Alangkah sedikitnya orang yang meraih kebahagiaan di dunia ini, jika yang disebut bahagia itu hanyalah orang-orang yang mampu mengumpulkan banyak harta dan berhasil meraih kekuasaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan, dan tempatnya di hati. Kebahagiaan itu sendiri tidak bisa dilihat, hanya sebatas gejala-gejalanya saja yang bisa dikenali.
Orang yang sedang bahagia bisasanya tertawa. Sehingga tertawa dipandang sebagai salah satu tanda kebahagiaan. Seseorang yang sedang tertawa dianggap sedang dalam keadaan bahagia. Tetapi apakah orang yang tertawa saja yang sedang merasakan kebahagian itu. Tentu tidak, orang sedang menangis pun, —–bisa jadi, justru menunjukkan kebahagiaan. Banyak orang bahagia diekspresikan secara tidak sengaja dengan menangis. Orang tua tatkala melihat anaknya sukses, lulus ujian, memenangkan pertandingan, ketemu setelah lama berpisah, diangkat sebagai pejabat tinggi, sedang menjalani akad nikah, ternyata menangis. Mereka itu menangis, sama sekali bukan karena susah atau menderita, melainkan sebaliknya, justru merasa bahagia. Suatu ketika di kampus ada orang tua sendirian lagi menangis. Setelah ditanya kejadiannya, ternyata ia bukan lagi susah, melainkan sedemikian gembira, karena melihat anaknya di waktu sholat dhuhur, mengenakan baju koko, sarung dan kopyah datang ke masjid. Ia mengatakan secara terus terang, bahwa baru kali itu seumur-umur melihat anaknya mau ke masjid sholat berjama’ah. Kebahagiaan juga bukan hanya didominasi oleh orang-orang kaya, berpangkat, atau berjabatan tinggi. Orang kaya dan orang berkedudukan tinggi, sama saja dengan orang miskin dan rakyat jelata, —–suatu waktu, mengalami rasa susah, khawatir dan bahkan juga takut. Orang kaya mengalami kesusahan, justru disebabkan oleh kekayaannya itu. Demikian pula orang berpangkat tinggi, suatu ketika merasakan kesusahan, yang bersumber dari pangkatnya. Namun ada saja orang mengira bahwa harta atau kekuasaan adalah merupakan satu-satunya sumber kebahagiaan. Sehingga, tidak sedikit orang mencari kebahagiaan dengan cara mengejar-ngejarnya. Seseorang sedemikian ambisius mengejar jabatan, karena mengira bahwa di tempat itu letak kebahagiaan. Padahal pada kenyataannya dalam kehidupan nyata sehari-hari, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak sedikit orang menjadi susah, berpenyakit, bekerja sampai tidak mengenal waktu, terkait oleh harta kekayaannya. Sehingga, dirinya menjadi tersiksa hanya karena hartanya itu. Demikian pula, tidak sedikit orang dengan posisinya sebagai pejabat tinggi menjadi tidak bisa secara leluasa menjalani hidupnya. Dengan jabatannya yang tinggi itu, menyebabkan ia dituntut tanggung jawabnya, misalnya harus bekerja keras. Bahkan akhir-akhir ini, nyata betul betapa banyak para pejabat merasakan hidupnya justru tidak tenang dan bahagia karena posisinya itu. Tidak sedikit pejabat pemerintah, apakah lurah, camat, bupati, wali kota, gubernur, menteri anggotra DPR, terpaksa berurusan dengan polisi, dan akhirnya masuk penjara karena tidak mampu mengemban amanahnya itu. Dalam kehidupan ini, ternyata pada diri orang kaya dan juga orang berkuasa, terdapat suasana kebahagiaan dan sekaligus juga kesusahan. Hal itu tidak berbeda dengan orang kecil, rakyat biasa, dan juga orang miskin, pada kehidupan mereka juga mendapatkan kebahagiaan dan sekaligus juga kesusahan. Kebahagiaan dan kesusahan bisa jatuh pada semua orang, baik yang kaya, miskin, orang kecil, maupun penguasa sekalipun. Lalu pertanyaannya adalah di mana sesungguhnya kebahagiaan itu, jika kita menginginkan untuk mencarinya. Rasa bahagia itu sesungguhnya berada di hati masing-masing orang. Orang yang hatinya bersih, ikhlas, tidak memiliki beban, selalu mensyukuri nikmat, mampu mencintai semua, dan selalu dekat pada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang sedang memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya. Demikian pula orang yang selalu gelisah, memiliki banyak musuh, tidak bisa bersyukur, selalu iri, dengki, hasat terhadap orang lain, tamak terhadap apa saja, maka orang seperti ini ——–kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, atau apapun keadaan dan posisinya akan selalu merasa hidupnya tersiksa. Islam yang dibawa oleh Muhammad saw,, memberi tuntunan kepada siapapun bagi yang ingin mendapatkan kebahagiaan itu. Pintu menuju kebahagiaan itu sesungguhnya bisa dilewati oleh semua orang, yaitu oleh mereka yang selalu menjaga keimanan, amal sholeh dan akhlakul karimah, serta selalu memelihara hubungan dengan Allah swt., dan sekaligus dengan sesama manusia. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
