Tatkala di mana-mana sering diributkan tentang besarnya biaya pendidikan, maka di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, suara itu tidak akan muncul. Di sana sudah diberlakukan wajib belajar 12 tahun. Mulai dari ekolah dasar hingga sekolah menengah atas, biaya pendidikan dicukupi oleh pemerintah setempat. Bahkan bebas biaya pendidikan juga diberlakukan hingga bagi mahasiswa yang belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta ( STAIS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) di kabupaten itu.
Hari Selasa, tanggal 26 Oktober 2010, saya diundang oleh STAIS Kutai Timur untuk memberi kuliah umum. Kota Sangatta cukup jauh. Untuk sampai ke kota itu, sebenarnya bisa ditempuh dari Balikpapan, sekitar satu jam dengan menggunakan pesawat ukuran kecil bermuatan 18 orang. Akan tetapi, karena pesawat yang biasa terbang ke sana mengalami trouble, sehingga terpaksa tidak terbang, maka saya harus lewat darat, menempuh sekitar 8 jam perjalanan dari Balikpapan. Perjalanan ke Sangatta dengan jalan darat tersebut memang benar-benar melelahkan. Karena sehari sebelumnya, saya juga dengan kendaraan darat pula, baru pulang menghadiri seminar dari Universitas Negeri Yogyakarta. Sehingga, dua malam saya harus di perjalanan darat dalam jarak yang cukup jauh. Atas keadaan seperti itu, Ketua STAIS Kutai Timur, Prof.H.Siti Muriah, menampakkan empatinya. Tetapi saya katakan, saya sudah berlatih pergi jarak jauh dengan kendaraan darat, bahkan lebih berat. Saya sampaikan kepadanya, bahwa saya pernah berkendaraan darat, dari Amman, Yordan ke Baghdad. Demikian pula, saya juga pernah dengan kendaraan darat pula, dari Jeddah ke Kunfudha. Kedua perjalanan tersebut jauh lebih berat dari pada perjalanan antara Balikpapan ke Sangatta, karena di daerah padang pasir. Perjalanan di padang pasir, jika terjadi angin kencang, maka sepanjang jalan tidak kelihatan. Suasan kanan dan kiri jalan sangat gelap, karena hempasan angin bercampur debu. Sehingga saya katakan, sekalipun jauh perjalanan dari Balikpapan ke Sangatta tidak berat. Keadaan yang cukup melelahkan itu menjadi tidak terasa, karena sambutan mereka sangat menggembirakan. Sekalipun acara itu hanya sekedar kuliah umum, tetapi tidak saja diikuti oleh para mahasiswa, melainkan juga oleh semua pimpinan, dosen dan karyawan. Bahkan yang menarik, kuliah umum juga dihadiri oleh para pejabat pemerintah daerah, pimpinan dan anggota DPRD, dan tokoh masyarakat. Bupati yang kebetulan tidak bisa hadir, karena sedang di luar kota, juga menunjuk wakilnya untuk hadir dan memberi sambutan pada kuliah umum itu. Saya menjadi lebih terhibur lagi, setelah mendengarkan isi sambutan wakil Bupati pada acara itu. Melalui sambutan itu, saya sangat gembira dan menilai bahwa pemerintah daerah dalam membangun daerahnya sudah berada pada jalur yang tepat, yaitu di antaranya telah menjadikan pendidikan sebagai program strategis. Wakil bupati menjelaskan tentang potensi daerahnya dan pengembangannya ke depan, termasuk program-program pengembangan pendidikan yang sudah dijalankan selama ini serta proyeksinya ke depan. Sebagai petunjuk tentang kepeduliannya pada pendidikan, pimpinan daerah sudah mengambil kebijakan berupa memberlakukan wajib pendidikan 12 tahun. Disebutkan dalam sambutannya itu bahwa tidak boleh di Sangatta terdapat anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Semua biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah daerah. Bahkan di kedua perguruan tinggi yang ada di kabupaten itu, yakni STAIS dan STIPER, semua pembiayaannya dipenuhi oleh pemerintah daerah. Para mahasiswa yang kuliah di dua kampus tersebut, sekalipun institusinya masih berstatus swasta, dibebaskan dari semua biaya pendidikan. Sementara ini, pemerintah telah berhasil menyelesaikan pembangunan gedung kampus STIPER. Maka pada tahun 2011 ini akan mebangun gedung kampus untuk Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta di atas tanah seluas 10 hektar yang juga telah tersedia. Dari acara itu saya mendapatkan kesan bahwa, ada dua keuntungan besar bagi masyarakat kabupaten Kutai Timur, yaitu daerahnya kaya sumber daya alam ——banyak tambang terutama Batubara, dan sekaligus para pejabatnya tampak sangat memahami, bagaimana mengembangkan daerahnya. Hal itu terlihat jelas misalnya, dari betapa besarnya perhatian mereka pada pendidikan. Banyak wilayah dan daerah yang saya datangi, mulai dari Aceh hingga Jayapura, Papua. Namun baru di Sangatta, perguruan tinggi swasta mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah daerahnya. Tidak banyak pemerintah daerah memberi bantuan kepada perguruan tinggi swasta sebagaimana yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Umpama membantu biasanya hanya berupa subsidi dan biaya pengembangan fisik. Pemerintah Kabupaten ini membebaskan beban biaya pendidikan hingga terhadap semua mahasiswa perguruan tinggi swasta di daerahnya. Kebiajakan tersebut kiranya perlu mendapat apresiasi dari semua pihak di negeri ini. Bangsa ini ke depan akan maju manakala pendidikannya maju. Pendidikan akan maju manakala semua pihak, termasuk pemerintahnya juga memiliki kepedulian yang besar pada pendidikan. Ke depan, kata pejabat yang hadir dalam acara kuliah tamu tersebut, akan diberlakukan peraturan, berupa memberi sanksi terhadap siapa saja yang berusia sekolah tetapi tidak mau menjalaninya. Saya yakin, jika semangat pendidikan dimiliki oleh semua pejabat, mulai dari pusat hingga daerah, maka ke depan Indonesia akan benar-benar menjadi maju. Apalagi, sebagaimana di Kutai Timur, pendidikan yang dikembangkan sudah memadukan antara kebutuhan sains dan teknologi dengan pendidikan agama. Kedua-duanya oleh pemerintah setempat dipandang sama-sama penting, sehingga tidak boleh di antaranya ada yang diabaikan. Memang sebenarnya jika mau jujur, kegagalan bangsa ini dalam bersaing dengan bangsa lain, adalah dimulai dari pengambilan keputusan yang kurang tepat, utamanya dalam pendidikan. Akibatnya, bangsa ini selain tertinggal dalam pengembangan ilmu dan teknologi, masih disempurnakan dengan penderitaan lainnya, yaitu miskin akhlak, terbukti penyimpangan dan korupsi terjadi di mana-mana, di hampir semua lapisan. Karena itu, apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kutai Timur tersebut perlu diapresiasi, dan juga dicontoh oleh lainnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
