang selalu mengatakan bahwa negeri dan bangsa ini serba kekurangan itu. Akhirnya, sesungguhnya yang diperlukan adalah kearifan. Mengakui kekurangan bangsanya sendiri memang boleh-boleh saja. Akan tetapi hal yang harus dilakukan secara seimbang dan obyektif. Biasanya yang dibandingkan hanya sebatas capaian-capaian yang bersifat ekonomis atau hal-hal yang bersifat materialistik. Padahal keberhasilan pada aspek itu, disetujui atau tidak, sebenarnya bukanlah segala-galanya. Oleh karena itu, tatkala mendengarkan orang yang lagi merendahkan bangsa sendiri dan membesar-besarkan bangsa lain, saya selalu bertanya dalam hati, mengapa tidak dilakukan secara utuh dan seimbang, ———sebagaimana dikemukakan di muka, yaitu melibatkan variabel keberagamaannya. Agama menurut hemat saya merupakan kekayaan pribadi dan juga bangsa yang luar biasa besarnya. Padahal tidak semua bangsa berhasil membangun suasana keberagamaan sebagaimana bangsa Indonesia selama ini.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
