Thursday, 30 April 2026
above article banner area

Menginternalisasikan Nilai-Nilai Luhur Dalam Pendidikan Sains Untuk Menyongsong Masa Depan Bangsa

Pada hari ini, saya mendapatkan undangan dari beberapa kegiatan baik undangan itu sebagai rektor maupun sebagai pribadi. Sebagai rektor  hari ini, saya  diundang ke Batam beserta pimpinan perguruan tinggi negeri lainnya. Sebagai pribadi, saya diundang pada beberapa kegiatan, termasuk dari Panitia Seminar Nasional Program Studi Pendidikan Sains, Universitas Negeri Yogyakarta. Di antara beberapa pilihan itu, saya memilih datang memenuhi undangan  seminar yang diselenggarakan oleh Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta ini.

  Pilihan saya pada kegiatan seminar ini, bukan saja karena saya  memiliki hubungan sangat dekat dengan Rektornya, Prof. Dr. H. Rachmat Wahab, melainkan karena persoalan ini saya anggap sangat penting untuk dibicarakan, didiskusikan, dan diseminarkan seperti sekarang  ini.  Bahkan, akan terasa menjadi lebih penting lagi umpama, rumusan-rumusan yang dihasilkan segera dijadikan bahan renungan, kajian dan bahkan segera ditindak-lanjuti dengan kegiatan konkrit di lapangan.   Persoalan moral, karakter, dan juga akhlak bangsa, —–sebagaimana ditulis pada proposal seminar  yang saya baca, memang sudah sangat  memprihatinkan. Sebagai gambaran tambahan, saya pernah bertemu  seorang Rektor PTN  yang cukup besar dan ternama di negeri ini,  mengeluhkan secara serius tentang persoalan moral, karakter atau akhlak yang dihadapi sehari-hari. Ia mengatakan bahwa pimpinan perguruan tinggi pada saat ini, jika disadari, mendapatkan tugas tambahan yang amat berat, dan bahkan lebih berat dari tugas pokoknya.   Tugas yang dimaksudkan lebih berat itu adalah bagaimana membina moral, karakter dan akhlak bagi para mahasiswanya. Ia mengatakan bahwa, sebagai  rektor sudah akan  merasa bahagia  manakala berhasil  menanggulangi mahasiswanya dari  tiga hal yang menyedihkan di kampusnya. Tiga hal yang dimaksud itu, pertama,  mahasiswanya tidak melakukan pergaulan bebas berlebihan; kedua,  tidak  mengkonsumsi narkoba atau obat terlarang,  dan ketiga, mereka tidak selalu tawuran.  Rektor tersebut  mengatakan bahwa jika ketiga hal ini saja berhasil ditanggulangi, akan merasa bahagia dan bahkan  berhasil. Akan tetapi, ternyata tugas tersebut sangat sulit ditunaikan dan berhasil sepenuhnya.   Catatan tentang keluhan  Rektor tersebut menggambarkan betapa pentingnya bagi  kita semua  ikut  peduli terhadap pendidikan dan masa depan bangsa ini.  Kita  semua yakin bahwa betapapun kualitas kecerdasan para siswa dan bahkan juga sarjana, jika tidak dibarengi dengan moral, karakter dan akhlak yang luhur, maka apapun yang diraih dari usahanya dalam pendidikan, tidak akan memberi makna apa-apa, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap bangsanya. Orang cerdas dan trampil tetapi tidak diikuti oleh moral, karakter dan akhlak yang mulia, justru akan menjadi kekuatan perusak yang lebih dahsyat daripada orang yang tidak berpendidikan.   Namun hal yang perlu disadari, bahwa membangun moral, karakter dan akhlak adalah bukan pekerjaan mudah. Persoalan ini adalah sesuatu yang amat berat dilakukan.  Beban berat itu tidak saja dirasakan oleh orang biasa, melainkan juga oleh orang-orang yang pandai, cerdik cendekiawan, ulama’ dan bahkan juga para guru besar ataupun juga pejabat tinggi. Kita saksikan saja dengan mudah, betapa banyak putra-putri orang terpandang, ternyata gagal dalam membangun karakter, moral dan akhlak. Bahkan tidak saja, mendidik putra putrinya, melainkan mendidik dirinya sendiri juga mengalami kesulitan. Penuhnya rumah tahanan dan juga penjara akhir-akhir ini, adalah salah satu bukti tentang itu semua.   