Tuesday, 16 June 2026
above article banner area

Memahami Manusia Dari Al Qur’an

Selama ini, para ilmuwan sosial dalam memahami perilaku manusia dari hasil penelitian empirik. Sebagai sebuah kerja ilmiah, kegiatan itu ditempuh melalui observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis.  Selanjutnya, setidaknya ada empat sudut pandang dalam melihat perilaku manusia.  Perilaku manusia yang ditimbulkan dari interaksinya dengan sesama orang, maka bidang ilmu itu dinamai sosiologi. Oleh karena itu, muncul  konsep-konsep, seperti kompetisi, konflik, kooperasi, hegemonik, kooptasi, adaptasi, asimilasi, amalgasi, organisasi dan seterusnya.   

  Berbeda dengan itu, adalah psikologi. Disiplin ini mengkaji  perilaku manusia yang  terbentuk dari dalam diri manusia itu sendiri. Maka konsep-konsep yang diperbincangkan adalah tentang bakat, minat, motive, achivement, stress, dan seterusnya. Penelitian psikologi biasanya menggunakan pengukuran-pengukuran yang bersifat kuantitatif. Selain itu, perilaku manusia juga dikaji dari aspek kesejarahannya. Kajian sejarah biasanya menggunakan unit analisis kurun waktu, atau periodisasi.  Selain itu semua, perilaku manusia juga dikaji dari sudut pandang  budaya, atau  disebut antropologi. Kajian ini biasanya diarahkan untuk mengetahui budaya masyarakat tertentu seperti, masyarakat Jawa, Madura, Bali, Papua dan sebagainya.    Apapun sudut pandang yang digunakan, maka sesungguhnya semua disiplin itu, dimaksudkan  untuk  memahami perilaku manusia. Kajian itu dilakukan oleh  para ilmuan di sepanjang waktu. Namun ternyata  tidak pernah  ditemukan jawaban secara sempurna. Perdebatan terjadi tidak saja terkait dengan hasil temuannya, melainkan juga dari cara mengkajinya. Terkait dengan cara mengkajinya itu, maka muncul istilah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Masing-masing pendekatan itu tentu ada kelemahan dan kekuarngannya. Akan tetapi yang menarik, bahwa aneka pendekatan tersebut masing-masing melahirkan perdebatan selanjutnya yang berkepanjangan. Itulah cara kerja ilmiah, yang tidak pernah berhenti.        Selain itu, dalam mengkaji perilaku manusia juga menggunakan berbagai paradigma, dan teori-teori yang beraneka ragam. Dalam sosiologi misalnya, muncul berbagai teori. Dikenal misalnya, teori struktural fungsional, teori pertukaran, fenomenologi, interaksionis simbolik, dan masih banyak lagi lainnya. Perbedaan-perbedaan itu tentu akan melahirkan pemahaman yang beraneka ragam. Oleh karena itu maka perbedaan  paradigma atau teori yang digunakan bisa jadi akan menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda. Dengan demikian, pemahaman tentang manusia tidak pernah berhenti, selalu berkembang dari waktu ke waktu. Apalagi,  kehidupan manusia selalu bergerak, berubah,  tumbuh, dan berkembang, mengikuti perkembangan  zaman yang juga selalu berubah.   Menjadi lebih rumit lagi,  tatkala manusia dikaji lewat  filsafat. Tinjauan filsafat terhadap sesuatu hal sebagai obyeknya, selalu dilakukan secara mendalam, integral, dan radikal. Lagi-lagi, sebagaimana ilmu sosial, filsafat juga tidak pernah menemukan hasil final. Tatkala jawaban ditemukan, maka pada saat itu pula ditemukan pertanyaan baru yang harus dicari jawabnya lebih lanjut. Pertanyaan dan jawaban itu tidak pernah sampai di ujung kesudahan. Sebagai ciri khas filsafat tidak mengenal berhenti. Berhenti manakala filosof itu sudah mengakhiri kehidupannya.   Pemahaman terhadap manusia secara secara lebih luas, mendasar, dan mendalam  sebenarnya bisa melalui kitab suci. Melalui al Qur’an misalnya,  perilaku manusia dapat dipahami secara luas, mendalam, bahkan melebihi jangkauan ilmu-ilmu sosial.  Terdapat wilayah  manusia yang gagal dipahami oleh ilmu sosial, tetapi  justru dapat  dipahami melalui al Qur’an. Secara lebih luas dan mendalam, ——-melalui al Qur’an,  manusia bisa dipahami dari aspek aql, nafsu, hati, dan selain juga jasadnya.  Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, al Qur’an tatkala menjelaskan siapa sebenarnya manusia,  juga melalui konsep-konsep,  kategori-kategori, indikator-indikator,  dan seterusnya.   Al Qur’an tatkala menjelaskan  kategori tentang manusia maka disebut misalnya,  ada tiga kelompok manusia, yaitu apa yang disebut sebagai kelompok muttaqien, kafirien, dan munafiqien. Masing-masing dijelaskan indikator-indikatornya. Misalnya, disebut sebagai kelompok muttaqien adalah : (1) orang-orang yang mengimani terhadap yang ghaib, (2) menegakkan shalat, (3) menginfaqkan sebagian rezekinya, (4) mengimani semua kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah, —-taurat, zabur, injil dan al Qur’an, (5) orang-orang yang yakin akan datangnya hari akhir.   Dalam al Qur’an juga dijelaskan tentang konsep-konsep lainnya, misalnya siapa sesungguhnya orang yang beruntung, orang merugi,  orang fasad,  dan seterusnya. Selain itu, al Qur’an juga menjelaskan tentang sejarah manusia, baik sejarah pribadi maupun segolongan orang-orang tertentu. Al Qur’an juga menjelaskan tentang jiwa manusia.  Dijelaskan bahwa perilaku manusia sebenarnya bersumber dari hati atau disebut qolb. Hati manusia itu sendiri, dalam al Qur’an digambarkan dalam keadaan berbeda-beda, misalnya ada hati yang sehat, hati yang sakit, dan juga hati yang telah mati. Masing-masing keadaan hati itu selalu melahirkan watak, karakter atau pribadi yang berbeda-beda.   Maka dengan demikian, bahwa  sebenarnya untuk memahami manusia, akan menjadi lebih sempurna manakala ditempuh juga melalui rujukan kitab suci. Apalagi  pengetahuan tentang manusia yang  bersifat lebih mendasar dan menyeluruh. Banyak ahli ilmu sosial dalam berupaya memahami tentang manusia mengalami kegagalan, atau tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Hal itu disebabkan di antaranya, karena keterbatasan piranti yang digunakan. Manusia selain menyandang  dimensi yang luas,  juga   bersifat unik. Oleh karena itu, kajian empirik  untuk  memahami manusia, tidak akan pernah berhasil memuaskan, karena dimensi  manusia yang luas dan sekaligus unik  itu.     Kajian tentang perilaku manusia oleh para ilmuwan sosial akan membawa hasil, manakala hanya sebatas menyangkut fenomena sosial yang tampak dan bersifat  keseharian, yakni kehidupan  nyata sehari-hari. Akan tetapi, tatkala akan menyentuh  aspek yang bersifat mendalam, mendasar,  dan menyeluruh dari sisi-sisi kehidupan manusia, maka sumber yang sempurna,  justru berasal dari kitab suci, atau tegasnya dalam Islam adalah al Qur’an.  Oleh karena itu,  al Qur’an sebenarnya adalah merupakan rujukan bagi siapapun yang berkeinginan memahami manusia, termasuk para  ilmuwan  sosial jika menghendakinya. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *