Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Menjawab Pertanyaan Kyai Maftuh Said

Di Malang selatan, tepatnya Kecamatan Bululawang, desa Sudimoro, terdapat pesantren yang agak unik. Para santrinya kebanyakan masih seusia anak-anak serkolah dasar, bahkan setingkat Taman Kanak-Kanak. Pesantren ini lebih mengkhususkan pada kegiatan menghafal al Qurán. Orang sekitar menyebut pesantren tahfidz al Qurán bagi anak-anak. Pesantren ini, satrinya cukup banyak, berasal dari berbagai propinsi di Indonesia. Ada beberapa santri dari Sumatera, Jakarta, Kalimantan, dan bahkan ada berasal dari Papua. Pesantren ini memiliki santri lebih dari 1000 anak, dan lebih separo dari mereka masih usia kanak-kanak. Akhir-akhir ini, pesantren yang dikenal dengan nama al-Munawariyah ini membuka sekolah formal, hingga jenjang SMK. Tetapi semua santrinya, memiliki kegiatan khusus menghafal al Qurán itu. Banyak putra putri orang kota, termasuk kyai pesantren, dititipkan belajar mengahafal al Qurán di pesantren ini. Sampai-sampai, tidak terkecuai, putra KH Hasan Sahal, pengasuh pesantren Gontor, Ponorogo. Menurut Kyai Maftuh Said, putra pengasuh Pondok Gontor berhasil menghafal al Qurán 30 juz hanya dalam waktu 15 bulan. Memang ada santri lainnya yang berhasil menghafal al Qurán hingga khatam dalam waktu sesingkat itu, tetapi kebanyakan lebih lama, antara tiga sampai empat tahun. Pesantren itu dirintis dan diasuh oleh Kyai Maftuh Said. Kyai yang mengaku kelahiran Gresik ini, menikah dengan wanita Sudimoro dan kemudian mendirikan pesantren. Kyai Maftuh mengkisahkan bahwa, dulu orang tuanya, dalam mendidik putra-putrinya, selalu mengawali dengan menghafal al Qurán. Setelah hafal kitab suci 30 juz, mereka dipersilahkan belajar apa saja yang bermanfaat dan di mana saja. Sebelum belajar pengetahuan lainnya, kitab suci al Qurán harus dihafal terlebih dahulu. Dengan cara itu maka, Kyai Maftuh menjelaskan bahwa semua saudaranya hafal al Qurán 30 juz. Pesantren tahfidz al Qurán bagi anak-anak kecil di Malang selatan ini mengingatkan saya terhadap kegiatan serupa di Iran. Saya sebelumnya tidak mengira bahwa di Malang selatan, tepatnya di Bululawang terdapat pesantren, persis yang pernah saya lihat di Teheran. Ketika berkunjung ke Iran, saya mengagumi kegiatan anak-anak kecil, berumur antara 5 sampai 10 tahun, menghafal al Qurán. Di sana tidak sedikit anak-anak usia 7 atau 8 tahun sudah hafal al Qurán 30 juz. Kebiasaan sementara orang Iran, sampai ke wilayah timur, yaitu daerah Thus, tempat kelahiran dan sekaligus wafatnya ulama besar, Imam al Ghazali, adalah seperti itu. Sejak usia dini, anak-anak menghafal al Qurán. Di sekitar kota Teheran saja, menurut informasi, tidak kurang dari 300 lembaga pendidikan, yang memiliki kegiatan khusus menghafal kitab suci. Saya pernah diajak mengunjungi beberapa di antaranya. Saya ketika itu sempat kagum melihat anak-anak usia 7, 8 sampai 9 tahun sudah hafal al Qurán dengan baik. Akan tetapi, ternyata apa yang saya lihat di beberapa tempat di Teheran dan juga di Qum, sudah ada juga di Sudimoro, Bululawang, Malag selatan. Bahkan saya lebih kaget lagi, ketika Kyai Maftuh Said, pengasuh pesantren tersebut menerangkan kepada saya, bahwa ada beberapa santri yang berhasil menghafal 30 juz, hanya dalam waktu selama kurang lebih 15 bulan. Sementara, selama kunjungan ke Iran, saya tidak mendapatkan informasi bahwa menghafal al Qurán genap 30 juz hanya sesingkat yang dilakukan oleh anak-anak di pesantren Sudimoro itu. Melihat kenyataan itu, saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya bangsa ini memiliki banyak kelebihan. Hanya biasanya kreatifitas seperti itu kurang mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Selain itu, pada umumnya kita lemah dalam publikasi, sehingga berbagai prestasi yang kita miliki tidak segera diketahui oleh banyak orang. Terus terang, saya seringkali menceritakan Iran tentang kehebatannya mendidik anak-anak dalam menghafal al Qurán. Tetapi ternyata, di tetangga sendiri, yakni di Bululawang, Malang Selatan terdapat pesantren yang lebih hebat tentang hal itu dari di Teheran, kota Qum, dan juga Thus itu. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan Kyai Maftuh Said, saya menyatakan kekaguman saya tentang model pendidikan di pesantreannya itu. Namun demikian, Kyai menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Karena sejak kecil, sebagaimana diuangkap di muka, kyai sudah terbiasa dengan kegiatan hafalan kitab suci itu. Berbalik, Kyai Maftuh juga menganggap bahwa saya telah berhasil dalam mengembangkan lembaga pendidikan tinggi Islam. Kyai juga banyak bertanya, tentang hal-hal yang terkait dengan bagaimana mengembangkan lembaga pendidikan Islam hingga cepat maju dan besar. Selanjutnya, saya merasakan lebih aneh lagi, tatkala Kyai Maftuh menanyakan usaha-usaha yang saya lakukan, dan jenis doa yang biasa saya baca untuk mengembangkan kampus yang sedang saya pimpin. Saya mengatakan bahwa, keberhasilan pengembangan kampus UIN Maliki Malang baru sebatas pada tataran pengembangan fisiknya saja, sehingga keberhasilan itu hanya karena tepat dalam menagemen dan memimpinnya saja. Saya katakana bahwa tidak ada lain, kecuali itu. Tetapi Kyai tetap meminta doa apa yang selalu saya baca. Rupanya Kyai Maftuh yakin bahwa, keberhasilan itu tidak lepas dari usaha-usaha memohon kepada Allah, dan akhirnya diberi kemudahan hingga berhasil. Menurut pandangan Kyai, bahwa semangat, berpikir, dan bekerja keras dalam berbagai usaha meraih sesuatu adalah penting. Tetapi kekuatan doa itulah justru yang sangat menentukan. Menghadapi pertanyaan seperti itu, saya lantas menjawab sekenanya. Bahwa memang betul saya berdoa setiap hari agar diberi kemudahan. Doa itu saya baca sekenanya, yang saya hafal dan mengerti betul maknanya. Tetapi dalam berdoa, saya selalu tidak sendirian. Saya selalu mengajak teman-teman. Bahkan setiap ada teman yang pergi haji, saya selalu menyempatkan untuk selalu meminta agar didoakan di tempat-tempat yang mustajab, baik di Makkah, Arofah, Mina, dan juga di Madinah. Saya sependapat dengan Kyai Maftuh Said, bahwa doa merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Selain itu, saya juga berterus terang menyampaikan kepada Kyai Maftuh, bahwa dalam berdoa saya juga meminta bantuan makhluk Allah selain manusia. Saya rajin setiap pagi memberi makanan semut-semut yang ada di belakang atau depan rumah. Logika saya sangat sederhana. Semut-semut yang telah saya beri makan akan gembira dan berterima kasih. Semut-semut itu kemudian akan ikut berdoa. Semut, ——tidak sebagaimana manusia, tidak berdosa, sehingga doanya akan dikabulkan oleh Allah. Ketika itu Kyai Maftuh menanyakan, mengapa semut yang dilibatkan berdoa, dan bukan binatang lain, kadal misalnya. Saya menjawab, mengumpulkan kadal tidak semudah mengumpulkan semut. Cukup dengan gula, semut-semut akan berkumpul dan menikmati makanan yang kita berikan. Atas keterangan saya itu justru Kyai bertanya lagi, bagaimana semut memahami itu semua. Saya katakan bahwa pengalaman saya dulu ketika masih usia anak-anak, hidup di desa, akrab dengan binatang ternak. Karena terbiasa dengan saya, ——-sebagai penggembalanya, ternak itu memperlakukan saya berbeda dengan orang-orang lainnya. Artinya, binatang pun bisa membeda-bedakan antara orang yang dikenal sehari-hari, yang telah memberi kasih sayang, dengan yang bukan. Saya yakin semut juga begitu, akan membantu doa pada saya, setelah serangga itu saya beri kasih sayang. Kyai Maftuh lalu bertanya, dari mana ilmu itu saya dapatkan. Saya jelaskan kepada Kyai Maftuh, dulu ayah saya sebagai seorang kyai kecil-kecilan, sering dimintai doa oleh orang yang mau mencalonkan diri sebagai kepala desa. Oleh ayah saya, orang yang datang meminta doa itu disuruh mencari gula, lalu didoai oleh ayah saya, dan kemudian disuruhnya menyebarkan gula itu ke beberapa tempat, agar dimakan semut. Kata ayah saya, semut-semut itu akan bergembira dan akan mendoakan calon kepala desa dimaksud. Saya juga tidak tahu, apakah dengan cara itu calon itu selalu menang, tentu tidak demikian. Datang ke Kyai menjelang pemilihan pejabat, untuk minta doa tidak saja dilakukan oleh calon kepala desa, tetapi juga oleh para calon pejabat yang lebih tinggi dari itu. Rupanya sudah biasa calon pejabat pada tingkat apa saja, ——-mulai dari tingkat desa sampai pejabat tingkat pusat, sebelum pilihan berlangsung sowan ke kyai. Para calon pejabat tidak merasa cukup memanfaatkan jasa iklan politik yang terkenal sekalipun, tetapi juga ke Kyai pesantren. Mungkin usahanya sukses, menempuh dua pendekatan sekaligus, yaitu pendekatan modern berupa lembaga survey dan juga pendekatan spiritual, yaitu doa para kyai. Mana yang lebih manjur, saya juga tidak tahu. Tetapi yang jelas, masyarakat modern pun mempercayai kedua-duanya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *