Wednesday, 20 May 2026
above article banner area

Waktu adalah Sejarah

Tahun 2010 baru saja berakhir dan meninggalkan kita untuk selamanya. Ia tidak akan pernah kembali. ia hanya ada sekali sepanjang jaman dan hanya akan hadir lagi nanti tatkala ada episode kehidupan berikutnya setelah yang sekarang ini berakhir entah kapan. Banyak kenangan di sepanjang 2010 yang menghiasi perjalanan kehidupan kita, baik yang indah dan yang pahit. Hidup kita tersusun atas mozaik masa lalu. Di antara mozaik itu ada yang indah, kelabu, cerah, ceria, lurus, terang benderang dan ada pula yang gelap, lurus, bengkok, dan berbelok-belok serta terasa pahit. Ada peristiwa yang terjadi sesuai perencanaan kita, dan ada pula yang tiba-tiba. Semuanya menyatu dalam sebuah rentetan peristiwa dan menjadi kenangan hidup.  Di antara peristiwa itu ada orang yang bisa mengambil manfaat dan pelajaran berharga darinya untuk tidak akan mengulangi lagi hal-hal yang dianggap buruk, dan meneruskan lagi yang dianggap baik. Tetapi ada pula yang melewatinya begitu saja tanpa ada makna sedikit pun yang bisa dipetik.   Waktu bukan sekadar pergeseran dari detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu, minggu  ke bulan, dan bulan ke tahun. Dengan demikian, satu tahun bukan pula sekadar hasil penjumlahan waktu  dari 12 bulan, 51 pekan, 355 hari, 8.520 jam, 511,200 menit, dan 30.672. 000 detik. Ia adalah kumpulan dari semuanya yang terus berjalan mengiringi peristiwa-peristiwa kehidupan, baik pada level individu, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara. Pada dataran individu, setiap orang tentu memiliki pengalaman,  baik mengenai peristiwa yang menyangkut dirinya mupun orang lain dan menjadi memori yang tidak mudah dilupakan. Peristiwa atau pengalaman sehari-hari yang berjalan secara rutin begitu mudah dilupakan, tetapi peristiwa monumental dan jarang terjadi biasanya menancap lama dalam ingatan pelakunya. Pada dataran kelompok juga ada peristiwa yang dilakukan bersama sebagai anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Pada dataran yang paling luas yakni warga bangsa juga terdapat memori kolektif sepanjang 2010 yang masuk ingatan kita bersama. Ada yang mengesankan , dan ada pula yang menjengkelkan. Carut marut dunia hukum dan politik kita sepanjang 2010, mulai skandal Bank Century yang tidak berujung hingga kini, vonis 18 tahun penjara bagi Mantan Ketua KPK Antasari Azhar karena terbukti terlibat pembunuhan, kekerasan agama, kasus pornografi Ariel dan artis Luna Maya, mafia hukum Gayus Tambunan, peristiwa alam berupa tanah langsor, pengadilan Mantan Kabareskrim Polri Susno Duadji, kematian TKW asal Lombok di Saudi Arabia akibat penyiksaan majikannya, banjir bandang di Wasior Papua, tsunami di Mentawai, letusan gunung Merapi yang memakan ratusan korban,  termasuk juru kuncinya, yakni Mbah Maridjan, gempa bumi, kecelakaan kereta api, tarik menarik status Gubernur DIY,  hingga kekalahan tim sepak bola nasional dari tim Malaysia dalam piala AFF (padahal sebelumnya begitu yakin akan bisa memenangi Malaysia) semuanya menghiasi perjalanan tahun 2010. Waktu adalah sejarah. Tatkala kita mendengar atau membaca kata ‘sejarah’ biasanya asosiasinya terkait dengan peristiwa masa lalu. Belajar sejarah pun dianggap hanya membuang-buang waktu belaka. Sebab, yang dipelajari adalah sesuatu yang sudah lewat. Sampai-sampai ada teman yang kebetulan belajar di Jurusan Sejarah menjadi sangat minder karena sering diolok-olok teman-temannya yang belajar di jurusan lain. ‘Biaya, waktu, dan tenaga semuanya sama dengan yang lain. Mengapa belajar sesuatu yang tidak ada gunanya’ begitu bunyi kalimat teman-temannya yang suka menggoda. Karena yang digoda belum memiliki cukup pengetahuan untuk berargumentasi, dia hanya bisa pasrah saja terhadap apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Tetapi dalam batinnya dia memendam keinginan kuat bahwa suatu saat kelak akan membuktikan betapa pentingnya belajar sejarah. Baginya, belajar sejarah merupakan impiannya sejak kecil. Suatu kali guru sejarahnya mengatakan bahwa belajar sejarah sangat berguna bagi kehidupan. ‘Bangsa yang besar adalah mereka yang mau belajar sejarah. Begitu juga orang besar adalah orang yang mau belajar sejarah, baik sejarah kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain’, begitu kalimat gurunya yang sangat membekas hingga dia benar-benar jatuh cinta pada sejarah. Begitu pentingya sejarah, sampai-sampai Bung Karno pernah berpidato dengan judul ‘Jasirah’ yang artinya jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Teman-temannya yang mengolok-olok itu tentu tidak/belum tahu makna sejarah. Benar bahwa sejarah memang mempelari sesuatu yang telah terjadi di masa lalu, tetapi sejatinya dari sejarah bisa dirancang untuk kehidupan yang akan datang. Ilmuwan sekelas Scott Gordon dalam The Philosophy of Social Sciences sampai menyatakan bahwa “It is true that history is about something in the past, and hence to study history is to study past events, but it is actually to predict the future’.  Maknanya adalah benar bahwa sejarah adalah peristiwa masa lalu dan karena itu belajar sejarah hakikatnya belajar peristiwa silam, tetapi sejatinya semua itu justru untuk memprediksi masa depan. Karena itu pula tidak mengherankan jika sekarang juga kita kenal istilah the future history. Sejarah tidak saja tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Waktu adalah sejarah. Karena itu, membuang-buang waktu tanpa berkarya dan hidup bermakna denga berbuat kebajikan berarti tidak membuat sejarah. Semua manusia merugi jika tidak mengisi waktunya dengan kebajikan. Itu sebabnya dalam Al Qur’an Allah secara khusus menegaskan betapa pentingnya waktu bagi manusia melalui surat Al ‘Ashr (masa) ayat 1-3. Inti peringatan Allah tersebut ialah manusia sungguh berada dalam keadaan yang merugi jika tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan baik atau beramal sholeh. Mengerjakan segala macam aktivitas untuk kemaslahatan orang banyak, bekerja penuh kedisiplinan, mengajak orang lain melakukan kebaikan, mengajar dengan tulus untuk memandaikan siswa, memberi santunan kepada orang-orang yang memerlukan, meringankan beban orang yang sedang tertimpa kesusahan, mengunjungi orang sakit, mendoakan kedua orangtua, berempati kepada orang yang terkena musibah, menghormati yang tua dan mengasihi yang muda, dan sebagainya adalah beberapa contoh perbuatan amal sholeh yang dapat dilakukan bersamaan dengan perputaran waktu. Karena itu, sangat merugi bagi orang yang dalam hidupnya tidak memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk beramal sholeh dan bermanfaat bagi orang lain dengan berbagai alasan. Sebab, waktu tidak akan pernah akan kembali. Kita perlu menyadari bahwa sebagai manusia kita  memiliki keterbatasan. Sebab, hidup kita tidak bisal lepas dari empat dimensi yang mengelilingi, yaitu ruang (tempat), yakni dunia, waktu (usia sebagai rentang waktu untuk beribadah), potensi diri (akal sebagai modal utama beribadah), dan pedoman hidup, yakni agama yang memberikan rambu-rambu mana yang baik dan buru, mana yang halal dan haram. Di antara empat dimensi tersebut, dimensi waktu merupakan yang paling sempit.  Usia manusia saat ini rata-rata 60-70 tahun. Kalaupun ada yang mencapai 70 hingga 80 tahun itu merupakan keistimewaan dan jumlahnya pun tidak banyak. Karena itu, orang beruntung adalah yang dapat memanfaatkan keterbatasan waktu yang dimiliki tersebut sebaik-baiknya dengan berbuat kebajikan dan senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal sholeh dan sanggup menjadikan hari ini  lebih baik daripada hari  yang telah lewat. Sayang pada level bangsa,  kita tergolong bangsa yang mudah lupa sejarah. Kita tidak suka atau tidak mau belajar sejarah. Sejarah sering kita tinggalkan begitu saja tanpa ada sedikitpun yang bisa kita petik maknanya. Padahal, kendati waktu tidak pernah kembali peristiwa yang mengiringinya akan muncul lagi kendati dalam bentuk dan wujud yang berbeda. Kehidupan berjalan secara siklus. Sekadar contoh menurut para ahli vulkanologi, gunung meletus dalam kurun waktu tertentu dan letusan berikutnya bisa diprediksi kapan terjadi. Dari dahulu kala hingga sekarang dampak yang timbul akibat letusan gunung berapi juga sama, kendati jumlahnya berbeda. Tetapi dasar kita merupakan bangsa yang tidak mau belajar sejarah, korban yang sama terus saja terulang, malah dalam jumlah yang lebih besar karena jumlah penduduk yang semakin bertambah. Kini kita memasuki 2011. Berbagai harapan, cita-cita  dan perencanaan tentu telah kita siapkan. Kita semua tentu berharap di tahun 2011  semakin sukses dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Untuk itu, mari kita belajar untuk menjadi orang yang pandai mengingat dan mengambil pelajaran berharga dari setiap perjalanan hidup kita yang telah lewat dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Semakin bertambahnya usia kita tentu semakin bertambah pula pengalaman dan peristiwa hidup yang kita lalui. Pertanyaannya akankah semuanya itu kita biarkan berlalu begitu saja tanpa kita bisa mengambil hikmah di baliknya? Pertanyaan lainnya adalah bisakah kita bersyukur atas karunia Tuhan dengan diberinya tambahan usia sehingga kita masih bisa beramal sholeh dan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada-Nya? Jawabannya berpulang kepada kita masing-masing. Tetapi saya berdoa semoga kita semua tergolong menjadi orang yang mau dan mampu belajar dari setiap detik waktu kita yang telah lewat sehingga kita tidak termasuk golongan yang merugi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ashr, ayat  1-3 sebagaimana disebutkan di muka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua di tahun 2011, dan menjadikan hidup kita semakin bermakna.  Good bye 2010 and welcome 2011. ____________ Malang, 1 Januari 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *