Monday, 20 April 2026
above article banner area

Miskin Akhlak

Setiap waktu kita mendengar orang merasa sedih karena kemiskinan. Kemiskinan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Orang tidak mau menjadi miskin, sebab dengan keadaan berkekurangan harta benda itu, dirinya merasa hina. Sebaliknya, orang selalu menginginkan agar hidupnya berkecukupan, dan syukur kalau berlebih, dan bahkan menjadi kaya. Orang kaya, selain tercukupi kebutuhan hidupnya, juga menjadi terhormat.

Banyak orang memandang bahwa berkecukupan harta dianggap sebagai segala-galanya. Orang yang memiliki harta cukup, maka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Makan, pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan, dan hiburan semua berhasil tercukupi. Itulah sebabnya, siapapun mengharapkan akan keadaan seperti itu. Pandangan itu menjadikan banyak orang berusaha mengejar kekayaan sebanyak-banyaknya. Kekayaan dianggap sebagai pintu meraih kebahagiaan. Orang mengira bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang memiliki harta. Anggapan itu, tentu tidak seluruhnya salah. Sebab memang dalam kenyataan sehari-hari, orang miskin yang tidak memiliki harta kekayaan, ternyata hidupnya sehari-hari serba sulit dan susah. Atas dasar pandangan itu, banyak orang tua tatkala mencarikan sekolah untuk anak-anaknya, memilih yang dianggap unggul. Sejak masuk TK dicarikan yang unggul. Begitu pula ketika masuk SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi dipilihkan yang dianggap unggul. Setelah lulus pun masih dibantu, diusahakan pekerjaan yang unggul, yang mendatangkan gaji besar agar cepat kaya. Semua hal tersebut boleh-boleh saja dilakukan, namun yang perlu mendapatkan perhatian, adalah bahwa seseorang tidak saja memerlukan kekayaan harta. Selain itu masih membutuhkan kekayaan lain berupa akhlak. Berpendidikan unggul dan juga lapangan kerja unggul, jika tidak diperkaya dengan akhlak mulia, hanya akan mengantarkannya ke pintu penjara. Pemerintah sendiri tatkala menyusun kebijakan juga hanya mengedepankan aspek kekayaan material ini. Mereka ingin agar rakyatnya secara ekonomis makmur dan sejahtera. Oleh karena itu, program-program yang dicanangkan adalah bagaimana mencari jalan keluar agar kemiskinan itu bisa diatasi. Cara pandang seperti itu, lagi-lagi juga tidak salah. Sebab kemiskinan, biasanya juga diikuti oleh gejala lainnya seperti kebodohan, kenakalan, dan bahkan juga kejahatan. Namun satu hal yang seringkali kurang disadari, bahwa kemiskinan itu tidak saja diartikan dari kekurangan harta benda, melainkan juga aspek lain, misalnya miskin akhlak. Seseorang yang miskin harta, hidupnya akan menderita. Tetapi miskin akhlak ternyata tidak kalah besar bahayanya. Orang miskin akhlak, sekalipun kaya harta, akan melakukan hal-hal yang merugikan, baik terhadap dirinya, maupun terhadap orang lain. Contoh tentang hal itu sudah sedemikian banyaknya. Akhir-akhir ini banyak kita lihat melalui berbagai media massa, penguasa atau pejabat yang hidupnya sudah berkecukupan tetapi karena miskin akhlak itu, maka mereka masih korupsi, melakukan makelar kasus untuk kepentingan diri sendiri, tidak amanah, berlaku tidak adil, dan berbagai tindakan merugikan orang banyak. Mereka itu sebenarnya adalah sedang menderita miskin akhlak. Orang miskin akhlak sebenarnya bisa jadi berakibat lebih fatal dan menderita hidupnya daripada sekedar orang yang miskin harta. Sebagai gambaran tetang hal tersebut, kita bisa membayangkan, orang yang sehari-hari dihormati karena pangkat dan jabatanannya, rumahnya besar, uang dan atau tabungannya banyak sehingga bisa memenuhi semua kesenangannya, tiba-tiba sebagai akibat miskin akhlak itu, mereka harus berurusan dengan polisi dan pengadilan karena telah terbukti melakukan kecurangan atau korupsi. Mereka diadili dan akhirnya dimasukkan ke penjara. Akhirnya, tidak saja yang bersangkutan yang menderita, tetapi juga seluruh anggota keluarga besarnya. Sayangnya, kemiskinan akhlak ini belum banyak mendapatkan cukup perhatian, baik oleh pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Akibatnya, banyak dilakukan program-program penanggulangan kemiskinan harta, namun masih sedikit orang yang berpikir, bagaimana menanggulangi kemiskinan akhlak. Padahal akibat buruk miskin akhlak, jauh lebih besar dari miskin harta. Selain itu, miskin hartapun tidak bisa dienyahkan jika miskin akhlak belum juga bisa disembuhkan. . Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *