Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Mengapa Orang Jatuh Sakit?

Judul di atas layaknya diajukan oleh seorang dokter, bukan orang awam seperti saya. Sebab, secara moral akademik memang dokter yang punya otoritas untuk berbicara dan menjelaskan penyebab sakit seseorang. Saya membahas judul di atas berangkat dari pengalaman ketika mengantar seorang teman yang punya keluhan nyeri dan sakit di sebagian anggota tubuhnya. Pengalaman mengantar teman itu saya tulis dalam artikel pendek ini dengan harapan siapa tahu ada manfaatnya.

  Alkisah, suatu hari saya mengantar seorang kawan ke dokter untuk memeriksakan kesehatan karena ada rasa nyeri di kaki dan kepala sering pusing. Keluhan itu sudah dia rasakan selama beberapa bulan terakhir. Entah apa sebabnya dia baru mau ke dokter setelah saya nasihati. Setelah antri hampir dua jam, akhirnya kami berdua masuk ke ruang dokter. Kepada dokter spesialis itu, sang kawan menyampaikan keluhannya yang selama  ini dideritanya. Dokter itu mendengarkan dengan cermat semua yang disampaikan. Usai mendengarkan cerita pasiennya, dokter itu langsung bertanya bagaimana pola makan sehari-hari selama ini dan apa saja makanan kesukaan anda. Dengan jujur, kawan itu menyebut ini dan itu. Secara spontan, dokter merespons dengan kata-kata “lho lho. wah harus hati-hati pak. Itu bahaya bagi orang seusia bapak”. Usia kawan itu sekitar 48 tahun. Sambil deg-degan juga saya mendengar komentar dokter. Sebab, saya sebenarnya juga penggemar makanan sebagaimana kesukaan teman saya itu. Usai diperiksa, kawan itu diberi resep obat yang harus diminum. Saya lihat daftar obatnya sangat panjang. Saya membayangkan penyakit kawan itu cukup serius. Sebelum meninggalkan ruangan, dokter ramah itu berpesan “jika bapak mau sehat, maka sejak sekarang bapak harus menghindari makanan yang tadi disebutkan dan selama ini menjadi kesukaan bapak dan imbangi dengan olah raga. Menjaga kesehatan jauh lebh baik daripada memulihkan kesehatan”. Kawan itu manggut-manggut saja. Kami keluar dari ruang dokter dan menuju apotek tidak jauh dari tempat praktik dokter untuk beli obat sebagaimana bunyi dalam resep. Setelah obat diperoleh, kami pulang dan di dalam perjalanan kami berdua mendiskusikan nasihat dokter tadi dengan fokus pada pertanyaan dokter tadi tentang pola makan dan jenis makanan yang disukai. Dokter itu tentu tidak tiba-tiba bertanya seperti itu. Sebagai seorang dokter spesialis, dia pasti sudah punya pengalaman panjang mendeteksi berbagai jenis penyakit dan penyebabnya. Berdasarkan pengalamannya, dia langsung menanyakan pola makan dan jenis makanan kesukaan bagi orang yang punyak keluhan tertentu. Kerja dokter itu ibarat seorang peneliti kuantitatif yang berangkat dari asumsi atau hipotesis sebagai titik permulaan mendeteksi penyakit pasien. Dengan hipotesis, deteksi bisa fokus pada suatu titik. Karena itu, bagi penganut madhab positivistik, penelitian hanya bisa dilakukan jika ada hipotesis. Dengan kata lain, tanpa hipotesis penelitian tidak punya sasaran jelas. Popper, misalnya, merupakan salah seorang filsuf pendukung pandangan ini. Pertanyaan dokter itu mengingatkan saya pada buku pemberian mantan mahasiswa saya beberapa tahun lalu dan kini telah sukses. Buku tersebut berjudul “The Miracle of Enzyme: self-healing program”, karya Prof. Hiromi Sinya, seorang ahli Klinis Pemdedahan di Albert Einstein College of Medicine, New York, dan Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Center. Dalam buku tersebut, Prof. Hiromi Sinya menulis “Anda adalah apa yang Anda makan. Penyakit, hidup, dan kesehatan adalah hasil dari yang Anda makan sehari-hari”. Kalimat bijak Prof. Hiromi menegaskan betapa petingnya memilih makanan demi kesehatan tubuh kita. Sebab, ada korelasi sangat kuat  antara kesehatan dan jenis makanan yang dikonsumsi seseorang. Dari pengamatannya secara langsung terhadap semua pasiennya mengenai hubungan antara kesehatan dan makanan, Prof. Hiromi berkesimpulan bahwa penyakit-penyakit berat seperti kanker, penyakit jantung, penyakit lever, diabetes,penyakit pembuluh darah otak, hipertensi, dan hiperlipidemia semuanya disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan gaya hidup, bukan karena usia. Menurutnya, karena perubahan gaya hidup dengan mengonsumsi makanan-makanan sehat seperti buah dan sayur, dan mengurangi makan daging dan makanan yang banyak mengandung susu, berolah raga secara rutin,  tidak merokok dan minum alkohol, maka usia rata-rata harapan hidup  di Amerika Serikat meningkat secara drastis, dari 47 tahun pada tahun 1900 , menjadi 78 tahun pada tahun 2006. Hal lain yang menarik dari penelitian Prof. Hiromi adalah pentingya mengetahui sejarah kebiasaan hidup seseorang. Menurutnya, sebagian besar pasiennya yang sakit kanker disebabkan oleh menu makan mereka yang umumnya terdiri atas protein hewani dan produk susu, seperti daging, ikan, dan telur. Ditemukan pula adanya hubungan langsung antara saat orang menderita penyakit, waktu, dan frekuensi orang tersebut mulai menderita penyakit dan waktu serta frekuensi orang tersebut mengonsumsi makanan-makanan tersebut.  Dengan kata lain, semakin muda dalam hidup seseorang dan semakin sering mengonsumsi makanan hewani, maka semakin awal pula ia menderita penyakit. Namun tidak berarti bahwa seseorang akan menderita suatu penyakit jika menyantap jenis-jenis makanan berprotein hewani. Tetapi, yang jelas efek dari kebiasaan makan seseorang akan terakumulasi dalam tubuh. Karena itu, agar tetap sehat kita harus selektif dalam hal makanan. Jangan memilih makanan hanya karena enak dimakan. Idealnya, menurut Prof. Hiromi,  adalah 85% nabati, dan 15% hewani. Hasil penelitian Prof. Hiromi menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari kebutuhan hidup. Bayangkan tatkala kita sakit, makanan apa saja tidak enak. Teman saya yang saya antar ke dokter itu membenarkan semua hipotesis dokter bahwa dia memiliki kebiasaan makan makanan yang tidak sehat, seperti tidak bisa makan tanpa daging, dia perokok berat, dan gak suka berolah raga. Menurutnya, kebiasaan makan makanan berdaging merupakan pola makananya sejak kecil dan sudah menjadi tradisi di keluarganya. Dia merasa belum makan jika tidak ada daging sebagai lauk. Sekilas orang melihat kawan saya itu sehat-sehat saja. Tidak ada tanda-tanda sakit pada tubuhnya. Sehari-hari dia beraktivitas kerja sebagai pegawai negeri di sebuah kantor pemerintah seperti biasa. Saya sendiri agak terkejut ketika mengetahui bahwa dia punya keluhan penyakit setelah periksa ke dokter. Tapi untung dia segera terdeteksi jenis penyakitnya dan pantangan makanan-makanan yang harus dihindari. Kita harus menjaga kesehatan. Sebab, tanpa kesehatan yang baik kita tidak bisa beraktivitas maksimal. Jika kita guru, kita tidak akan bisa mengajar dengan baik dan sering tidak masuk karena sakit. Jika pegawai kantor, kita tidak bisa menjalankan tugas kantor dengan sempurna. Kalau sebagai pedagang, kita juga tidak bisa menjajakan dagangan dengan baik. Singkatnya, apa pun profesi kita, jika kita sakit semuanya tidak akan berjalan dengan baik. Pun termasuk kita tidak bisa beribadah dengan baik jika sakit. Lebih rumit lagi, jika seseorang sakit maka semua anggota keluarganya juga merasakan efeknya,setidaknya jadi merepotkan. Sehat adalah karunia Allah yang luar biasa. Karena itu, harus disyukuri. Sebab, dengan sehat  kita bisa beraktivitas apa saja dengan baik. Kesehatan bisa diperoleh dengan pola hidup yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani. Kita harus sehat luar dalam. Jangan sampai tubuh kita tampak sehat, tetapi di dalamnya ada penyakit yang menggerogotinya. Tubuh yang sehat akan mampu menahan masuknya berbagai jenis penyakit, dan bahkan mampu menyembuhkanya sendiri.  Saya ingin menutup tulisan ini dengan meminjam kalimat bijak Prof. Hiromi bahwa “tidak sakit tidak sama dengan sehat”. Artinya, kalimat itu menggambarkan kondisi seseorang belum jatuh sakit, tetapi juga tidak sepenuhnya sehat, sehingga satu langkah lagi seseorang berada dalam kondisi sakit. Kawan itu saya itu berada dalam kondisi seperti itu. Karena begitu pentingnya kesehatan bagi tubuh kita, maka selalu berdoa kepada Allah untuk diberi kesehatan harus menjadi bagian dari aktivitas keseharian kita. Tentu selain berdoa juga perlu ikhtiar dengan menjaga pola dan gaya hidup yang sehat. Memperbaiki gaya hidup sehari-hari jauh lebih penting daripada mengandalkan keampuhan obat. Menjaga diri untuk tidak selalu berprasangka buruk terhadap orang lain juga merupakan bagian dari gaya hidup sehat. ______________ Malang, 12 Juli 2011  

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *