Semua pihak sudah mafhum, bahwa tugas perguruan tinggi ada tiga macam, yaitu penelitian, pendidikan dan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga misi itu biasa disebut sebagai tri dharma perguruan tinggi. Oleh karena itu, para dosen atau guru besar di kampus memiliki tugas pokok semua itu.
Seorang dosen tidak cukup hanya menunaikan tugas memberi kuliah di hadapan para mahasiswanya. Tugas memberi kuliah, semestinya didahului oleh kegiatan penelitian yang dilakukan secara rutin, sehari-hari tanpa henti . Tugas dosen melakukan penelitian, sebenarnya bukan sebagai kegiatan tambahan, melainkan menjadi tugas utamanya. Sehingga terasa aneh, jika terdapat dosen tidak pernah meneliti, dan juga tidak pernah menulis. Umpama terdapat dosen yang tidak pernah meneliti dan menulis, maka siapapun berhak bertanya, apa sebenarnya yang diajarkan sehari-hari di depan para mahasiswanya itu. Memang kegiatan penel;itian tidak selalu dilakukan di lapangan atau di laboratorium. Penelitian bisa dilakukan di perpustakaan dengan membaca berbagai literature, dokumen atau lainnya, yang selanjutnya dijadikan sebagai sumber data. Berangkat dari pengertian itu, maka semestinya produk perguruan tinggi, setidaknya juga berupa tiga jenis. Kegiatan pendidikan dan pengajaran, maka akan menghasilkan lulusan, yang biasanya setiap semester atau setiap tahun sekali diselenggarakan wisda sarjana. Oleh karena itu, orang menyebut bahwa wisuda sarjana juga sebagai petunjuk bahwa perguruan tinggi yang bersangkutan telah berhasil menunaian amanahnya, yaitu mengantarkan para mahasiswanya menyelesaikan studi dan akhirnya diwisuda itu. Akan tetapi sebenarnya, acara wisuda bukan satu-satunya ukuran perguruan tinggi tersebut berhasil menunaikan amanahnya. Perguruan tinggi masih memiliki tugas lainnya, yaitu melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tugas penelitian telah nyata-nyata ditunaikan manakala dari perguruan tinggi tersebut dihasilkan jurnal, buku-buku, dan laporan penelitian. Oleh karena itu, perguruan tinggi disebut maju, manakala berhasil menerbitkan berbagai jenis karya ilmiah itu. Namun sayangnya ukuran tersebut belum terlalu populer dan mendapat perhatian secara serius. Sehingga akibatnya, tidak sedikit perguruan tinggi yang belum berhasil memamerkan produk penelitian yang dilakukan oleh para dosennya. Selama ini tidak sedikit perguruan tinggi yang belum berhasil menerbitkan jurnal ilmiah, hasil penelitian, dan juga buku-buku karya akademik yang ditulis oleh para dosen dan guru besarnya. Para guru besar dan dosen tidak pernah menulis, karena sehari-hari disibukkan oleh kegiatan member kuliah. Tugas mengajar mereka terlalu banyak, sehingga energy mereka habis untuk itu. Tentang seberapa banyak karya akademik dosen perguruan tinggi, sebenarnya secara mudah bisa dilacak melalui beberapa toko buku yang ada di kota, di mana perguruan tinggi tersebut berdomisili. Manakala di toko buku tersebut tersedia buku-buku karya dosen, maka artinya perguruan tinggi tersebut telah tergolong maju. Para dosen perguruan tinggi yang bersangkutan telah berhasil menunaikan amanahnya, yaitu melakukan penelitian dan menulisnya dalam bentuk buku, yang kemudian dipasarkan di toko buku yang ada. Oleh karena itu, untuk melihat kemajuan sebuah perguruan tinggi, di antaranya bisa dilihat melalui beberapa toko buku. Sementara ini menurut informasi yang saya dapatkan dari orang yang berkompten membidangi persoalan ini, hasil karya akademik di beberapa perguruan tinggi masih belum seimbang dengan jumlah dosen yang ada. Jumlah dosen perguruan tinggi di Indonesia sekitar 270.000 orang, maka mestinya jumlah buku yang terbit, setiap tahunnya sebanyak itu. Angka itu diandaikan, setiap dosen pada setiap tahun berhasil menyusun sebuah buku atau karya hasil penelitian. Akan tetapi kenyataannya, buku yang terbit pada setiap tahunnya masih jauh dari angka itu. Saya pernah kaget mendapatkan informasi, bahwa terdapat sebuah perguruan tinggi yang cukup besar di negeri ini. Dikatakan besar, karena memiliki dosen tidak kurang dari 1500 orang. Mereka itu, sebagian sudah berpendidikan S3 atau Doktor, bahkan di antaranya berpangkat akademik guru besar. Sebagian Doktor dan Guru Besar tersebut berlatar belakang pendidikan luar negeri. Namun anehnya, buku yang terbit pada setiap tahunnya dari kampus itu, rata-rata hanya antara 10 sampai 15 judul saja. Jika informasi ini benar, maka sebenarnya keadaan ini sangat memprihatinkan. Memang bisa jadi, informasi itu tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Mungkin para dosen atau guru besar tersebut telah melakukan penelitian dan juga penulisan karya ilmiah. Akan tetapi sayangnya tulisan mereka tidak dipublikasikan. Tetapi apapun, dosen sebenarnya harus meneliti, dosen harus menulis, dan dosen harus aktif membuat karya ilmiah. Jika mereka tidak melakukan kegiatan itu, maka kampusnya akan tidak lebih dari sekolah menengah. Bahkan lebih sederhana lagi. Karena pada akhir-akhir ini, banyak siswa tingkat sekolah menengah, sudah melakukan kegiatan penelitian. Sering kita dengar, ada laporan penelitian yang mengagumkan yang ditulis oleh anak-anak sekolah menengah. Indikator kemajuan perguruan tinggi lainnya adalah karya-karya pengabdian masyarakat. Memang aspek ini tidak mudah dilakukan. Disamping memerlukan biaya, waktu dan sarana yang tidak mudah dipenuhi, pengabdian masyarakat memerlukan energy tersendiri. Idealnya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen atau guru besar, dijadikan bahan perbincangan atau didiskusikan dalam forum kuliah. Selanjutnya bersama-sama para mahasiswa, hasil penelitian itu digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Akan tetapi sekali lagi, implementasinya tidak selalu mudah, dan apalagi kegiatan tersebut harus disinkronkan dengan kebutuhan masyarakat. Proses ini lagi-lagi tidak mudah dilakukan. Oleh sebab itu, maka kegiatan pengabdian masyarakat yang benar-benar dilakukan dari hasil penelitian sebelumnya masih jarang dilakukan. Akhirnya pengabdian masyarakat seringkali dilakukan secara umum, termasuk dalam bentuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Namun, sebenarnya sekalipun jumlahnya tidak signifikan, ada saja kegiatan pengabdian masyarakat yang benar-benar berhasil dilakukan. Hanya saja, jumlahnya belum seimbang bilamana dibandingkan dengan jumlah dosennya. Manakala ukuran-ukuran tersebut benar-benar dijadikan untuk melihat tingkat kemajuan perguruan tinggi, rasanya ke depan perguruan tinggi akan semakin maju berhasil menunjukkan peran-peran strategisnya. Akan tetapi jika yang dijadikan ukuran hanya sebatas jumlah lulusan yang diwisuda, maka makna perguruan tinggi, lama kelamaan akan menjadi semakin sederhana. Seseorang asalkan sudah melewati 8 semester, setiap ada jadwal kuliah, mereka ikut masuk, mengikuti ujian dan selalu lulus, menulis skripsi, thesis, atau disertasi maka dinyatakan lulus dan menjadi sarjana. Makna perguruan tinggi sebagaimana dikemukakan itu, mendorong munculnya perkuliahan dapat diselenggarakn di mana-mana, yang semua itu sebatas menenuhi syarat dan rukun menjadi lulus. Perguruan tinggi seperti itu sebenarnya, lambat laun akan kehilangan kepercayaan masyarakat dan sebenarnya, ——-disadari atau tidak, akan menodai nama besar perguruan tinggi yang bersangkutan. Padahal jika masyarakat sudah tidak percaya lagi, maka mengembalikan kepercayaan itu sulitnya bukan main. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
