Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Membandingkan Bangsa Sendiri Dengan Bangsa Lain

Membandingkan  bangsa sendiri dengan bangsa  lain, ternyata memang banyak dilakukan orang. Tidak terkecuali oleh pakar, ilmuwan,  dan juga tokoh. Dalam seminar, diskusi,  debat, atau apa lagi namanya, data tentang berbagai prestasi  beberapa bangsa atau negara ditampilkan.  Namun, selalu saja ujung-ujungnya, bahwa bangsa Indonesia telah ketinggalan. Tidak tanggung-tanggung ketertinggalannya  itu juga dari bangsa yang lebih kecil dan  lebih kemudian merdekanya.

  Upaya membandingkan itu, maksudnya baik, yaitu agar para peserta seminar dan atau kegiatan ilmiah itu tahu dan sadar bahwa bangsa ini sudah ketinggalan. Dengan cara itu diharapkan hati dan semangat mereka  tergerak bangkit dan mengejar bangsa yang sudah terlebih dahulu maju. Namun sebenarnya,  upaya membanding seperti itu,  disamping ada keuntungan,  juga  ada ruginya.  Menyebut-nyebut bahwa bangsanya sendiri   tidak maju, tertinggal, terpuruk,  dan seterusnya juga akan menjadikan seseorang  tidak bangga terhadap bangsanya sendiri.      Selain itu juga  akan mempertagas bahwa bangsa ini adalah rendah dan  tertinggal  yang berakibat  akan sulit membangun rasa percaya diri. Padahal sikap percaya diri dan bangga sebagai bangsa  sangat diperlukan. Tidak  akan ada untungnya  bangsa ini dibiarkan membanggakan orang lain dan sebaliknya selalu merendahkan dirinya sendiri.  Jika demikian yang dilakukan, maka mestinya tidak perlu marah, apabila  kemudian bangsa lain merendahkannya.   Membandingkan  bangsa  sendiri dengan  bangsa  lain,  dengan maksud agar   terdorong melakukan  hal yang lebih baik,  memang perlu. Akan tetapi,  mestinya  hal itu  dilakukan secara seimbang. Bangsa ini selain memiliki kelemahan misalnya, juga menyandang kelebihan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia dikenal sangat religious. Prestasi ini kiranya bukan barang murah dan sederhana, serta siapapun tidak akan gampang  membangunnya. Apapun keadaannya, bangsa yang berpegang pada agama,  adalah  segala-galanya. Kaya dan lagi cerdas, tetapi tidak mengenal tuhan dan cara-cara menyembahnya akan dianggap  rendah.      Memang melihat orang lain, dalam batas-batas tertentu diperlukan. Misalnya,   orang lain ternyata lebih banyak ilmunya, lebih pintar bersyukur, lebih khusuk ibadahnya, lebih besar shadaqohnya dari  yang  lain, dan seterusnya.  Pengetahuan itu diperlukan  untuk mendorong agar melakukan  kebaikan yang sama. Tetapi kalau sekedar untuk menambah  kekecewaan belaka, sebenarnya tidak perlu. Apalagi, jika  ternyata  melahirkan sikap yang merugikan sebagaimana dikemukakan di muka.   Membadingkan dengan bangsa lain juga tidak perlu, jika hal itu hanya mendatangkan  kesombongan, riya’, atau takabbur. Melihat ke bawah diperlukan untuk menambah  rasa syukur, yang  sebenarnya jiwa seperti itu sangat diperlukan. Akan tetapi, kalau hal itu justru sebaliknya, yaitu   berakibat sombong, tidak bersyukur, merasa lebih pintar, lebih shaleh,  dan seterusnya, maka  tidak perlu dilakukan. Melihat orang lain dan membandingkannya dengan  diri sendiri, agar terdorong berbuat  lebih baik, maka memang seharusnya dilakukan.   Selain itu, hal yang kiranya perlu disadari adalah bahwa sebenarnya, terlalu  sering menyebut kelemahan diri sendiri, atau bangsanya sendiri,  akan menjadikan bangsa ini tidak mengenali peta dirinya. Akibatnya, apa saja yang berasal dari bangsanya  sendiri, selalu  dianggap kurang berkualitas, tidak mutu, dan tidak membanggakan. Padahal membangun kepercayaan diri sendiri  adalah sangat penting dilakukan, lebih-lebih terhadap para siswa generasi muda pada umumnya.     Para  guru  atau pendidik  bertugas untuk membangun kepercayaan diri bagi para siswanya. Tugas itu tidak mudah dilakukan, dan akan menjadi lebih sulit lagi, kalau para elite, tokoh, dan atau  cendekiawannya, sehari-hari menjelek-jelekan bangsanya sendiri.  Jika itu dilakukan secara terus menerus  maka  para  guru benar-benar dibuat repot oleh para pengamat, tokoh dan orang-orang yang menyebut dirinya cendekiawan,  yang selalu mengatakan bahwa negeri dan bangsa  ini serba kekurangan itu.   Akhirnya, sesungguhnya yang diperlukan adalah kearifan. Mengakui kekurangan  bangsanya sendiri   memang boleh-boleh saja. Akan tetapi hal yang harus dilakukan secara seimbang dan obyektif. Biasanya yang dibandingkan hanya sebatas capaian-capaian yang bersifat ekonomis atau hal-hal yang bersifat materialistik. Padahal keberhasilan pada aspek itu, disetujui atau tidak,  sebenarnya bukanlah segala-galanya.    Oleh karena itu, tatkala mendengarkan orang yang lagi merendahkan bangsa  sendiri dan membesar-besarkan  bangsa lain, saya selalu bertanya dalam hati, mengapa tidak dilakukan secara utuh dan seimbang, ———sebagaimana dikemukakan di muka,  yaitu  melibatkan variabel keberagamaannya.  Agama menurut hemat saya   merupakan kekayaan pribadi dan juga bangsa  yang luar biasa besarnya. Padahal tidak semua bangsa berhasil membangun suasana keberagamaan sebagaimana bangsa Indonesia selama ini.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *