Akhir-akhir ini pemerintah banyak dikritik, di antaranya disebut terlalu banyak membangun citra diri. Kebijakan yang diambil hanya agar melahirkan kesan baik. Sehingga sementara orang menyebut, pemerintah lagi membangun politik pencitraan. Yaitu membuat agar seolah-olah pemerintah telah berbuat banyak untuk kepentingan rakyat.
Citra itu sebenarnya memang penting. Kewibawaan institusi dan apalagi pemerintah sangat tergantung dari bagaimana masyarakat melihat atau memberikan citra terhadapnya. Institusi yang telah terlanjur memiliki citra buruk, maka apa saja yang dilakukan akan dinilai buruk. Demikian pula sebaliknya, jika sesuatu sudah dipandang baik, maka apa saja yang dilakukan atau ditampilkan akan diterima orang. Citra baik akhirnya menjadi sedemikian mahal. Tulisan sederhana ini mengajak untuk melihat betapa pentingnya citra baik itu dibangun dan dipelihara, sekalipun bagi siapapun tidak boleh hanya berhenti pada pencitraan itu. Citra baik sebenarnya sama saja dengan nama baik. Orang yang telah memiliki nama baik, maka akan selalu dicari orang dan dihargai mahal. Hal itu berlaku untuk bidang apa saja, misalnya dalam kepemimpinan pemerintahan, perusahaan, seni, hingga sebagai seorang ustadz. Seorang pemimpin yang dikenal hebat, maka apa saja yang dilakukan segera dibenarkan oleh banyak orang dan diikuti. Seorang penyanyi yang telah memiliki nama besar, maka akan dikejar-kejar para pencitanya. Demikian pula seorang ustadz, sekalipun suatu ketika misalnya, ceramahnya kurang bagus, masih tetap saja akan dianggap bagus. Itu semua karena citra yang telah dibangun dalam waktu sekian lama. Membangun citra tidak mudah. Memerlukan waktu dan pengalaman yang lama dan banyak. Selain itu citra harus tetap dijaga. Sebab, selain citra itu bisa naik juga sebaliknya, mudah sekali jatuh atau turun. Sedemikian sulit membangun citra, dan sebaliknya sedemikian mudah citra itu jatuh. Padahal jika citra itu sudah jatuh, maka membangkitkan kembali akan sangat sulit dilakukan. Seorang uestadz misalnya, yang telah berhasil memiliki nama besar, setiap hari diundang ke mana-mana untuk memberikan tausyiyah. Ia akan menjadi rebutan masyarakat, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Namun dalam waktu yang tidak lama, karena sesuatu hal yang sepele saja, maka nama atau citranya jatuh. Setelah itu, tidak ada lagi orang yang mau mengundang dan mendengarkan ceramahnya. Citra ustadz dalam contoh ini telah jatuh dan akan sangat sulit dibangun kembali. Semua orang telah tahu tentang itu, bahwa kesan, citra diri, nama baik dan seterusnya adalah sangat penting dan harganya mahal. Akan tetapi seringkali dilupakan, bahwa menjaga nama baik itu harus selalu dilakukan dari waktu ke waktu untuk selamanya. Oleh karena itu, bagi orang yang mengerti tentang citra atau nama baik itu, maka akan selalu menjaganya, dan kalau perlu ditempuh dengan pengorbanan apa saja. Sebagai contoh, tatkala sebuah produk perusahaan diketahui, ——karena sebuah kesalahan, mengecewakan pembeli, maka pihak pengusaha berani segera menarik kembali barangnya itu dan mengembalikan seluruh uang yang telah dibayarkan. Hal itu dilakukan oleh pengusaha yang paham tentang citra perusahaan yang harus selalu dijaga, agar masyarakat tetap mempercayainya. Membangun citra diri harus dilakukan oleh yang bersangkutan. Orang lain selalu tidak peduli terhadap nama baik seseorang, kecuali ada hubungan tertentu, misalnya karena kekerabatan, hubungan atasan bawahan dalam institusi atau kantor dan sejenisnya. Namun sayangnya, citra diri yang sedemikian mahal, ternyata sering tidak disadari oleh banyak orang. Seseorang, hanya karena ingin mendapatkan keuntungan sesaat, maka rela merusak citra dirinya sendiri. Tanpa sebab, temannya sendiri disakiti, ditinggalkan, dan dirugikan. Padahal dengan cara itu, kerugian tidak saja menimpa orang lain, tetapi juga dirinya sendiri, bahkan akan dialami dalam waktu lama. Persoalan citra bukan saja penting bagi institusi atau pemerintah, tetapi juga untuk seseorang atau pribadi. Persoalan kecil dan sederhana ini sering dilupakan orang, sekalipun sebenarnya sangat menentukan keberhasilan di masa depan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
