Semua orang selalu menyukai kebaikan. Tidak saja dirinya yang diinginkan menjadi baik, tetapi juga orang lain. Semua orang juga ingin agar orang lain menjadi baik. Tatkala orang lain menjadi baik, maka ia menjadi senang. Sementara, orang juga tidak suka diganggu. Umumnya, apapun keadaannya, setiap orang merasa tampil dengan cara yang terbaik. Oleh karena itu, kalau ada teguran, peringatan, apalagi koreksi dari orang lain, belum tentu diterima dengan baik.
Islam memberikan tuntunan bagaimana pergaulan sehari-hari harus dijalankan. Hal itu agar antar sesama, terbangun suasana yang baik dan indah. Dalam Islam soal memberi peringatkan pun harus dilakukan dengan cara yang tepat. Dalam bergaul dan berkomunikasi harus bertahap, diawali dengan tahap menggembirakan terlebih dahulu. Peringatan yang diberikan secara langsung, bisa jadi menyinggung perasaan. Kekeliruan dalam berkomunikasi, akan menjadikan maksud-maksud yang sesungguhnya baik menjadi tidak diterima. Orang yang hatinya sudah senang atau gembira, diperlakukan dengan cara apapun, biasanya akan menerimanya. Karena itu, nadziran atau peringatan selalu didahului oleh kata basyiran yaitu menggembirakan. Atau, tatkala memberi peringatan, termasuk menyampaikan pesan tentang kebaikan, maka harus diawali dengan menyenangkan atau menggembirakan terlebih dahulu. Itulah yang disebut dengan cara hikmah, bijak, atau arif. Namun, oleh karena terlalu bersemangat, atau keinginannya segera terlaksana, maka tatkala memberi peringatan atau bahkan pesan kebaikan, kadang dilakukan dengan cara kurang tepat. Agar orang lain menjadi baik terhadap dirinya, maka orang lain tersebut ditegur, disinggung perasaannya, dinasehati, diolok-olok dan bahkan dimarahi. Cara itu olehnya dianggap tepat. Padahal siapapun, yang hatinya disakiti, mereka tidak akan mungkin mendekat, apalagi mengikuti atau memenuhi apa saja yang dimaui. Dalam berkomunikasi, baik secara langsung misalnya dengan tatap muka, percakapan, dialog, wawancara dan lain-lain, atau melalui tulisan termasuk menggunakan fasilitas facebook, website atau lainnya harus dilakukan dengan cara yang tepat. Memberikan komentar terhadap tulisan orang lain dengan cara yang kurang tepat, —–misalnya mengkitik, mengolok-olok, dan bahkan mengecam, maka tidak akan ada hasil. Bahkan, mereka akan pergi meninggalkannya. Jika hal itu dilakukan dalam pertemanan lewat facebook, misalnya, namanya akan segera dihapus. Sebagai orang timur, dalam membangun pergaulan, sangat perlu memperhatikan etika, sopan santun, tata krama dan sejenisnya. Manakala nilai-nilai itu dilanggar, maka komunikasi tidak akan berjalan. Lebih dari itu, orang yang tidak memperhatikan nilai-nilai pergaulan yang seharusnya dijunjung tinggi, akan dianggap sebagai orang yang berbudaya rendah, tidak beretika, tidak terdidik, tidak mengenal sopan santun, dan seterusnya. Oleh karena itu, mengajak orang lain menuju kebaikan, boleh-boleh saja dilakukan oleh siapapun. Apalagi dalam hal-hal tertentu, bahkan ajakan atau pesan itu menjadi keharusan disampaikan. Islam juga mengajarkan tentang apa yang disebut dengan saling memberi wasiat, atau saling memperingati antar sesama. Namun dalam memberikan wasiat, peringatan, nasehat, tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan sebaliknya, harus dengan cara arif dan hikmah. Memberikan peringatan, nasehat, dan masukan dilakukan dengan cara yang kurang tepat, justru akan kontra produktif, bahkan akan dianggap kurang sopan, atau tidak beretika, dan bahkan dianggap kurang berbudaya. Islam mengajak umatnya berbudaya tinggi, di antaranya ditunjukkan dalam berkomunikasi. Sekalipun maksud dan tujuannya baik, yaitu menyampaikan pesan kebaikan, namun hal itu harus dilakukan dengan cara yang tepat. Bersemangat menyampaikan kebaikan memang perlu, tetapi tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan etika. Pesan-pesan kebaikan pun, harus dilakukan dengan cara arif dan hikmah. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