Tiga Sumber Nilai Luhur Bangsa Indonesia Bangsa Indonesia yang menempati wilayah yang sedemikian luas, yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, adat istiadat dan juga agama, memiliki sumber nilai yang dijadikan pegangan bagi hidupnya. Secara garis besar ada tiga jenis  sumber nilai yang tumbuh dan berkembang. Ketiga sumber nilai itu, pertama  adalah adat istiadat lokal, kedua  nilai-nilai ke Indonesiaan dan yang ketiga,  adalah nilai-nilai yang bersumber dari agama.   Masing-masing daerah memiliki nilai-nilai  tersendiri. Orang Madura misalnya dengan bahasanya yang khas, bersifat terbuka, suka merantau, dan juga keras maka akan berbeda dengan masyarakat  Yogyakarta yang serba halus, sopan santun, perasa, dan lain-lain. Demikian pula orang Padang yang juga bersifat egaliter, demokratis, terbuka, akan berbeda dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya.   Masyarakat Papua, yang jumlah penduduknya  masih sangat sedikit, akan berbeda dengan masyarakat Betawi atau Jakarta yang sehari-hari, pergi ke mana-mana selalu dihadapkan oleh kemacetan. Demikian pula masyarakat Aceh, Medan, hingga masyarakat Lampung, sekalipun mereka bertempat tinggal di satu pulau yaitu Sumatera, namun masing-masing memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda.  Masing-masing suku dan adat istiadatnya itu saya sebut sebagai sumber nilai lokal.   Seseorang yang  lahir di  wilayah tertentu akan memiliki karakter atau sifat yang khas yang berbeda dari lainnya. Mengubah kharakter Madura atau Papua menjadi seperti orang Yogyakarta, misalnya akan  sangat sulit dilakukan. Maka orang Madura tetap akan menjadi orang Madura, orang Jawa di manapun akan tetap beradat istiadat sebagai orang Jawa. Demikian  pula orang Papua, tidak perlu diubah menjadi orang Minang dan seterusnya.      Sumber nilai kedua,  adalah ke-Indonesiaan. Sebagai bangsa kita memiliki nilai-nilai bersama, misalnya nilai-nilai yang bersumber dari Pancasila, UUD 1945, lambang-lambang atau simbol,  seperti burung Garuda,  bendera Merah Putih, bahasa Indonesia dan lain-lain. Dengan memahami dan menghayati filsafat Pancasila, maka kita menjadi toleran terhadap berbagai jenis suku, bahasa, adat istiadat dan lain-lain. Dengan bersama-sama memiliki lambang negara burung Garuda dan bendera Merah Putih, kita merasa satu, dan menghayati bahwa kita sebagai warga bangsa Indonesia selalu berani dalam membela kebenaran. Nilai itu didapatkan dari ke- Indonesiaan  kita.   Sedangkan sumber nilai berikutnya adalah agama. Di Indonesia ini tumbuh dan berkembang  enam  agama, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Masing-masing agama,  tentu memiliki nilai-nilai yang terinternalisasi pada semua pemeluknya. Internalisasi itu berjalan dan berkembang melalui pergaulan, pelajaran dan pendidikan, baik  secara formal, informal,  maupun non formal.   Di antara  agama-agama  tersebut,  tentu  terdapat  perbedaan di samping ada pula persamaannya. Di antara persamaannya misalnya, semua mengedepankan nilai kasih sayang, tolong menolong antar sesama, menghormati orang lain, bersyukur atas ciptaan Tuhan, mengajak hidup rukun, sabar, hemat, tidak boleh segera marah, melarang kekerasan dan seterusnya. Akan tetapi, pada setiap agama memiliki kekhasannya masing-masing, misalnya bagaimana melakukan penyembahan, atau ritual, cara hormat terhadap orang lain dan seterusnya.     Ketiga sumber nilai tersebut, baik secara bersama-sama atau bagian demi bagian mewarnai perilaku, karakter atau moral bagi bangsa Indonesia. Itulah sebenarnya kekayaan bangsa Indonesia.  Sekalipun berbeda-beda namun tetap satu, yaitu  dipersatukan oleh berbagai nilai yang tumbuh dan berkembang tersebut. Oleh karena itu, menumbuh-kembangkan dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka artinya adalah merawat dan melestarikan semua nilai yang tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia  ini.   Menanamkan Nilai-Nilai Luhur adalah Tugas Kenabian Jika dikatakan bahwa menanamkan nilai-nilai moral, karakter dan akhlak adalah berat dan amat sulit, maka memang tugas itu adalah bukan untuk manusia biasa. Tugas itu sebenarnya adalah tugas para nabi dan rasul. Kita lihat dalam sejarah kenabian, semua rasul yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kabar gembira dan juga mengajak untuk berbuat baik dan sebaliknya, mencegah dari berbuat kerusakan di muka bumi.   Semua rasul mengajarkan tentang  kebaikan, yaitu  saling berkasih sayang antar sesama, sabar, ikhlas, dan saling mengenal dan  membantu.  Sebaliknya, para rasul  menyerukan agar  tidak membuat kerusakan baik terhadap dirinya sendiri atau juga kepada orang lain. Tidak ada satupun di antara para  rasul  mengajarkan tentang bagaimana berbuat buruk, khianat, berbohong, mementingkan diri sendiri.  Bahkan antar sesama rasul yang kebetulan hidup pada satu masa, mereka selalu bersama-sama mengajak kebaikan kepada siapapun. Di antara mereka tidak ada yang saling berselisih, mengganggu, dan melemahkan.  Hal demikian  juga  terjadi di antara para rasul yang datang berlainan waktu atau masa yang berbeda.   Melalui pribadinya yang lembut para Rasul Tuhan menunaikan amanahnya. Ternyata dalam sejarahnya,  amanah itu juga tidak pernah dijalankan secara mudah. Banyak halangan, rintangan, dan bahkan juga ancaman atas keselamatan dirinya.  Sejarah tentang itu dapat kita  baca dalam riwayat para Nabi, misalnya  dari Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Mereka itu semua menjalankan perintah Tuhan untuk memperbaiki moral, karakter,  dan akhlak umatnya masing-masing.   Dalam menunaikan tugasnya itu, mereka bertingkah laku lembut. Apa saja yang diajarkan,  terlebih dahulu dijalani dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga walaupun pada suatu saat, ajaran mereka belum diterima oleh masyarakatnya, tetapi para rasul dikenal sebagai orang baik, atau orang yang terpercaya. Jika sementara masyarakat  menolak ajarannya itu, bukan karena sesuatu yang disampaikan buruk, melainkan oleh karena ada sesuatu yang harus dikorbankan jika ajaran itu diterimanya. Seperti misalnya  Raja Fir’aun, tidak menyenangi Nabi Musa, khawatir kerajaan dan atau kekuasaannya menjadi runtuh. Demikian pula  para kabilah Arab tidak segera menerima  ajaran Nabi Muhammad, khawatir supremasinya sebagai elit kabilah itu akan hilang.   Namun apapun yang terjadi, para rasul atau utusan Tuhan tetap menjalankan amanahnya. Secara bertahap ajarannya disosialisasikan, dan akhirnya menyebar ke seluruh pelosok dunia dan tetap dikenal hingga  dalam waktu yang lama.  Dalam sejarahnya memang tugas itu amat berat, akan tetapi dengan keteguhan hati dan dengan sifat-sifat yang mulia yang ditunjukkannya, maka nilai-nilai luhur itu ternyata berhasil berkembang. Bahkan orang-orang yang semula menentang berbalik menjadi sahabat atau penolongnya. Dalam Islam, kita mengenal sahabat nabi,  bernama Umar bin Khaththab. Awalnya,  ia  sebagai orang nomor satu penentang Nabi Muhammad, akan tetapi akhirnya justru menjadi sahabat dan pembelanya yang setia.      