Dalam ajaran Islam, dikemukakan sebuah kriteria sebagai manusia terbaik. Ialah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya. Khoirunnas anfa’uhum linnas. Hadits nabi ini sedemikian sering disampaikan oleh para mubaligh, daí, atau penceramah untuk memberikan semangat atau motivasi kepada pendengarnya agar rajin-rajin berbuat baik kepada orang lain. Untuk menjadi manusia yang terbaik, ——atau kira-kira begitulah, kita melihat sehari-hari orang bekerja keras, dan atau pergi ke sana ke mari untuk mencari rizki. Sementara orang, apa yang didapat tidak saja mencukupi kebutuhannya sendiri dan keluarganya, tetapi jauh lebih banyak dari yang diperlukan. Sementara lainnya, dalam hal rizki ini, keadanaannya biasa-biasa saja dan bahkan ada pula yang sebaliknya, selalu berkekurangan. Mereka yang berlebih masih juga mencari lagi, seolah-olah kebutuhannya sedemikian banyak, tampak tidak ada batasnya. Mereka yang berlebih ini kemudian disebut kaya. Mungkin sementara orang bangga dengan sebutan itu. Orang kaya dianggap sebagai telah sukses dalam hidupnya. Demikianlah memang anggapan orang di mana-mana. Tetapi sesungguhnya, belum tentu orang kaya disebut sebagai yang terbaik. Hal lain yang dikejar oleh banyak orang, untuk menjadi yang terbaik, adalah pangkat atau jabatan. Orang mengira bahwa dengan jabatan akan mendapatkan kemuliaan dan atau kelebihan dari lainnya. Fenomena mengejar-ngejar jabatan, akhir-akhir ini tampak lebih berani dan dilakukan secara terang-terangan. Dulu, orang tampak malu-malu jika disebut haus, apalagi gila jabatan. Sekarang, hal itu sudah tidak dirasakan. Mengejar jabatan sudah dianggap wajar dan syah-syah saja. Terkait dengan kejar mengejar jabatan, kita melihat di mana-mana, orang mempromosikan diri lewat berbagai media, agar dirinya dikenal banyak orang dan suatu saat dipilih sebagai pejabat. Biaya promosi itu, tentu tidak murah. Padahal belum tentu berhasil, karena harus bersaing dengan banyak orang. Setiap persaingan ada yang menang dan ada pula sebaliknya, pihak yang kalah. Untuk memenangkan kompetisi, mereka berani melakukan apa saja, dengan harapan menang dan mendapatkan jabatan, sehingga bisa berbuat sesuatu dan mendapatkan kehormatan. Orang yang berhasil menjadi pejabat berhatrap mendapatkan segalanya, seperti kehormatan, uang, dan berpeluang berbuat baik. Namun pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Tidak sedikit pejabat yang ternyata tidak bisa berbuat apa-apa, dan bahkan ada yang justru jatuh celaka. Mereka dengan jabatannya itu melakukan kesalahan dan akhirnya dimasukkan ke penjara. Menjadi orang terbaik tidak selalu hanya diraih oleh orang kaya dan orang berpangkat atau penyandang jabatan tertentu. Orang kaya dan pejabat belum tentu berhasil menjadi orang terbaik, artinya dengan kelebihan yang dimiliki itu, tidak serta merta akan memberikan kebaikan pada orang lain. Banyak orang kaya dan orang berkuasa, namun kelebihannya hanya untuk dirinya sendiri. Berbuat baik bisa dilakukan bukan saja dengan harta dan kekuasaan, tetapi juga dengan kekuatan atau kelebihan lainnya. Setiap orang selalu menyandang kelebihan masing-masing. Sehingga dengan kelebihannya itu, bisa berbuat baik terhadap orang lain. Orang berbuat baik terhadap orang lain bisa dilakukan secara sederhana, misalnya setiap ketemu orang selalu mengucap salam, memberi ilmu atau nasehat, tersenyum untuk menyapa dan menggembirakan orang, memberi bantuan melalui tenaganya, dan apa saja yang dilakukan lainnya. Oleh karena itu, prestasi menjadi terbaik, sesungguhnya bisa diraih oleh setiap orang, tanpa harus menjadi kaya atau berkuasa. Kembali kepada hadits nabi tersebut di muka, saya membayangkan alangkah indahnya jika hadits tersebut dimaknai secara lebih luas. Kalimat indah yang berbunyi sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya diperluas maknanya menjadi, sebaik-baik organisasi adalah organisasi yang memberi manfaat bagi organisasi lainnya. Seterusnya, sebaik-baik bangsa adalah bangsa yang memberi manfaat bagi bangsa lainnya. Dengan demikian sebuah organisasi belum disebut terbaik jika hanya sanggup atau berhasil member manfaat bagi anggotanya sendiri. Sebuah organisasi baru dikatakan menjadi terbaik manakala telah berhasil memberi manfaat bagi organisasi lainnya. Makna itu menjadi lebih luas dengan rumusan bahwa sebuah bangsa baru menjadi terbaik, manakala bangsa itu telah memberi manfaat bagi bangsa lainnya. Atas dasar rumusan itu, jika dikaitkan dengan banyaknya organisasi di negeri ini, ——-tidak terkecuali adalah organisasi social keagamaan, maka semua itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Manakala setiap saat, masing-masing organisasi selalu berusaha, tidak saja ingin agar bermanfaat bagi internal organisasinya, melainkan juga bagi organisasi lainnya, maka antar sesama organisasi akan saling memperkukuh. Orang NU misalnya, belum merasa hebat jika belum memberi manfaat bagi organisasi lainnya, seperti Muhammadiyah, Peris, al Wasliyah dan seterusnya. Demikian pula, Muhammadiyah belum merasa menjadi jagoan, jika belum berhasil memajukan pondok pesantren atau madrasah NU. Sikap-sikap seperti ini, kiranya perlu dibangun, untuk menjadi yang terbaik, dan bukan sebaliknya, saling menjatuhkan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
