Sejak beberapa bulan terakhir, bangsa ini lagi dilanda musibah. Tidak sebagaimana sebelumnya, musibah itu berupa bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, wabah berbagai jenis penyakit, banjir dan lain-lain. Musibah pada saat ini lebih bersifat social, berupa konflik antar elite, saling mencurigai, saling menuduh, berebut posisi, mencari benarnya sendiri dan lain-lain. Kedua jenis musibah tersebut, sesungguhnya sama-sama beresiko terjadi kurban. Kita semua berharap agar kehidupan ini menjadi tenang, rukun, damai, dan tidak ada seorangpun yang harus menjadi korban dari musibah itu. Kita tidak ikhlas, jika orang-orang yang tidak berdosa, yaitu rakyat banyak menjadi korban. Negeri ini dibangun bukan dimaksudkan untuk kepentingan kelompok, golongan, apalagi diri sendiri, melainkan untuk kepentingan bersama. Karena itu, berebut apa saja, apalagi kemudian berujung pada terjadinya konflik, seharusnya dihindari. Kenyataaannya pada beberapa bulan terakhir ini, konflik itu terjadi. Setelah terjadi kasus perseteruan antara KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan, masih harus bersambung dengan penyelesaian kasus Bank Century. Rupanya kasus terakhir ini tidak sederhana dan belum tampak akan mereda dalam waktu singkat. Sebaliknya, justru semakin memanas dan bahkan menyeret berbagai pihak, ikut menyelesaikan. DPR yang semestinya segera menunaikan tugas-tugas strategis ke depan menjadi terganggu, sampai harus menggunakan hak angket segala. Demikian juga BPK, Kejaksaan, Kepolisian, sampai Presiden ikut ambil bagian menyelesaikan persoalan itu. Rupanya semua sepakat bahwa, agar tidak terjadi dugaan-dugaan yang tidak perlu, maka kasus Bank Century harus diperoleh kejelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Selanjutnya, kenyataan itu akan dijelaskan ke tengah-tengah masyatakat secara benar, gamblang dan obyektif, sehingga tidak terjadi saling curiga dan salah-paham. Proses ini memang baik, namun perlu selalu adanya sikap arif. Semua pihak harus tahu batas-batas tertentu, misalnya harus berhenti jika ditengarai akan melahirkan konflik yang lebih besar, hingga merugikan rakyat. Semua orang tahu, siapa, di mana, dan kapan pun tidak akan ada orang yang mau dipersalahkan. Tidak akan ada orang yang mau dipermalukan dan atau setidak-tidaknya dianggap telah melakukan kesalahan fatal, yang menjadikan rakyat menderita. Oleh karena itu dalam penyelesaian kasus tersebut, sebisa-bisa harus dihindari terjadinya polarisasi dua atau lebih kekuatan yang berbeda kepentingannya. Saling menyerang dan melawan perlu dihindari. Jangan sampai terjadi misalnya, hanya sekedar mengejar tikus, tetapi rumahnya harus terbakar habis. Negeri dan bangsa ini harus tetap maju, dinamis, produktif, inovatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup bagi tidak kurang dari 230 milyard jumlah penduduk. Kepentingan sekian banyak rakyat itu tidak boleh terabaikan hanya karena persoalan Bank Century. Memang persoalan bank itu sangat penting diselesaikan. Tetapi, memberikan pelayanan terhadap sekian besar penduduk negeri ini, sebenarnya jauh lebih penting dan mendesak, daripada sebatas menyelesaikan persoalan Bank Century. Persoalan besar bangsa ini bukan sebatas menyelesaikan Bank Century. Bangsa ini dihadapkan pada persoalan besar lain, seperti penyediaan pangan, perumahan, air bersih, sumber-sumber energy baru, penyediaan lapangan kerja, peningkatan upah buruh, pengangguran yang semakin banyak, pendidikan yang berkualitas dan merata, kesehatan dan lain-lain. Pada saat ini, rakyat menunggu bagaimana pemerintah menyelesaikan semua persoalan itu. Memang bank century harus berakhir dengan ditemukannya keadilan. Tetapi sesungguhnya, ada persoalan bangsa yang lebih besar, yaitu menyangkut 230 milyard rakyat, yang harus hidup pada hari ini dan esok dengan tantangannya semakin banyak dan berat untuk diselesaiakan. Pemimpin bangsa saat ini dihadapkan pada berbagai persoalan yang sedemikian besar, berat, dan banyak. Masing-masing bersifat pelik dan delematis. Karena itu mereka dituntut menghadapinya secara dewasa, tangguh, ulet, ikhlas, sabar dan yang lebih penting lagi adalah sikap arif. Berbekalkan itu semua, insya Allah semua persoalan besar dan berat tersebut, akan bisa terselesaikan. Menyelesaikan persoalan manusia, kapan dan di manapun, memang berat. Tetapi hal itu akan berbalik menjadi ringan, tatkala Allah swt., telah memberikan pertolongan. Relevan dengan itu maka, para orang tua dulu yang memiliki kearifan, selalu berpesan bahwa siapapun yang mengemban amanah sebagai pemimpin, seyogyanya bersedia hidup prihatin, selalu arif, senantiasa memohon dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tidak berlebih-lebihan dalam segala halnya. Pesan orang tua arif tersebut, rasanya masih relevan hingga saat ini. Apalagi, tatkala bangsa menghadapi persoalan besar seperti sekarang ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
