Monday, 16 March 2026
above article banner area

alam semesta dan tata surya

Orang telah lama ingin menerangkan tentang asal-usul terjadinya alam semesta. Orang mencatat terdapat tiga pandangan berkaitan dengan asal-usul terjadinya alam semesta. Pandangan orang Yunani kuno yang mengatakan bahwa bumi diatur oleh para Dewa, lalu disempurnakan oleh Phytagoras yang menyatakan bahwa Bumi bentuknya seperti bola tanpa ujung pangkal. Selanjutnya Aristoteles menerangkan bahwa langit berlapis-lapis. Ptolomeus mengajarkan bahwa benda-benda langit itu semua beredar mengelilingi Bumi pada ruang yang kosong.

Pandangan yang lebih maju di luar Yunani disampaikan oleh Copernicus yang menyatakan hanya bulan yang mengelilingi bumi, sedangkan planet-planet lain beredar mengelilingi matahari. Galileo Galilei dengan dibantu penemuan teleskop mendukung teori Copernicus. Sedangkan pandangan modern telah mampu menerangkan evolusi alam semesta seperti yang telah dikenal sekarang dengan menggunakan teori terjadinya tata surya.

Terdapat tiga teori yang dikemukakan orang untuk menerangkan asal usul terjadinya alam semesta, yaitu teori Keadaan Tetap, Dentuman Besar dan Osilasi.

Berdasarkan pengamatan langit dengan teliti bintang di langit jumlahnya tak terhitung. Bintang dalam keadaan berkelompok dalam jumlah yang sangat banyak sehingga dari Bumi teramati sebagai kabut bintang yang dikenal sebagai Galaksi. Galaksi di mana tata surya menjadi anggotanya disebut galaksi Bima Sakti. Selain galaksi Bima Sakti masih terdapat galaksi lain yang jumlahnya sangat banyak. Keberadaan galaksi juga didukung oleh beberapa teori tentang asal usulnya.

Bintang merupakan benda langit yang mempunyai cahaya sendiri, yang jaraknya dengan Bumi diukur dengan menggunakan cahaya (n=9,46 x 1017 cm). Bintang-bintang diberi nama menurut nama rasi di mana bintang itu berada, dan yang lebih modern dengan nomor pada suatu katalog

Untuk mengetahui sifat-sifat bintangdigunakan beberapa identitas dari bintang itu, misalnya warna bintang, cahaya bintang, terang bintang, spektrum bintang. Bintang memiliki cahaya sendiri sehingga bintang memancarkan energi seperti matahari.

Selama hidupnya bintang mengalami evolusi dengan urutan-urutan: evolusi mula-mula, evolusi dari deret utama ke tahap raksasa, evolusi setelah tahap raksasa, akhirnya hancur dan mati.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *