Friday, 8 May 2026
above article banner area

Para Veteran

Setiap mengikuti upacara bendera peringatan 17 Agustus 1945, kita mesti melihat orang-orang berseragam yang kita kenal dengan sebutan veteran. Mereka itu dulu,  secara langsung ikut berperang mengusir penjajah.  Memang rupanya tidak semua orang yang ikut berperang, secara otomatis disebut veteran. Sebutan itu hanya diberikan kepada mereka yang tercatat secara resmi sebagai tentara.

  Biasanya dalam upacara itu, mereka menggunakan pakian resmi. Semua sudah tua-tua, dan bahkan sudah udzur. Tidak pernah kita lihat seorang veteran masih tampak muda. Sebab, memang beda antara pensiunan tentara dengan veteran. Banyak pensiunan tentara, tetapi tidak masuk kategori veteran. Akan tetapi semua veteran adalah tentara yang pernah ikut berperang melawan penjajah, apa saja peran yang  mereka lakukan ketika itu.   Umumnya ketika datang pada  upacara kemerdekaan itu, mereka menunjukkan wajah ceria dan bangga. Keadaan mereka pada umumnya tampak sederhana, tidak ada yang mewah. Pakaian seragam veteran juga sederhana, namun tampak membanggakan. Mungkin tidak saja pakaiannya yang sederhana, tetapi lebih dari itu, imbalan yang diterima pada setiap bulannya pun juga sederhana. Namun begitu,  dari mereka tidak pernah terdengar protes, mengeluh kekurangan,  dan meminta diistimewakan karena jasa-jasanya itu.   Setiap  ketemu para veteran,  yang terbayang pada benak saya adalah sedemikian besar jiwa pengorbanan yang telah mereka berikan untuk bangsa ini.  Saya selalu membayangkan,  ketika dulu mereka  menjalani tugas berperang, apa saja dikorbankan. Setahu saya, hanya  ada dua alternative dalam berperang, yaitu menang atau mati. Padahal dalam peperangan, segala sesuatu tidak selalu bisa dipersiapkan. Musuh bisa datang secara mendadak, kapan saja dan harus dihadapi.   Oleh karena itu, keadaannya tidak sebagaimana sekarang, yakni semua bisa direncanakan. Apa yang akan dikerjakan pada tahun depan, bisa disusun DIPA dan disyahkan oleh pihak yang berwenang, yaitu  DPR. Waktu perang dulu, —-yang dialami oleh para veteran itu, kiranya tidak pernah ada anggaran yang tersedia. Apapun keadaannya, tatkala musuh datang, maka harus dilawan. Para veteran tidak akan berdalih, tidak akan mau perang dengan alasan,  DIPA atau anggaran belum turun.      Sekalipun begitu,  ternyata para veteran berhasil mengusir penjajah. Mereka berhasil memenangkan peperangan yang dahsyat. Kuncinya adalah,  bahwa mereka memiliki senjata yang ampuh, yaitu berupa  kecintaan pada negara dan bangsa,  jiwa berkorban yang tinggi, serta mereka menyandang keberanian yang luar biasa,  termasuk berani menderita dalam memperjuangkan cita-citanya itu.   Membandingkan antara veteran dengan para pejuang saat ini, memang tidak sebanding. Veteran dulu tatkala berjuang, sebagaimana disebut di muka, hanya ada dua pilihan, yaitu menang atau mati. Sedangkan pada saat ini, para pejuang masih bisa  menanyakan anggaran segala. Jika anggaran tersedia dan cukup, ——dan syukur berlebih, maka proyeknya dijalankan.   Sebaliknya, tatkala tidak ada anggaran, maka perjuangannya tidak diteruskan. Itulah kira-kira sebabnya, negeri ini selalu saja ribut, bukan pada aktivitas perjuangan, melainkan tatkala membahas anggarannya. Berebut anggaran itulah yang disebut sebagai berjuang. Maka akibatnya, perjuangan yang dilakukan tidak pernah menang, malah justru terpeleset masuk penjara.   Oleh karena itu, pada saat memperingati hari kemerdekaan, sebagaimana yang kita lakukan pada hari  ini, kita perlu  melihat wajah-wajah para veteran yang masih ada. Orang-orang yang pada umumnya sudah berusia lanjut itu, dulu dengan gigih  membela negara dengan mengorbankan apa saja yang ada padanya.   Namun sayang, jejak perjuangan mereka itu  kurang dilihat,  dan justru akhir-akhir ini terdengar saja  berita menyedihkan, yaitu  ada sementara para janda veteran diusir, mereka dianggap salah, bahkan dipenjara, karena  dianggap menempati rumah dinas berkepanjangan.  Rupanya hingga merdeka selama 65 tahun, bangsa ini  masih gagal dalam menghormat para pejuang dan pahlawannya sendiri. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *