Di alam demokrasi seperti sekarang ini, pemimpin harus memiliki hati luas dan lapang. Tanpa itu maka sehari-hari akan mendapatkan kekecewaan. Sebab berbeda dengan di alam otoriter, pemimpin di alam demokrasi, rakyat merasa memiliki hak dan kebebasan untuk menyatakan pendapatnya. Rakyat dibolehkan mengoreksi kinerja pemimpinnya. Jika rakyat tidak puas, maka pemimpin dikritik, agar segera melakukan perbaikan.
Berbeda dengan pemimpin di alam otoriter, pemimpin demokratis harus memiliki niat atau iktikat untuk menjadi pelayan bagi mereka yang dipimpinnya. Sebaliknya, ia bukan justru menjadi orang yang berharap untuk dilayani. Seorang pemimpin di alam demokrasi, sejak awal harus sudah memperhitungkan tentang peran dan posisinya itu. Terkait dengan itu pula, ukuran keberhasilan pemimpin demokratis adalah ketika ia berhasil melayani orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sama halnya dengan pelayan. Sebagai seorang pelayan, ia dituntut bekerja sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya. Selain itu, pemimpin harus selalu bersedia dievaluasi. Karena itu, menjadi pemimpin di alam demokrasi memang tidak terlalu enak. Sehari-hari ia dikritik atas tugas dan tanggung jawabnya. Sehubungan dengan tugas dan tanggung jawabnya itu, maka pemimpin demokratis harus memiliki hati yang luas dan lapang. Pemimpin yang berhati sempit dan apalagi berjiwa kerdil, maka tidak akan mampu bertahan lama. Bagi pemimpin demokratis, semua kritik dan keluhan, seharusnya justru ditunggu-tunggu dan perlukan. Berangkat dari kritik itu, maka dilakukan perbaikan atas semua kekurangannya. Beban seorang pemimpin akan menjadi semakin sulit dan berat, tatkala mereka yang dipimpin berjumlah besar, dan beraneka ragam, seperti keadaan bangsa Indonesia ini. Siapapun pemimpin bangsa ini akan mengalami kesulitan dalam menghadapi beban yang berat, luas, dan komplek. Banyak orang menginginkan kemajuan cepat dan menyeluruh, sementara rakyat yang dimajukan beraneka ragam jumlah, jenis, dan keadaannya. Seorang pemimpin harus mampu mendengar semua tuntutan dan kritik apapun. Tokh, mereka yang mengkitik, ——-belum tentu, atau bukan berarti selalu lebih hebat dan mampu menjalankannya lebih baik. Selain itu, juga tidak boleh mereka yang mengkitik dianggap sebagai musuh. Alam demokrasi selalu memerlukan para aktivis dan kritikus itu. Manakala tidak ada kritik, maka pemimpin akan bisa hidup tenang. Namun keadaan seperti itu, akan dianggap demokrasi tidak berjalan dengan baik. Pemimpin demokratis harus mampu dan berhasil menampung semua aspirasi, harapan, kritik dari rakyatnya. Tokh kritik itu bisa benar dan atau sebaliknya, kurang tepat. Bisa jadi para pengkritik, justru belum berhasil memahami kebijakan atau strategi yang selama itu diambil oleh pemimpinnya. Pemimpin,—— oleh karena sehari-hari, selalu mendengarkan berbagai aspirasi, kritik, dan semacamnya, maka sebenarnya memiliki perspektif yang lebih luas, melebihi mereka yang bukan sedang memimpin. Betapa beratnya tugas pemimpin, maka sebenarnya mereka cenderung lebih menyukai keadaan otoriter. Tampak dalam sejarah,demokrasi di Indonesia ini diberi label, misalnya muncul demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, dan mungkin apalagi lainnya. Itu menggambarkan bahwa bagi pemimpin demokrasi tidak mudah dijalankan. Sebaliknya, rakyat atau siapapun yang dipimpin, selalu menyukai alam demokrasi. Oleh karena itu, dengan bahasa atau jargon demokrasi pun, seorang pemimpin melakukan tindakan otoriter. Sebab bagi siapapun pemimpin itu, otoriter justru lebih mudah dijalankan. Pemimpin yang berhati sempit, sehingga tidak mampu mewadahi semua aspirasi mereka yang dipimpinnya, akan merasa lebih aman jika menggunakan pendekatan otoriter. Dengan begitu, bagi siapapun yang tidak loyal, maka disingkirkan, dan jika perlu harus dienyahkan. Pemimpin seperti itu sebenarnya tidak cocok di alam demokrasi. Namun juga g sebaliknya, mereka yang sedang dipimpin tidak boleh melakukan apa saja semaunya. Sebab di alam demokrasi selalu ada peraturan yang harus dijadikan pegangan bersama. Dalam alam demokrasi, siapapun tidak boleh melampaui batas. Mereka yang melakukan hal demikian, bisa disebut belum mengerti demokrasi, sekalipun mereka sehari-hari berteriak, dan melakukan sesuatu atas nama demokrasi. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
