Seringkali kita menganggap bahwa hanya orang kaya saja yang bisa menikmati dunia ini. Pandangan itu biasanya didasarkan atas anggapan bahwa hanya mereka saja yang berhasil menguasainya. Orang kaya bisa membikin rumah besar, membeli kendaraan bagus, rekreasi kemana saja, perabot rumah tangga modern, pendidikan dan sebagainya bisa didapat. Jika mereka sakit, dengan mudah memilih rumah sakit dan dokter yang dianggap berkualitas. Selain itu fasilitas kehidupan modern, seperti transportasi, jaminan hari tua, alat komunikasi, dan lain-lain bisa dimiliki. Sebaliknya, orang miskin tidak akan bisa memiliki itu semua. Orang miskin jangankan untuk mendapatkan fasilitas semua itu, sedangkan sebatas memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bisa jadi menunggu belas kasihan orang lain. Karena itu pikiran sederhana akan mengatakan bahwa orang miskin tidak akan berhasil menikmati kehidupan dunia ini. Oleh karena itu, maka orang miskin dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani dan dientaskan. Orang miskin dipandang selalu menderita. Maka, akhir-akhir ini muncul istilah, yaitu gerakan pengentasan kemiskinan. Pertanyaannya, benarkan kenikmatan dunia ini hanya dimonopoli oleh orang kaya. Apa benar bahwa semua orang kaya berhasil menikmati kekayaannya itu. Pertanyaan ini kiranya perlu dijawab melalui berbagai pengalaman atau pengamatan yang cukup agar diperoleh jawaban yang jelas dan obyektif. Persoalan ini sederhana, tetapi agar tidak menyesatkan memerlukan jawaban yang tepat dan logis. Benarkah kenikmatan hidup hanya diraih dengan harta kekayaan semata. Marilah pertanyaan ini didiskusikan bersama-sama. Mengenai betapa pentingnya harta kekayaan, rasanya semua orang tidak ada yang membantah, kecuali kaum shufi yang sengaja tidak peduli dengan harta. Tetapi jika ada anggapan bahwa setiap orang kaya selalu berhasil merasakan kenikmatan dari harta kekayaannya itu, rasanya juga masih memerlukan bukti yang tidak sederhana. Kita lihat banyak orang kaya yang hidupnya justru diliputi oleh suasana tertekan, sehingga mengeluh, khawatir, dan bahkan takut disebabkan oleh hartanya itu. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hanya memiliki kekayaan terbatas, tetapi sudah merasa cukup dan menikmati harta yang sedikit itu. Untuk menyimpulkan siapa sesungguhnya yang bisa menikmati kehidupan dunia ini, semakin jelas, sehingga rasanya tidaklah sulit. Banyak penjara di mana saja pada akhir-akhir ini justru dipenuhi oleh orang-orang kaya. Para pejabat yang terbukti melakukan tindak korupsi, mulai ratusan sampai milyardan rupiah, setelah ketahuan dan diadili ternyata harus mensabar-sabarkan diri dalam waktu lama harus menempati tempat sempit, sederhana, dan terbatas di penjara. Tidak ada orang yang bangga menempati tempat itu. Mereka kaya dan berpangkat, tetapi harus menderita justru karena kekayaannya itu. Kekayaan dan jabatan yang tinggi dan terhormat justru menjadikan banyak orang terperosok pada penderitaan. Sebelum mereka terbukti bersalah dan masih menjabat, mereka dihargai, dihormati, dan dimuliakan. Semua orang hormat kepadanya. Mereka dengan bebas menggunakan kekuasaan dan hartanya. Pergi kemana saja asalkan mau, akan terlaksana. Sebelum dinyatakan bersalah, mereka ada yang menjadi bupati atau wali kota, gubernur, menteri, Pimpinan Bank, BUMN, anggota DPRD, DPR, jaksa, hakim, pejabat apa saja dan di mana saja. Bahkan mereka yang sehari-hari mengusut orang yang korup pun ternyata juga korup. Luar biasa. Mereka dipenjara justru terkait dengan hartanya itu. Artinya, harta bisa mensengsarakan siapapun, termasuk pemiliknya. Sebaliknya, kita bandingkan kasus-kasus sederhana berikut ini. Serngkali kita menyaksikan para petani yang bekerja keras di kebun, berhasil menikmati kehidupan yang luar biasa. Di tengah-tengah mereka bekerja di kebun, menjelang waktu siang, anak atau isteri datang membawakan nasi atau kue ala kadarnya. Ia sambil beristirahat menikmati makanan yang dibawakan itu sambil melihat sawah atau ladangnya yang sedang ditanami. Suasana itu, tampak sangat nikmat dan menggembirakan. Tatkala sedang menikmati bawaan isteri atau anaknya itu, ia tidak memiliki perasaan susah, khawatir, atau takut oleh siapapun. Karena apa yang dimiliki, sekalipun sederhana, diperoleh dengan cara yang sah dan halal, termasuk kebun yang ditanami itu. Memang tidak semua pejabat atau orang kaya selalu khawatir atas ancaman sebagaimana diilustrasikan itu. Banyak pejabat di berbagai levelnya masih berhasil mampu memegang amanah hingga hidupnya tenang dan tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan sedikitpun. Sebaliknya, juga tidak semua orang miskin berhasil menikmati kekayaannya yang terbatas itu. Orang miskin juga ada yang selalu mengeluh, karena kemiskinannya. Tetapi, dari contoh sederhana tersebut, bisa dipahami bahwa kenikmatan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan yang melimpah atau sebaliknya, terbatas jumlahnya. Kenikmatan itu bisa dirasakan oleh semua orang dari manapun keadaannya. Orang kaya bisa menikmati kehidupannya, asalkan kekayaannya itu tidak menjadikan hatinya gelisah, khawatir, atau takut karena diperoleh dengan cara yang tidak semstinya. Begitu juga orang miskin, —–yang terlalu miskin, juga bisa merasakan penderitaan sebagai akibat dari kemiskinannya itu. Seorang yang karena terlalu miskin, sementara dituntut untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan keluarganya sehari-hari, akan merasakan penderitaan itu, jika tidak ditemukan jalan keluar untuk memenuhi kebutuhannya itu. Dari berbagai pengamatan, maka tampak bahwa ternyata Tuhan tatkala membagi-bagi harta selalu tidak sama jumlahnya. Sebagian diberi rizki melimpah, sehingga berlebihan. Tetapi sebaliknya, banyak orang yang mendapatkannya dalam jumlah terbatas. Akan tetapi, jika kita amati secara saksama, Allah swt., tatkala membagi-bagi kenikmatan itu ternyata dilakukan secara merata. Jangan dikira orang miskin selalu gagal merasakan kenikmatan itu. Tatkala orang miskin lagi mendapatkan harta sekalipun sedikit di saat kebutuhan mendesak, maka akan dirasakan sebagai kenikmatan yang luar biasa. Demikian pula sebaliknya, orang kaya yang mendapatkan rezki sedemikian besar, karena sehari-hari mendapatkan sejumlah itu, maka harta yang besar itu, sampai tidak bisa dirasakan nikmatnya. Kenikmatan itu ada di hati dan tidak selalu terkait dengan jumlah. Tatkala terpenuhinya kebutuhan itulah biasanya orang menjadi gembira. Apalagi kebutuhan itu dalam keadaan sedang mendesak, lalu kemudian terpenuhi, maka disanalah kenikmatan itu terasakan. Lebih-lebih lagi, jika kemudian, tatkala mendapatkan kenikmatan itu menjadikannya teringat kepada Sang Maha Pemberi Nikmat, yaitu Allah swt., maka rasa nikmat itu akan bertambah. Dan justru di sanalah kenikmatan yang sesungguhnya hadir dihati setiap orang. Berangkat dari pandangan tersebut, maka nikmat kehidupan itu bisa dirasakan oleh siapapun, yaitu terutama orang-orang yang bisa mensyukurinya. Dan, sungguh beruntung orang yang berhasil bisa bersyukur. Sebab, lagi pula nikmat itu hanya akan bertambah sepanjang yang mendapatkannya mampu mensyukuri. Namun sayangnya, ternyata sedikit saja orang yang mampu mensyukuri nikmat Allah itu. Sehingga, sebenarnya juga hanya sedikit pula orang yang berhasil menikmati dunia ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