Pada saat sekarang ini para Rasul sudah tidak ada lagi. Akan tetapi, menurut ajaran Islam, masih ada para pewarisnya, yaitu para ulama yang bertebaran di mana-mana. Dalam konteks sekarang ini, sebutan ulama itu bisa menjadi bervariatif, oleh karena jenis ilmu berkembang secara luas. Ada ulama ilmu-ilmu alam yang disebut ulama sains, ulama sejarah, ulama piskologi, ulama ekonomi,  dan seterusnya. Mereka ahli di bidang sains, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, tetapi juga memahami kitab suci agamanya.  Bangsa Indonesia  berdasarkan Pancasila, memberikan hak hidup agama-agama yang ada, maka semestinya terdapat banyak ilmuwan, ulama atau cendekiawan dari berbagai agama itu. Mereka sepanjang waktu mestinya melakukan peran-peran menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang disandangnya.     Selama  ini, saya lebih percaya bahwa dalam membangun  moral,  karakter,  watak atau akhlak akan berhasil manakala dilakukan dengan pendekatan agama, atau dengan pendekatan profetik. Sebagai seorang prophet atau nabi, selalu membawa ajaran yang  lebih komprehensif, menyangkut aspek-aspek yang nyata maupun yang transenden. Ajarannya meliputi kepentingan duniawi dan juga ukhrawi, menyangkut hal yang terkait dengan intelektual, ritual, dan juga spiritual.   Melalui renungan yang lama dan mendalam, saya menyimpulkan bahwa cara efektif membangun moral, karakter dan akhlak adalah dengan menggunakan pendekatan profetik. Dalam konteks di Indonesia adalah melalui agama, yaitu agama apapun yang dianggap benar dan diyakini oleh masing-masing. Saya berpandangan bahwa membangun moral, karakter, dan akhlak tidak cukup  melalui penataran dan bahkan juga  sekadar lewat mata pelajaran tertentu dalam ukuran semester. Moral, karakter  dan akhlak harus ditanamkan secara terus menerus, mulai dari kecil hingga dewasa dan bahkan hingga ke liang lahat.  Itulah sebabnya dalam Islam bahwa menuntut ilmu itu harus ditunaikan, mulai dari buaian hingga liang lahat.   Menurut hemat saya ada tiga hal yang secara efektif bisa dijalankan dalam membangun moral, karakter dan akhlak, baik di masyarakat maupun di kampus, secara sederhana dan murah. Ketiga hal yang dimaksudkan itu adalah : Pertama, mendekatkan peserta didik terhadap kitab suci agamanya masing-masing; Kedua, adalah mendekatkan peserta didik pada tempat-tempat ibadah; dan yang Ketiga, adalah mendekatkan peserta didik pada para ulama’ atau cendekiawannya. Yang dimaksud para ulama harus dimaknai secara luas, di antaranya adalah para guru untuk di sekolah-sekolah, kyai di lingkungan pesantren,  dan para  dosen bagi mahasiswa  di perguruan tinggi.   Sains  dan Internalisasi Nilai-Nilai Selama ini umumnya orang berpendapat bahwa menginternalisasi nilai-nilai  untuk membangun moral, karakter, dan akhlak hanya bisa ditempuh melalui pendidikan agama.  Atas dasar  itu maka pendidikan agama dianggap penting dan harus diajarkan.  Anggapan itu  tidak salah. Sebab agama selalu mengajarkan tentang bagaimana agar para peserta didik memiliki moral, karakter, dan akhlak yang luhur.   Akan tetapi sebenarnya, pendidikan sains pun bisa dijadikan sebagai pendekatan untuk membangun moral, karakter dan akhlak mulia. Melalui pendidikan sains, maka anak didik akan mengenal dirinya sendiri dan Tuhannya.  Untuk menjelaskan pada bagian ini,  ijinkan  saya  lebih banyak berbicara dari perspektif Islam.  Sekalipun misi utama Islam  adalah membangun akhlak, namun ternyata  yang diperintahkan oleh al-Qur’an melalui  ayat yang pertama kali diturunkan,  adalah perintah membaca.  Apa sebenarnya yang harus dibaca, tentu adalah jagad raya ini, yaitu alam semesta.   Al-Qurán menganjurkan  agar  manusia  memperhatikan, memikirkan, dan merenungkan tentang ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi. Artinya, dengan demikian, al- Qurán menyuruh umat manusia untuk memperhatikan alam,  perilaku sosial,  dan humaniora. Selama ini alam dipelajari oleh disiplin ilmu fisika, kimia dan biologi.  Perilaku manusia dipelajari  oleh disiplin sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi. Sedangkan humaniora  terdiri atas filsafat, bahasa sastra dan seni. Oleh karena itu maka, belajar biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, antropologi dan lain-lain—yang  semua itu kita sebut sebagai sain, adalah merupakan implementasi dari perintah membaca itu.   Setelah melakukan kegiatan membaca, biasanya orang akan sadar.   Kesadaran itu akan  berlanjut dengan lahirnya semangat untuk bangkit. Maka, coba kita perhatikan, urut-urutan sususnan beberapa ayat al-Qurán  yang turun pada fase awal, dimulai  dari perintah  membaca, kemudian  berikutnya menyebut muddatstsir (orang yang berselimut), lalu diteruskan dengan kata  qiyam (bangkit), dan dilanjutkan  dengan kata  thaharah atau bersuci. Saya sangat mengagumi terhadap urut-urutan ayat dalam al-Qurán ini. Di mata saya sedemikian jelas menggambarkan, bahwa kesucian justru dimulai dari proses membaca terlebih dahulu, yaitu membaca alam semesta.   Saya menjadi lebih tertarik  lagi, bahwa ternyata dalam al-Qurán, hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan selalu didahulukan. Hal itu saya maknai  sebagai pertanda, betapa pentingnya membangun keyakinan atau keimanan yang  berbuahkan akhlak, harus dimulai dari ilmu atau kegiatan membaca. Bahkan salah satu asmaúl husna, yang pertama kali disebut adalah al-Khaliq, atau  Yang  Maha Pencipta.  Masih terkait pentingnya membaca, ternyata  misi  kerasulan Muhammad,  lagi-lagi yang disebut pertama kali adalah tilawah, yang artinya adalah membaca. Maka sebenarnya, hasil dari proses membaca itulah yang akan melahirkan kesadaran, yaitu kesadaran eksistensi dirinya, kesadaran terhadap alam semesta, dan juga kesadaran terhadap adanya Tuhan. Berawal dari kesadaran inilah akan lahir moral, karakter dan atau akhlak mulia itu.   Dalam ajaran Islam dosa yang paling besar adalah syirik dan sombong atau takabbur. Orang sombong biasanya merasa bahwa dirinyalah yang paling besar dan atau utama. Perasaan itu muncul karena  ketidak-tahuannya atas kelemahan dirinya. Ia merasa bahwa dirinya paling tahu, yang  justru disebabkan oleh karena keterbatasannya dalam memahami lingkungannya. Oleh karena itu, melakukan kegiatan membaca, atau dalam istilah kontemporer dalam kajian Islam akhir-akhir ini,  disebut tadabbur alam   adalah  merupakan jalan menuju keimanan dan sekaligus  sebagai titik awal lahirnya  nilai-nilai kemanusian pada diri seseorang.   Maka itulah sebabnya, al Qurán memposisikan kegiatan membaca sebagai hal yang amat penting, tidak terkecuali dalam membangun keimanan, amal saleh dan akhlak yang mulia. Demikian pula  pendidikan sain sebenarnya adalah pintu pertama untuk membangun nilai-nilai luhur, moral, karakter dan akhlak. Hanya saja  kegiatan  membaca  itu harus didasari  oleh suasana batin yang bersifat transendental. Dalam al Qurán disebutkan iqra’ bismirabbika,  bacalah dengan mengatasnamakan Tuhanmu. Artinya, kegiatan membaca itu dimaksudkan untuk mengenal ciptaan Allah, dan bukan sebatas membaca yang dimaksudkan untuk menyiapkan diri mengikuti ujian akhir, agar lulus misalnya.       