Friday, 8 May 2026
above article banner area

Pemimpin Seharusnya Berhati Luas dan Lapang

Di alam demokrasi seperti sekarang ini, pemimpin harus memiliki hati luas dan lapang. Tanpa itu maka  sehari-hari akan mendapatkan kekecewaan. Sebab  berbeda dengan di alam otoriter, pemimpin di alam demokrasi, rakyat merasa memiliki hak dan kebebasan untuk menyatakan pendapatnya. Rakyat dibolehkan mengoreksi kinerja pemimpinnya. Jika rakyat tidak puas, maka  pemimpin  dikritik, agar segera melakukan  perbaikan.

  Berbeda dengan pemimpin di alam otoriter,    pemimpin demokratis harus memiliki niat atau iktikat  untuk menjadi pelayan  bagi  mereka yang dipimpinnya. Sebaliknya, ia  bukan justru menjadi orang yang berharap untuk dilayani. Seorang pemimpin di alam demokrasi, sejak awal harus sudah memperhitungkan tentang peran dan posisinya itu.   Terkait dengan itu pula, ukuran keberhasilan pemimpin demokratis  adalah ketika ia berhasil melayani orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sama halnya dengan pelayan. Sebagai seorang pelayan, ia dituntut bekerja sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya.  Selain itu, pemimpin harus   selalu bersedia dievaluasi. Karena itu, menjadi pemimpin di alam demokrasi memang tidak terlalu enak. Sehari-hari ia  dikritik atas tugas dan tanggung jawabnya.   Sehubungan dengan tugas dan tanggung jawabnya itu, maka pemimpin demokratis harus memiliki hati yang luas dan lapang. Pemimpin yang berhati sempit dan apalagi berjiwa kerdil, maka  tidak akan mampu bertahan lama. Bagi pemimpin demokratis, semua kritik dan keluhan, seharusnya justru ditunggu-tunggu dan perlukan.  Berangkat dari kritik itu, maka dilakukan perbaikan atas semua kekurangannya.   Beban seorang pemimpin akan menjadi semakin sulit dan berat, tatkala mereka yang dipimpin berjumlah besar, dan  beraneka ragam, seperti keadaan bangsa Indonesia ini. Siapapun pemimpin bangsa ini  akan mengalami kesulitan dalam  menghadapi beban yang berat, luas,  dan komplek. Banyak orang menginginkan kemajuan cepat dan menyeluruh, sementara rakyat yang dimajukan beraneka ragam jumlah,  jenis, dan keadaannya.   Seorang pemimpin harus mampu mendengar  semua tuntutan dan kritik  apapun. Tokh, mereka yang mengkitik, ——-belum tentu, atau bukan berarti  selalu lebih hebat dan mampu menjalankannya lebih baik. Selain itu, juga tidak boleh mereka yang mengkitik dianggap sebagai musuh. Alam demokrasi  selalu  memerlukan para aktivis dan kritikus itu. Manakala  tidak ada kritik, maka  pemimpin akan bisa  hidup tenang.  Namun  keadaan seperti itu,  akan dianggap demokrasi tidak  berjalan dengan baik.     Pemimpin demokratis harus mampu dan berhasil menampung  semua aspirasi, harapan, kritik dari rakyatnya.  Tokh kritik itu bisa benar dan atau sebaliknya, kurang tepat. Bisa jadi para pengkritik, justru belum  berhasil memahami  kebijakan atau strategi yang selama itu diambil oleh pemimpinnya. Pemimpin,—— oleh karena sehari-hari, selalu  mendengarkan berbagai aspirasi,  kritik,  dan semacamnya, maka sebenarnya memiliki perspektif yang lebih luas, melebihi mereka yang bukan sedang memimpin.   Betapa beratnya tugas pemimpin,  maka sebenarnya mereka  cenderung lebih menyukai keadaan  otoriter.  Tampak dalam sejarah,demokrasi di Indonesia ini diberi label, misalnya muncul demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, dan mungkin apalagi lainnya. Itu menggambarkan bahwa bagi pemimpin demokrasi tidak mudah dijalankan.  Sebaliknya, rakyat atau siapapun yang dipimpin, selalu  menyukai alam demokrasi. Oleh karena itu, dengan bahasa atau jargon demokrasi pun, seorang pemimpin  melakukan tindakan otoriter. Sebab bagi siapapun  pemimpin itu, otoriter justru lebih mudah dijalankan.   Pemimpin  yang berhati sempit,  sehingga  tidak mampu mewadahi semua  aspirasi mereka yang dipimpinnya, akan merasa lebih aman jika menggunakan pendekatan otoriter.  Dengan begitu, bagi siapapun  yang tidak loyal, maka  disingkirkan, dan jika perlu harus dienyahkan. Pemimpin seperti itu sebenarnya tidak cocok di alam demokrasi.   Namun juga g sebaliknya, mereka yang sedang dipimpin tidak boleh melakukan apa saja semaunya. Sebab di alam demokrasi  selalu ada peraturan yang harus dijadikan pegangan bersama.   Dalam alam demokrasi, siapapun  tidak boleh melampaui batas. Mereka yang melakukan hal demikian, bisa disebut belum mengerti demokrasi, sekalipun mereka sehari-hari berteriak,  dan melakukan sesuatu  atas nama demokrasi. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *