Disadari atau tidak, hidup ini adalah berkompetisi. Setiap kompetisi selalu ada pihak yang menang dan sebaliknya, ada pihak yang kalah. Al Qur’an juga mengatakan begitu, bahwa hidup ini adalah sebatas permainan. Kita bisa melihat sehari-hari, orang bermain dalam politik, ekonomi, hukum, seni, budaya dan berbagai macam bidang kehidupan lainnya. Semua orang membutuhkan permainan dan berkompetisi itu. Oleh karena itu, orang yang sedang tidak punya mainan, akan mencarinya sampai dapat. Banyak orang, tatkala mencari pekerjaan, jabatan, posisi dan seterusnya bukan sebatas menghendaki apa yang sedang dicari itu, melainkan mereka sesungguhnya adalah sedang mencari permainan. Jika seeorang telah memiliki permainan, maka umumnya akan merasa tenang, dan tidak gelisah lagi. Banyak orang tatkala berhenti dari jabatannya, apakah karena masa jabatannya habis, diberhentikan karena sesuatu hal, atau juga karena memasuki masa purna tugas atau pensiun, seringkali tidak siap, lalu gelisah. Kegelisahan itu bukan semata-mata karena berhenti dari jabatannya itu, melainkan telah kehilangan arena permainannya. Bermain atau berkompetisi adalah merupakan kebutuhan hidup. Di mana dan kapanpun ternyata kompetisi atau permainan selalu dimenangkan oleh pihak-pihak yang kuat atau memiliki kelebihan. Tidak pernah dalam bidang apapun, ada orang lemah memenangkan kompetisi. Karena itu, jalan terbaik agar selalu memenangkan pada setiap kompetisi, harus membekali diri dengan kekuatan yang diperlukan. Kekuatan itu tergantung pada arena kompetisi atau permainannya itu. Bidang olah raga misalnya, maka aspek fisik yang selalu diutamakan. Lain halnya kompetisi di bidang politik, diperlukan ketrampilan berkomunikasi, kaya ide, strategi, dan sebagainya. Begitu juga untuk memenangkan kompetisi di bidang-bidang lainnya, membutuhkan kekuatan berbeda. Dalam lingkup kecil, bekerja di kantor misalnya, di sana juga ada kompetisi. Orang-orang yang cerdas, tekun, tulus, banyak prestasi biasanya dipercaya memimpin. Sebaliknya, orang-orang yang tidak banyak prestasi akan tersisih. Dulu, orang berhasil menduduki posisi penting, menjadi tokoh atau pemimpin, karena mengandalkan kekuatan hartanya, atau bahkan juga kekuatan fisiknya, hingga ditakuti banyak orang, lalu diangkatlah ia jadi pemimpin. Berbeda dengan itu, sekarang tidak seperti itu lagi. Orang yang diangkat menjadi pejabat atau pemimpin ——artinya berhasil memenangkan kompetisi, manakala yang bersangkutan memiliki kelebihan-kelebihan yang nyata-nyata diperlukan banyak orang. Demikian pula dalam lingkup besar, misalnya antar negara juga selalu melakukan kompetisi. Negara-negara yang berhasil mengembangkan kekuatannya, baik fisik (kekuatan tentara), ilmu dan teknologi, ekonomi, dan lain-lain memenangkan kompetisi. Kemenangan selalu diraih melalui kekuatan atau kelebihan. Karena itu siapapun yang ingin memenangkan kompetisi, —–pada tingkat apapun, harus membekali diri dengan kelebihan-kelebihan yang diperlukan. Tidak terkecuali bangsa ini, jika ingin menjadi besar dan memenangkan kompetisi, harus menempuh jalan itu. Islam melalui kitab suci dan tauladan rasulnya memberikan petunjuk, bahwa untuk meraih kemenangan harus ditempuh melalui keimanan yang kokoh, kekayaan ilmu, amal sholeh, dan akhlak yang mulia. Mudah-mudahan umat Islam ke depan berhasil membekali diri dengan kelebihan itu semua, hingga suatu saat memenangkan kompetisi dan permainan pada berbagai bidang dan levelnya, tidak terkecuali pada tingkat global yang luas itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