Dengan berpikir seperti itu, maka pendidikan sains adalah merupakan aktualisasi dari perintah yang berasal dari kitab suci. Hanya saja sementara ini, dianggap seolah-olah pendidikan sain tidak ada kaitannya dengan al-Qurán dan juga dengan Islam.  Kajian Islam selama ini dipisahkan dari kajian ilmu pengetahuan, sehingga muncul dikhotomi di antara keduanya. Padahal salah satu misi Islam, dan bahkan yang utama,  adalah menjadikan umatnya kaya ilmu pengetahuan. Dengan kaya ilmu pengetahuan itulah apa saja bisa diraih, termasuk akan tertanam nilai-nilai luhur, sebagai bagian dari pembinaan moral, karakter, dan akhlak yang mulia itu.   Sebuah Pengalaman Tentang Model Pendidikan Sains Sebagai pimpinan perguruan tinggi Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,  saya sudah beberapa lama mencoba untuk  mengimplementasikan pendidikan, dengan  memadukan antara kajian ilmu agama dengan ilmu umum. Kategorisasi seperti ini, sebenarnya  kurang tepat, sebab tatkala berbicara Islam dan juga al-Qurán, disana sebenarnya sudah terangkum keduanya. Akan tetapi, oleh karena secara sosiologis, antropologis,  dan sejarah keadaan seperti itu, penyebutan ilmu umum dan ilmu agama, maka dalam kesempatan ini, saya pun menyebut  demikian.   Saya memiliki keyakinan, bahwa jika Islam dipahami sebagaimana misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad, maka aspek-aspek yang ingin diraih oleh pendidikan pada umumnya akan  dicapai dengan sendirinya. Misi Islam sedemikian luas.  Pertama, ingin membawa umatnya kaya ilmu pengetahuan; Kedua, membangun manusia unggul, yaitu manusia yang memiliki kesadaran terhadap tuhannya, bisa dipercaya dan memiliki jiwa, akal, dan raga yang bersih; Ketiga,  membangun tatanan sosial yang berkeadilan;  Keempat, memberi tuntunan tentang bagaimana menjalankan ritual untuk membangun spiritual yang kokoh; dan Kelima, mengenalkan konsep amal saleh, atau bekerja secara profesional.   Berdasarkan pandangan tersebut, untuk mengembangkan kelima misi tersebut, saya mencoba untuk memadukan bangunan keilmuan secara utuh dan terintegrasi antara nilai-nilai agama dengan pengetahuan pada umumnya. Pengetahuan yang saya maksudkan itu merupakan perpaduan  antara  ilmu pengetahuan yang bersumberkan dari ayat-ayat qawliyah dan sekaligus kawniyah.  Dengan pendekatan seperti itu, maka dalam proses mencari kebenaran, sivitas akademika  tidak saja mencukupkan  dari  hasil observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis, melainkan juga mencari informasi itu dari kitab suci dan hadits nabi. Kedua sumber kebenaran itu tidak dipertentangkan, melainkan keduanya dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan  yang harus dilihat secara bersama-sama.   Untuk mengimplementasikan pandangan tersebut, maka saya mencoba untuk  memadukan antara tradisi universitas dengan tradisi pesantren yang selanjutnya saya sebut sebagai ma’had al-‘aly. Dengan cara itu, saya maksudkan agar antara nilai-nilai lokal, dalam hal ini adalah pesantren, nilai-nilai ke-Indonesiaan, yaitu perguruan tinggi,  dan sekaligus adalah nilai-nilai Islam,  terbangun secara bersama-sama. Melalui keterpaduan di antara tiga sumber nilai tersebut diharap melahirkan sosok manusia Indonesia,  yang ke depan diharapkan termasuk menjadi bagian yang disebut ideal.           Apa yang sudah saya lakuk

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *