Sejak dua tahun terakhir ini, penerimaan mahasiswa baru di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dilaksanakan secara bersama-sama secara nasional. Sebagai pelaksananya, UIN Mailiki Malang ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai koordinatornya. Ternyata sekalipun belum maksimal dan sempurna, hasilnya cukup menggembirakan.
Di seluruh Indonesia, terdapat 52 PTAIN yang tersebar mulai dari Aceh hingga Jayapura, Papua. Di antara PTAIN itu, 6 di antaranya berbentuk universitas, 13 institut dan sisanya berbentuk sekolah tinggi. Jumlah mahasiswanya juga bervariasi, ada yang di atas 20 ribu, misalnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi juga ada yang baru tumbuh, hingga jumlahnya cukup kecil misalnya STAIN Sorong, Papua. Oleh karena keikutsertaan dalam ujian masuk secara nasional tersebut adalah bersifat wajib, maka seluruh PTAIN mengikuti seleksi nasional itu, kecuali STAIN Bangka Belitung dan STAIN Jayapura, Papua. Kedua sekolah tinggi Agama Islam tersebut, tidak ada satu pun pendaftarnya yang masuk melalui seleksi nasional. Hal itu bisa terjadi, karena informasi SPMB-PTAIN belum sampai ke masyarakat, atau oleh karena lainnya. Sejak diberlakukan kebijakan tersebut, seluruh administrasi dan managemennya telah menggunakan on line, sehingga semestinya calon pendaftar di manapun akan memanfaatkan fasilitas itu. Lewat manajemen itu, siapapun tatkala mendaftar tidak perlu hadir ke kampus, melainkan cukup datang ke bank yang ditunjuk, dan kemudian melakukan semua proses yang harus dilalui, lewat alamat website panitia pusat penerimaan mahasiswa baru. Pada tahun kedua pelaksanaan SPMB-PTAIN, jumlah pendaftar jauh meningkat dibanding tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung, peningkatan itu hingga lebih dari 100 %. Selain itu, yang agak mengejutkan, bahwa tidak semua PTAIN besar selalu diminati lebih banyak oleh calon mahasiswa baru PTAIN yang dianggap kecil. Jumlah peminat masuk ke STAIN Lohsemawe dan juga STAIN Sangsa misalnya, jauh melebihi peminat masuk ke beberapa IAIN. IAIN Lampung yang sebelumnya peminatnya diperkirakan kecil, ternyata justru lebih banyak dibanding IAIN lainnya. Beberapa STAIN di kota-kota kecil, ternyata ada yang sepi peminat, hingga tidak memenuhi kuota yang ditetapkan. Mungkin masyarakat masih mengikuti kebiasaan lama, bahwa pendaftaran harus lewat kampus. Selain itu bisa jadi, masyarakat masih belum terbiasa mencari informasi lewat internet. Mereka lebih menyukai datang ke kampus, dan meminta penjelasan dari panitia lokal, kemudian mendaftar langsung di kampus itu. Sebab, pada umumnya PTAIN, selain ikut SPMB, juga membuka pendaftaran sendiri lewat kampusnya masing-masing. Memang terasa agak aneh, panitia yang dibentuk oleh menteri agama yang bersifat nasional masih harus bersaing dengan panitia lokal di masing-masing PTAIN. Padahal jika saja, mereka tidak membuka pendaftaran, atau baru membuka setelah SPMB-PTAIN selesai, maka tidak akan terjadi persaingan itu. Padahal dengan ujian masuk bersama, maka calon mahasiswa baru di seluruh PTAIN telah melewati seleksi dengan ukuran yang sama. Data atau informasi itu sangat penting artinya bagi pengelola PTAIN yang bersangkutan dan juga bagi kementerian agama tatkala mengambil keputusan dalam melakukan pembinaan. Kebersamaan dalam penerimaan mahasiswa baru, kiranya juga penting untuk mengetahui kekuatan masing-masing PTAIN, baik terkait dengan minat masyarakat, maupun lainnya. PTAIN yang diminati oleh masyarakat dalam jumlah yang terbatas kiranya bisa dijadikan pertimbangan pemerintah dalam memberikan pembiayaan dan fasilitas lainnya. Pemerintah dalam melakukan efisiensi dan efektifitas perlu mempertimbangkan jumlah mahasiswa masing-masing PTAIN dalam menentukan anggarannya. Pemerataan anggaran dengan selalu membagi sama pada semua PTAIN tidak akan menguntungkan, jika ternyata jumlah peminat masuk tidak sama. Oleh karena itu, mengkaitkan antara jumlah peminat masuk pada masing-masing PTAIN dengan pemberian anggaran dan penyediaan fasilitas lainnya, akan meningkatkan semangat para pimpinannya untuk membesarkan kampusnya. Penentuan besarnya anggaran tidak harus hanya melihat jenis kelembagaannya, ——universitas, institut atau sekolat tinggi, melainkan pada seberapa banyak PTAIN itu melayani masyarakat. Pertimbangan lainnya, bisa dikaitkan dengan konsep, orientasi, maupun inovasi yang dilakukan. Dengan demikian, SPMB-PTAIN akan benar-benar berguna untuk mendorong pertumbuhan PTAIN secara keseluruhan, dan begitu pula akan terjadi persaingan sehat untuk meraih yang terbaik. Wallahu a’lam. Sejak dua tahun terakhir ini, penerimaan mahasiswa baru di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dilaksanakan secara bersama-sama secara nasional. Sebagai pelaksananya, UIN Mailiki Malang ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai koordinatornya. Ternyata sekalipun belum maksimal dan sempurna, hasilnya cukup menggembirakan. Di seluruh Indonesia, terdapat 52 PTAIN yang tersebar mulai dari Aceh hingga Jayapura, Papua. Di antara PTAIN itu, 6 di antaranya berbentuk universitas, 13 institut dan sisanya berbentuk sekolah tinggi. Jumlah mahasiswanya juga bervariasi, ada yang di atas 20 ribu, misalnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi juga ada yang baru tumbuh, hingga jumlahnya cukup kecil misalnya STAIN Sorong, Papua. Oleh karena keikutsertaan dalam ujian masuk secara nasional tersebut adalah bersifat wajib, maka seluruh PTAIN mengikuti seleksi nasional itu, kecuali STAIN Bangka Belitung dan STAIN Jayapura, Papua. Kedua sekolah tinggi Agama Islam tersebut, tidak ada satu pun pendaftarnya yang masuk melalui seleksi nasional. Hal itu bisa terjadi, karena informasi SPMB-PTAIN belum sampai ke masyarakat, atau oleh karena lainnya. Sejak diberlakukan kebijakan tersebut, seluruh administrasi dan managemennya telah menggunakan on line, sehingga semestinya calon pendaftar di manapun akan memanfaatkan fasilitas itu. Lewat manajemen itu, siapapun tatkala mendaftar tidak perlu hadir ke kampus, melainkan cukup datang ke bank yang ditunjuk, dan kemudian melakukan semua proses yang harus dilalui, lewat alamat website panitia pusat penerimaan mahasiswa baru. Pada tahun kedua pelaksanaan SPMB-PTAIN, jumlah pendaftar jauh meningkat dibanding tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung, peningkatan itu hingga lebih dari 100 %. Selain itu, yang agak mengejutkan, bahwa tidak semua PTAIN besar selalu diminati lebih banyak oleh calon mahasiswa baru PTAIN yang dianggap kecil. Jumlah peminat masuk ke STAIN Lohsemawe dan juga STAIN Sangsa misalnya, jauh melebihi peminat masuk ke beberapa IAIN. IAIN Lampung yang sebelumnya peminatnya diperkirakan kecil, ternyata justru lebih banyak dibanding IAIN lainnya. Beberapa STAIN di kota-kota kecil, ternyata ada yang sepi peminat, hingga tidak memenuhi kuota yang ditetapkan. Mungkin masyarakat masih mengikuti kebiasaan lama, bahwa pendaftaran harus lewat kampus. Selain itu bisa jadi, masyarakat masih belum terbiasa mencari informasi lewat internet. Mereka lebih menyukai datang ke kampus, dan meminta penjelasan dari panitia lokal, kemudian mendaftar langsung di kampus itu. Sebab, pada umumnya PTAIN, selain ikut SPMB, juga membuka pendaftaran sendiri lewat kampusnya masing-masing. Memang terasa agak aneh, panitia yang dibentuk oleh menteri agama yang bersifat nasional masih harus bersaing dengan panitia lokal di masing-masing PTAIN. Padahal jika saja, mereka tidak membuka pendaftaran, atau baru membuka setelah SPMB-PTAIN selesai, maka tidak akan terjadi persaingan itu. Padahal dengan ujian masuk bersama, maka calon mahasiswa baru di seluruh PTAIN telah melewati seleksi dengan ukuran yang sama. Data atau informasi itu sangat penting artinya bagi pengelola PTAIN yang bersangkutan dan juga bagi kementerian agama tatkala mengambil keputusan dalam melakukan pembinaan. Kebersamaan dalam penerimaan mahasiswa baru, kiranya juga penting untuk mengetahui kekuatan masing-masing PTAIN, baik terkait dengan minat masyarakat, maupun lainnya. PTAIN yang diminati oleh masyarakat dalam jumlah yang terbatas kiranya bisa dijadikan pertimbangan pemerintah dalam memberikan pembiayaan dan fasilitas lainnya. Pemerintah dalam melakukan efisiensi dan efektifitas perlu mempertimbangkan jumlah mahasiswa masing-masing PTAIN dalam menentukan anggarannya. Pemerataan anggaran dengan selalu membagi sama pada semua PTAIN tidak akan menguntungkan, jika ternyata jumlah peminat masuk tidak sama. Oleh karena itu, mengkaitkan antara jumlah peminat masuk pada masing-masing PTAIN dengan pemberian anggaran dan penyediaan fasilitas lainnya, akan meningkatkan semangat para pimpinannya untuk membesarkan kampusnya. Penentuan besarnya anggaran tidak harus hanya melihat jenis kelembagaannya, ——universitas, institut atau sekolat tinggi, melainkan pada seberapa banyak PTAIN itu melayani masyarakat. Pertimbangan lainnya, bisa dikaitkan dengan konsep, orientasi, maupun inovasi yang dilakukan. Dengan demikian, SPMB-PTAIN akan benar-benar berguna untuk mendorong pertumbuhan PTAIN secara keseluruhan, dan begitu pula akan terjadi persaingan sehat untuk meraih yang terbaik. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
